Bernas.id – Profesi petani atau di bidang pertanian dan peternakan masih dipandang sebelah mata. Di Bogor, ada petani kangkung berpenghasilan Rp 97,2 juta per bulan.
Charlie Tjendapati, mantan karyawan Garuda Indonesia dan Chevron ini, menanam kangkung dengan sistem hidroponik bersama Zekky Bakhri dari Jakarta. Bermodal 700 juta rupiah, untuk membeli lahan, peralatan hidroponik dan pembibitan. Pemasukan yang didapat mencapai 100 juta per bulan.
Dengan sistem hidroponik, kangkung yang dihasilkan lebih bersih dan segar dibandingkan kangkung biasa. Charlie dan Zekky menyuplai kangkung ke sejumlah restoran seafood, hotel dan supermarket di Jakarta. Untuk memasarkannya, membutuhkan usaha lebih. Harus punya koneksi ke tempat-tempat yang mendatangkan benefit, bukan hanya dijual di pasar tradisional.
Satu kilogram kangkung terdiri atas 64 tanaman. Jika setiap lubang tanam menghasilkan 4-6 tanaman, maka untuk menghasilkan satu kilogram kangkung perlu 16 lubang tanam. Jika jumlah lubang tanam 86.400, berarti jumlah panen mencapai 5.400 kg. Dengan hitungan seperti itu, maka pendapatan per bulan mencapai 97,2 juta rupiah.
Kini, Charlie dan Zekky tidak lagi menyuplai kangkung ke restoran dan hotel. Sebab, suplai ke supermarket seperti Superindo dan Carrefour saja bisa 270 kg per hari. Tidak heran, karena kangkung sudah jadi bagian dari kehidupan orang Indonesia sehari-hari. Ternyata petani bisa sekece ini ya, kalau tahu cara memasarkan produknya. Mungkin, mahasiswa Pertanian bisa menerapkan ini di lapangan. Jadi, masih ada yang bilang jadi petani itu nggak menyenangkan?
