Bernas.id – Beberapa tahun terakhir, teknologi di dunia mengalami kemajuan pesat. Smartphone menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Interaksi di dunia maya pun meningkat pesat bahkan dikhawatirkan interaksi di dunia nyata akan semakin terkikis dengan adanya kemajuan teknologi. Setiap orang, baik tua, dewasa, maupun anak-anak pun bebas menggunakan teknologi.
Seiring perkembangan dan perjalanannya, muncullah istilah ?kids zaman now?. Istilah yang terdiri dari percampuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang secara harfiah artinya adalah anak zaman sekarang. Istilah ini didefinisikan sebagai anak-anak yang masa kecilnya sudah tersentuh, dan menikmati kemajuan teknologi.
Namun, awal kemunculan istilah ini adalah karena banyaknya fenomena anak-anak di bawah umur yang mengekspresikan dirinya melalui media sosial. Tetapi tidak sesuai dengan usia atau bahkan terkesan menyimpang. Misalnya, ketika seorang anak yang masih duduk di bangku SMP atau bahkan SD mengunggah sebuah foto bersama ?pacar? dengan caption yang terkesan berlebihan untuk anak seusia tersebut, warga net pun langsung berkomentar dengan melontarkan istilah 'kids zaman now.'
Faktanya, memang banyak postingan di media sosial oleh anak-anak di bawah umur yang benar-benar membuat warga net menggelengkan kepala. Fenomena haters yang belakangan muncul juga banyak melibatkan akun anak-anak di bawah umur yang notabene masih labil dalam menyikapi sesuatu. Kita semua pun pasti kerap sekali menemukannya. Hal tersebut muncul akibat penggunaan teknologi yang terlalu dini tanpa diimbangi pemahaman etika bermedia sosial yang benar.
Sebenarnya, generasi millenial atau 'kids zaman now' sekarang adalah generasi yang cerdas. Mereka sudah melek teknologi bahkan semenjak balita. Namun, jika tanpa pendampingan dan pendidikan yang memadai, generasi mereka akan benar-benar lekat dengan bayangan negatif dilihat dari sisi moral, etika, dan kewajaran berperilaku. Tidak semua 'kids zaman now' atau anak zaman sekarang bisa dipandang dari sisi yang negatif. Banyak juga dari mereka yang mempunyai prestasi, dan memahami dengan baik bagaimana menggunakan dan memanfaatkan teknologi dengan benar.
Lembaga pendidikan, orang tua, lingkungan, mempunyai peran penting dalam menyehatkan generasi emas sekarang demi kemajuan yang lebih besar untuk generasi yang akan datang. Kita semua sebagai masyarakat bernegara yang nasionalis, tidak boleh hanya berkomentar dan menjustifikasi sebuah fenomena tanpa berusaha memperbaiki dan memberikan sebuah solusi.
Bagaimanapun, perilaku 'kids zaman now' atau anak zaman sekarang termotivasi dari apa yang mereka lihat, dengar, dan amati. Jika yang mereka lihat, dengar, dan amati adalah hal yang positif, maka yang mereka serap adalah hal positif yang tercermin dalam perilakunya. Begitu pun sebaliknya.
Mari kita ciptakan sebuah lingkungan negara sosial yang sehat, dan mendidik untuk anak-anak generasi penerus bangsa. Karena bagaimanapun, meminjam istilah Penulis Tere Liye dalam salah satu catatannya, mendidik 'kids zaman now' adalah tugas dan tanggung jawab kita semua.
