Bernas.id ? Selama beberapa dekade terakhir, Tiongkok terus menunjukkan kemajuan pestanya di banyak bidang, tak terkecuali di bidang militer. Keberhasilan Tiongkok memiliki kapal induknya sendiri adalah contoh dari sudah seberapa jauhnya kemajuan teknologi militer yang berhasil digapai oleh Tiongkok.
Ancaman bagi kapal induk milik Tiongkok ternyata tidak datang dari senjata perang milik musuh, melainkan dari ubur-ubur. Ya, hewan laut menyerupai payung yang bagian bawahnya bertentakel tersebut.
Bukan tanpa alasan mengapa pihak Tiongkok merasa khawatir dengan hewan bertubuh lunak tersebut. Jika ubur-ubur tersedot masuk ke dalam saluran penghisap air yang ada di kapal induk, maka bangkai ubur-ubur tadi bisa menyumbat mesin penggerak kapal jika jumlahnya sudah terlampau banyak.
Penelitian khusus pun dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu metode yang tengah dijajaki oleh pihak Tiongkok untuk mengatasi masalah ubur-ubur adalah dengan menggunakan semacam jaring yang dilengkapi dengan baling-baling penghancur. Mekanismenya adalah ubur-ubur yang terperangkap selanjutnya akan dihancurkan hingga menjadi potongan-potongan kecil.
Namun metode ini bukanlah tanpa kendala. Jika potongan tentakel ubur-ubur tadi hanyut ke pantai, racun pada tentakelnya masih bisa memberikan sengatan yang menyakitkan bagi pengunjung pantai. Jika kebetulan ubur-ubur yang hancur tengah berada dalam kondisi mengandung, telur-telur yang hanyut ke laut lepas akan menghasilkan populasi ubur-ubur baru dalam jumlah yang besar.
Metode lain yang tengah dijajaki oleh tim ilmuwan di institut kelautan kota Dalian adalah dengan memompa udara ke permukaan laut supaya ubur-ubur yang ada di jalurnya terdorong ke atas. Ubur-ubur yang sudah terapung tadi kemudian dibunuh secara massal memakai pestisida. Namun metode ini juga memiliki kelemahan karena pestisida yang digunakan bisa turut meracuni hewan-hewan laut yang lain.
Wilayah perairan Tiongkok pernah beberapa kali mengalami ledakan populasi ubur-ubur. Ada beberapa pendapat mengenai kenapa fenomena tersebut bisa terjadi. Mulai dari terlalu banyaknya polusi yang mendorong bertambahnya organisme makanan ubur-ubur, hingga aktivitas perikanan berlebihan yang berdampak pada berkurangnya jumlah hewan pemangsa ubur-ubur.
