Bernas.id – Pada sebuah percakapan, “Sayang, mau dong dikirimkan surat cinta,” wanita ini tengah merayu kekasihnya untuk mengirimkannya surat cinta. “Masih zaman pakai surat cinta? Kenapa harus kembali ke era zaman dahulu?” jelas si pria.
Di zaman dahulu, banyak pasangan yang mengungkapkan perasaan hatinya dengan menggunakan surat atau bahkan puisi, berisikan tulisan tangan yang menyihir, yang disampaikan langsung oleh empunya atau melalui perantara seseorang maupun jasa kantor pos. Ada juga sebagian dari mereka yang menyelipkannya di sela-sela buku.
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku 2021
Menurut penjelasan di Wikipedia, ada kisah yang menceritakan pengiriman surat cinta kepada seseorang sudah dimulai sejak zaman Mesir Kuno. Surat cinta terus digunakan sampai beberapa tahun sebelum era digital dimulai.
Era digital pun dimulai, banyak sarana lain yang dapat kita gunakan untuk menggantikan peran si surat cinta, contohnya saja Short Message Service (SMS), BlackBerry Messenger (BBM), Whatsapp, layanan jejaring sosial lainnya, dengan waktu tempuh pesan terkirim jauh lebih singkat.
Penulisan pesan melalui teknologi terkini dibilang efisien dan lebih unggul, namun dari segi etika atau penghormatan terhadap pasangan atau orang yang dicintai, penggunaan surat cinta lebih romantis dibandingkan dengan menggunakan layanan dengan teknologi tinggi. “Kemajuan teknologi telah mengurangi sisi etika dan keterampilan sosial manusia,” ungkap Tiimmons, Editor dari Statenews.com (2012).
Baca juga: Bagaimana Cara Membuat Teks Persuasif Sesuai Jenis dan Strukturnya?
Sejatinya esensi tulisan tangan tidak akan punah dan masih relevan. Menulis dengan tangan, ada seninya tersendiri lo. Ada semacam sinkronisasi antara gerak tangan yang mencatat dan pikiran. Surat atau catatan berisi tulisan tangan diyakini mengandung karakter si penulisnya.
Satu hal yang disepakati umum bahwa tulisan tangan tak bisa digantikan dengan ketikan di jejaring sosial media (sosmed) atau komputer, ketika tulisan tersebut bersifat privat, misalnya saja surat cinta ini. Saat mengirim surat berisi tulisan tangan sama dengan mengirimkan tubuh ke tujuan. Itu sebabnya surat cinta sulit digantikan dengan kemajuan teknologi, istilahnya surat itu berisikan hatimu pada orang yang kamu sayangi.
Tulisan tangan memiliki gengsi tersendiri di masyarakat. Orang yang bisa menulis dipandang cendekia atau priyayi. Tradisi menulis surat dengan tulisan tangan dapat melahirkan tradisi lainnya, di antaranya seni menulis indah atau kaligrafi, seni melipat kertas surat, hingga melatih kesabaran menunggu di kantor pos.
Saat ini, teknologi internet telah menimbulkan transformasi besar dalam kehidupan manusia. Transformasi ini memunculkan budaya baru, makin terkikisnya budaya menulis surat cinta. Pesan yang dikirim di era digital bisa tiba seketika dan dibaca oleh penerima. Tidak ada lagi proses mengirim surat yang panjang, tidak perlu lagi tergantung pada jadwal pengiriman surat yang dibuat kantor pos. Birokrasi dipangkas, jarak, ruang dan waktu makin ringkas.
Terlepas dari alasan tersebut di atas, masih maukah kamu menulis surat cinta?
Baca juga: Teks Eksplanasi Adalah Kalimat Penjelasan, Benarkah? Ini Pengertian dan Ciri-cirinya!
