Oleh: Margaretha Yola Arindra
Mahasiswi Semester Pertama
Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma
Banyak perempuan yang mengkhawatirkan mengenai penampilan mereka. Hal seperti ini banyak terjadi pada kalangan remaja. Baik itu berat badan, tinggi badan, bentuk tubuh, rambut, gigi, kaki, tangan, dan lainnya. Untuk mengatasi semua itu mereka melakukan banyak hal, mulai dari diet, olah raga, perawatan, bahkan sampai operasi plastik. Tak terkecuali diriku. Aku mempunyai beberapa perhatian mengenai berat badanku.
Saat SD hingga kelas 1 SMP aku mempunyai proporsi tubuh yang baik. Beratku pun hanya 40 kg. Tapi semua berubah saat aku kelas 2 SMP. Aku mengalami pertumbuhan sekunder, atau sering disebut menstruasi. Ini hanya teoriku, tapi karena menstruasi aku mulai makan lebih dari sebelumnya. Berat badanku pun naik secara drastis. Aku naik 8 kg hingga beratku hampir 50 kg.
Tentu saja, bukan hanya menstruasi penyebabnya. Saat SD aku tinggal di Surabaya. Di sana nyaris setiap hari aku bermain sepeda dengan teman-temanku. Kami bermain banyak hal, petak umpet, engklek, gobak sodor, dan lan-lain. Sehingga, aku sering menggerakkan tubuhku. Tapi setelah lulus SD dan pindah ke Jogja, aku jarang sekali berolah raga. Selain belum mempunyai teman selain teman sekolahku, tapi juga karena keadaan wilayah yang akan membuat lelah untuk bersepeda, aku pun malas untuk berolah raga. Lengkaplah sudah kedua faktor utama yang membuat berat badanku naik.
Orang-orang di sekitarku, mulai dari orang tua, teman, bahkan guru mulai mengatakan bahwa aku gemuk. Awalnya tentu saja aku tidak terima. Hingga lulus SMP aku tidak mengabaikan semua tanggapan tentang kegemukanku. Aku merasa aku masih sama seperti yang dulu. ?Memang segemuk apa sih diriku?? itu yang selalu aku pikirkan
Kemudian saat aku masuk SMA, aku mulai berpikir ulang. ?Benarkah aku gemuk?? Aku mulai mengurangi jajanku. Aku memberi batasan pada apa yang aku makan dan jumlahnya. Setiap kali akan pergi ke kantin untuk jajan, aku pasti mengingat dulu aku sudah makan apa saja. Jika sudah melebihi jatah yang seharusnya aku akan berhenti. Aku bahkan sering tidak makan siang atau makan malam. Kegiatan itu terus berlangsung untuk beberapa lama, sekitar 2 tahun. Tapi, pada akhirnya aku tak mengalami perubahan apa pun.
Aku melakukan introspeksi diri. Aku mempertanyakan diriku sendiri: mengapa beratku tidak turun? Dan bahkan tidak naik. Beratku stuck di 50 kg. Lalu aku menemukan jawabannya. Aku terlalu malas untuk memperketat dietku. Kadang jika aku menstruasi, aku akan makan banyak dengan alasan cewek menstruasi butuh makan yang banyak dan sering lapar. Pembenaran diri yang bagus, bukan? Dan tentu saja aku tahu itu salah, tapi apa daya. Hal lainnya adalah aku tidak memperhatikan pola makan dan jenis makanan yang aku konsumsi. Aku mungkin memang makan sedikit tapi tak ada manfaatnya jika makanan yang aku konsumsi mengandung kalori dan lemak yang banyak.
Orang diet pada umumnya akan mengikuti pola makan yang ia temukan dari berbagai sumber. Seperti makan salad, dada ayam, dan lain-lain. Mereka mempunyai banyak pantangan. Tapi, karena merasa belum perlu hingga seperti itu, aku pun hanya melakukan diet apa adanya. Lagi pula pola makan seperti itu memerlukan banyak biaya untuk memenuhinya. Dan aku lebih sayang uangku dari pada bentuk tubuhku.
Dan dari introspeksi itu, akhirnya aku menemukan jawaban baru. Jawabannya adalah aku tak perlu melanjutkan dietku lagi. Karena dietku sama sekali tak bermanfaat. Aku mulai menerima tubuhku apa adanya. Aku mulai makan apa saja yang aku mau selama uangku menyetujuinya. Tapi, tentu saja aku masih sadar bahwa aku tidak boleh makan terlu banyak. Aku merasa lebih bebas.
Setiap kali temanku bertanya, ?Mau ke kantin?? aku selalu mengangguk untuk menjawabnya. Bahkan aku mempunyai dua teman yang selalu sehati-sejiwa jika mengenai makan. Mereka pun mempunyai masalah masing-masing mengenai bentuk tubuh mereka. Teman yang pertama, ia terlalu kurus padahal makannya banyak sekali. Sekali makan ia akan makan dua porsi sekaligus. Tapi tubuhnya tak bertambah gemuk. Kami mengatakan bahwa ususnya terlalu pendek sehingga makanannya tak perlu dicerna. Teman yang kedua mempunyai bentuk tubuh yang sama denganku. Dan kami setuju mengatakan bahwa lemaknya bertumpuk di pipi.
Mereka berdualah yang membuatku menerima diriku apa adanya. Kami tak pernah malu untuk makan banyak. Bahkan kami sering makan mie ayam dengan cepat dan membantu teman-teman perempuan kami yang tidak habis makannya, walaupun di sana kami makan bersama banyak teman laki-laki. Kami tak perlu pura-pura menjadi perempuan yang makannya hanya sedikit. Jika lapar maka kami akan makan lagi. Kami menjadi diri kami apa adanya.
Menjadi diri sendiri memang hal yang paling melegakan. Hingga saat ini, aku tak pernah lagi mencoba diet. Aku sempat mencoba meminum air lemon setiap pagi setelah bangun tidur. Tapi itu hanya berlangsung selama tiga minggu. Dan aku tidak melanjutkannya lagi. Berat badanku pun tak pernah naik dan belum turun. Bahkan walau pun aku sibuk dengan kepanitiaan hingga sangat jarang makan dan banyak bergerak ke sana ke sini, berat badanku tidak turun. Dan sekali lagi itu membuktikan bahwa aku tak perlu lagi khawatir atau mempunyai masalah dengan berat badanku.
Keinginanku hanya satu, menghilangkan lemak di bagian lengan atas dan pahaku. Karena aku tahu aku tak mempunyai banyak lemak di bagian perut. Hanya di bagian lengan atas dan paha, itu saja. Jika orang berkata aku gemuk maka aku mempunyai dua jawaban. Pertama, aku tidak gemuk, hanya saja tulangku besar. Aku akan mengatakan itu dengan memperlihatkan pergelangan tanganku. Karena di sana bentuk tulangku akan terlihat cukup jelas. Dan orang pasti akan setuju begitu melihatnya. Kedua, aku akan dengan percaya diri mengatakan, ?Aku nggak gemuk! Cuma kurang tinggi aja.?
