JAKARTA, HarianBernas.com – Produksi uang kertas dan logam masih belum dipengaruhi oleh banyaknya penggunaan pembayaran elektronik. Hal ini dinyatakan oleh Perusahaan Umum Percetakan Uang Negara Republik Indonesia (Peruri).
“Meskipun transaksi elektronik marak, saya rasa uang kertas dan logam (Kartal) masih belum terpengaruh, bahkan kita baru saja menyepakati kontrak dengan Bank Indonesia untuk dua tahun,” kata Prasetio, selaku Direktur Utama Peruri, usai Peluncuran Identitas Baru Peruri di Karawang, Jabar, pada Kamis (28/1).
Pihak Peruri tidak akan menutup diri untuk mengembangkan sektor digital payment, yang sudah disetujui oleh Kementerian BUMN.
“Jadi hal itu disetujui melalui focus group discoussion (FGD) di kapal kelud beberapa waktu lalu bersama menteri, dengan salah satu tujuannya sebagai perusahaan BUMN ini harus mengembangkan uang digital,” tutur Prasetio.
Kolaborasi dengan perusahaan yang terkait dengan pembayaran elektronik, dan membangun sinergi dengan telkom, merupakan hal yang harus dipersiapkan untuk membangun uang digital ini. Untuk nilai, Prasetio enggan untuk menceritakan lebih lanjut.
“Ini kita sedang persiapkan, namum untuk nilainya kita belum tahu, masih kita jajaki unruk ekspansi ke e-payment dan kita juga punya anak perusahaan yang menangani digital,” ujar Dirut Peruri ini.
Ia juga tidak menyimpulkan bahwa uang elektronik lebih menguntungkan, sebab beum ada perhitungan dan uang kartal masih dibutuhkan masyarakat.
