Bernas.id –
Dunia adalah kefanaan yang hakiki, sedangkan akhirat adalah kebenaran yang sesungguhnya.
Manusia akan mengalami pengembaraan panjang selama hidupnya. Saat ini, manusia sedang menikmati dunia, yang mana merupakan tipuan dan kefanaan yang hakiki. Dunia tidak lain adalah ladang manusia untuk menanam biji yang akan dipanennya kelak di akhirat. Apabila selama di dunia manusia menanam kebaikan, kelak di akhirat ia akan menikmati hasilnya. Sebaliknya, jika manusia terlalu berfoya-foya kala di dunia, kelak kesengsaraanlah yang akan dipetiknya di akhirat.
Hidup manusia di dunia sangatlah singkat. Jika waktu kita dikonversikan ke waktu akhirat, ternyata usia kita di dunia yang rata-rata 60 tahun hanyalah 1,5 jam saja di akhirat. Dunia hanyalah awal dari perjalanan kita, masih ada alam barzah, kiamat dengan segala 'yaumul'-Nya, kemudian barulah kita mencicipi akhirat.
Tetapi, masih banyak orang yang tidak menyadari kedudukan mereka di dunia. Kita diberi kesempatan untuk hidup di dunia supaya bisa menanam benih kebaikan sebanyak-banyaknya untuk dipanen di akhirat. Sayangnya, orang-orang yang tamak lebih mencintai dunia ketimbang akhirat. Mereka terlena dengan surga dunia, tanpa pernah membayangkan betapa panasnya api neraka yang tidak akan sebanding dengan surga dunia mereka.
Tak sedikit insan yang hanya mengejar harta dan kekuasaan, mereka melupakan kewajiban mereka di dunia. Mereka lebih suka menghambur-hamburkan uang mereka untuk bersenang-senang di club, bermain wanita, atau berjudi, tanpa sudi memberikan sedikit saja dari harta mereka untuk zakat dan sedekah. Sungguh manusia yang terlena oleh kenikmatan sesaat, dan merekalah yang kelak akan menangis di akhirat.
Batas antara dunia dan akhirat adalah alam barzah. Di sanalah manusia akan menanti hari kiamat setelah meninggal. Penantiannya tidak sebentar, bahkan lebih lama daripada waktu kita di dunia. Manusia yang durhaka akan menerima siksa kubur, siksa yang telah diterima bahkan sebelum menyentuh neraka.
Oleh karenanya, sebagai insan yang hanya memiliki sedikit waktu di dunia, jangan pernah kita menyia-nyiakan waktu kita. Jangan terlena oleh kefanaan dunia, jangan terpikat oleh tipuan dunia. Tujuan akhir hidup kita adalah akhirat, dunia hanyalah awal dari pengembaraan kita.
Dunia hanyalah tempat singgah kita, jangan sampai kita terlalu mencintai dunia sampai lupa dermaga akhir kehidupan kita, yaitu akhirat. Seimbangkan kehidupan di dunia dan di akhirat. Isilah celengan kita dengan kebaikan, sehingga kelak di akhirat kita tinggal menikmati jerih payah kita di dunia.
Bekerjalah seperti kita akan hidup seribu tahun lagi, namun beribadahlah seperti kita akan mati satu hari kemudian.
