JAKARTA, HarianBernas.com — Salah satu perekat komunitas penulis yang terhimpun dalam Asosiasi Penulis dan Inspirator Seluruh Indonesia “Aspirasi” adalah Prof Roy Sembel. Dekan yang juga pakar investasi keuangan di IPMI International Business School ini sebagai penasihat dan tuan rumah selalu didaulat menyampaikan sambutan.
Begitu pun dalam kopdar #2 yang diadakan di Kampus IPMI, Jakarta, Sabtu (16/1), Prof Roy kembali diundang ke panggung untuk menyampaikan pesan pendek. Dan sebagaimana galibnya, sambutannya selalu dinanti karena ringan dan segar.
Setelah di kopdar #1 17 November 2015 lalu ia berhasil mengocok perut peserta dengan lelucon tentang “benar dan bermanfaat”, kali ini ia menyambut dengan cerita pendek tentang percakapan anak onta dan induknya:
Anak: Kok di punggung kita ada 'punuk'?
Induk: Kita akan berjalan tanpa makanan dan minuman. Sampai tengah jalan nanti kita akan menemui oasis. Kita simpan makanan dan minuman sebanyak-banyaknya di punggung untuk bekal jalan lagi.
Anak: Oh begitu. Lalu, kenapa bulu mata kita lentik?
Induk: Ya, untuk melindungi mata kita dari debu.
Anak: Hmmm… Trus, kenapa kuku kita beda dari yang lain?
Induk: Iya, untuk memudahkan kita berjalan karena kita berjalan di padang pasir.
Anak: Tapi kenapa kita ada di Ragunan?
Ragunan adalah kebun binatang di Jakarta. Kedua onta yang mestinya hidup di padang gurun tersebut mendapati dirinya hidup bukan di tempat yang semestinya.
“Onta nggak bisa menentukan nasib. Beda dengan kita. Sebagai penulis, kita adalah co-creator. Apa kontribusi kita bagi komunitas, bangsa, dan negara?” Prof Roy Sembel melontarkan pertanyaan retoris kepada seratusan penulis dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali yang sore kemarin hadir.
