HarianBernas.com – Joged Mataram adalah sebutan bagi Tari Klasik Gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono I, pendiri Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagai seorang Raja yang Ulama, Sultan HB I mengajarkan falsafah kepribadian dalam Joged tersebut.
Seni yang berkepribadian Nusantara, khususnya Jawa, mengandung karakter keindahan (jamal) dan keagungan (jalal). Keduanya berpadu dalam koreografi yang menuntut olah nafas atau “ambegan”. Maka tari Jawa disebut juga Begsa atau Beksan dari kata aktif Ambegsa.
Ada 4 karakter khusus yang terkenal dalam ajaran Joged Mataram. Menariknya keempat karakter tadi selain berdimensi spiritual religius, juga bernilai motivasi penting dalam dunia bisnis.
1. Sawiji
Secara spiritual religius berarti konsentrasi menyatukan kehendak diri dengan kehendak Yang Maha Esa. Menguatkan kesaksian Tauhid. Seseorang yang terbiasa melakukan gerak Nyawiji, maka akan mudah melakukan fokus diri. Fokus ini adalah bagian penting dalam bisnis. Kecepatan sukses seseorang ditentukan kemampuannya untuk fokus pada karya yang digeluti.
2. Greged
Maknanya dinamis atau selalu dalam gerak. Kata “Sholih” atau Saleh dalam bahasa Arab bermakna juga amal yang bergerak semakin sempurna. Dalam bisnis, hanya orang yang selalu semangat bergerak mengikuti perubahan jamanlah yang menang. Dinamika ini memunculkan kreatifitas dan inovasi sebagai syarat pembaharuan produk dan jasa.
3. Sengguh
Artinya adalah kepercayaan diri yang dinafasi kerendahan hati. Orang beriman adalah para hamba Arrahman, atau Sang Pengasih yang selalu berjalan menundukkan kepala di muka bumi. Simbol dari keyakinan langkah dan rasa tahu diri di hadapan Sang Maha Pemberi. Dalam bisnis, orang sukses adalah mereka yang mudah bergaul dan bersinergi dengan orang lain atau teamwork. Network yang terjalin dikarenakan kebutuhan untuk saling mengisi kekurangan masing-masing dalam rangka mencapai kelebihan bersama.
4. Ora Mingkuh
Bermakna tak pernah putus asa atau berhenti mengejar cita-cita. Sudah ditegaskan bahwa putus asa dari rahmat Allah bukanlah sifat orang beriman. Dikarenakan sifat Kasih Sayang-Nya, orang beriman selalu bergairah dalam perjuangan mencapai tujuan. Para pebisnis sukses adalah mereka yang selalu bersemangat dan antusias. Kegagalan dirasakan sebagai tangga-tangga pencapaian hidup yang terus menanjak. Tidak ada kata berbalik arah dan surut disebabkan pandangannya yang selalu positif dan konstruktif menyikapi segala hal.
Budaya Mataram telah memiliki perbendaharaan ilmu kehidupan yang tinggi dan sempurna. Tidak mengherankan bahwa para leluhur Kraton Ngayogyakarta dulu menegaskan bahwa Joged Mataram bukanlah sekedar “amusement” atau hiburan biasa. Sultan HB I menciptakan Joged Mataram sebagai sarana penyempurnaan jiwa (wannafsiw wama sawwaha) demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
