Bernas.id ? Israel tengah jadi sorotan dunia. Keputusan Amerika Serikat (AS) untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel menuai kecaman bertubi-tubi dunia internasional. Pasalnya langkah AS tersebut dianggap berbahaya untuk stabilitas kawasan dan perundingan damai Israel-Palestina.
Langkah AS tersebut lantas dipandang oleh pihak Israel sebagai momen yang tepat untuk mencari dukungan dari negara-negara lain. Kunjungan pun dilakukan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke kota Brussels untuk mendapat dukungan dari Uni Eropa. Menurut Netanyahu, mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel adalah pondasi bagi perdamaian.
Namun bak jauh panggang dari api, Netanyahu gagal mendapatkan sambutan positif seperti yang diharapkannya. Usai pertemuan antara Netanyahu dengan para menteri luar negeri anggota Uni Eropa, tidak ada negara anggota Uni Eropa yang bersedia mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.
?Saya sulit melihat kalau bakal ada negara lain yang melakukannya dan saya rasa tidak akan ada negara anggota Uni Eropa yang bakal melakukannya,? kata perwakilan Swedia Margot Wallstrom seperti yang dilansir oleh Reuters.
?Saya yakin adalah hal yang mustahil untuk meredakan ketegangan dengan memakai solusi sepihak,? kata Menlu Republik Ceko Lubomir Zaoralek. ?Kita bicara soal negara Israel, namun di saat yang bersamaan kita juga harus bicara soal negara Palestina.?
Kota Yerusalem mulai dikuasai sepenuhnya oleh Israel seusai Perang Enam Hari di tahun 1967. Namun dunia internasional menolak mengakui wilayah-wilayah yang berhasil didapat oleh Israel seusai perang, termasuk Yerusalem. Negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel lebih memilih untuk mengakui Tel Aviv sebagai ibukota Israel.
