Bernas.id ? Sudah lama penyakit kadar gula tinggi (istilah medis: diabetes) berada di tengah-tengah masyarakat kita. Jumlah penderitanya semakin hari kian bertambah dan muncul anggapan di masyarakat bahwa ini adalah penyakit keturunan. Benarkah demikian? Itu pertanyaan pertama.
Dengan anggapan itu adalah penyakit turunan, maka beramai-ramai mereka mencegahnya melalui konsumsi pemanis buatan pengganti gula. Agar penyakit dari orang tuanya tidak menurun kepada mereka.
Berikutnya, berdasarkan asumsi masyarakat bahwa semakin banyaknya jumlah penderita penyakit ini dikarenakan oleh anggapan bahwa penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Ditambah bahwa penyakit ini turun temurun, banyak keluarga menderita kadar gula tinggi maka akan semakin banyak diturunkan kepada anak, cucu dan cicitnya. Maka, lihatlah fenomena sekarang banyak sekali masyarakat yang terdeteksi berkadar gula darah tinggi merasa pasrah. Seakan-akan hidupnya hanya ditopang oleh tablet penurun kadar gula tinggi yang umum dijual di apotek. Pertanyaan kedua, benarkah tidak bisa disembuhkan?
Kita buka hati kita. Pertanyaan pertama, benarkah ini penyakit keturunan? Jawabnya bisa ?iya?, bisa ?tidak?. Jawaban ?Iya? jika penderita kadar gula tinggi ini mengandung janin anaknya dan secara genetika bisa menurun kepada anaknya dengan probabilitas sekian persen. Sekali lagi di sini ditegaskan, bisa menurun ketika gen ibu, yang menurun pada janinnya, ditakdirkan membawa gen rentan kadar gula tinggi.
Jawaban ?tidak?, apabila kadar gula darah tinggi diakibatkan oleh pola makan yang sama di dalam satu keluarga, ayah-ibu-anak. Pola makan tinggi karbohidrat, ditambah pola hidup nyaman, terkadang membuat orang terlena dengan situasi dan kondisi. Pola kerja yang banyak duduk, banyak makan, kebiasaan ngemil sambil kerja, ini juga menambah peluang kadar gula darah meningkat.
Apalagi jika berangkat kerja pagi pulang petang, kapan tubuh akan terkena sinar matahari dan tidak ada jadwal kapan waktunya berolahraga. Padahal justru olah raga pagi, berjalan kaki memutar komplek rumah, atau berangkat kerja menggunakan sepeda kayuh, hal tersebut dapat membakar kalori dan lemak tubuh. Sehingga resiko terkena kadar gula darah tinggi bisa diantisipasi.
Pertanyaan kedua, benarkah penderita ini tidak dapat disembuhkan? Jawabannya bisa ?iya?, bisa juga ?tidak?. Penjelasannya begini, kebanyakan penderita kadar gula tinggi ini karena kondisi resistensi insulin. Insulin yang dihasilkan oleh pankreas bisa terjadi dua kemungkinan, yaitu:
1. Jumlah produksi memadai, namun tidak berkualitas. Sehingga terjadi ketidakmampuan insulin untuk mengolah gula darah.
2. Jumlah dan kualitas insulin cukup memadai, namun jumlah yang diolah terlalu berat dan banyak karbohidratnya. Sehingga akhirnya sisa metabolisme disimpan dalam hati dalam bentuk lemak hati (fatty liver).
Kedua kondisi tersebut bisa mengakibatkan sindrom metabolik. Kondisi lain pemicu kadar gula darah tinggi, selain jumlah dan kualitas insulin, adalah adanya ketidakseimbangan asam amino dalam tubuh. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan memakan makanan tinggi protein hewani, namun tidak diimbangi dengan sayur mayur yang kaya akan zat hijau daun, serta kekurangan asupan nutrisi dari buah-buah. Sedangkan konsumsi pemanis buatan setiap hari dalam jangka panjang, justru berpeluang terhadap resistensi insulin.
Kesimpulannya, metabolisme dalam tubuh harus baik dan seimbang gizi, maka kadar gula dalam darah bisa dikendalikan secara alamiah. Makan daging selalu diiringi lalapan, makan karbohidrat selalu imbangi dengan sayur dan buah, dan olahraga teratur.
