HarianBernas.com ? selain menyepi di rumah selama 24 jam atau disebut dengan Sipeng, ada berbagai kegiatan yang tergabung dalam rangkaian acara untuk memperingati Tahun Baru Saka.Mengutip dari Tim Balipedia.iD 1 Comment, kita liat apa saja kegiatannya:
Upaca Melasti, mekiyis dan melis. Inti dari upacara ini adalah penyucian bhuana alit (diri kita masing-masing) dan Bhuana Agung (alam semseta). Dilakukan di sumber air suci kelembutan, campuran, patirtan dan segara. Namun yang paling banyak dilakukan adalah di segara karena dengan di segara, umat dapat sekalian melakukan nunas tirtha amerta (tirta atau air yang memberi kehidupan). Dalam Rg Weda II. 35.3. Apam natpam paritasthur apah yang berarti Air yang murni baik dan mata air maupun laut, mempunyai kekuatan yang menyusikan)
Menghaturkan bhakti/pemujaan. Dilakukan di Balai Agung atau Pura Desa di setiap desa pakraman, setalh selesai melakukan mekiyis.
Tawur Agung/ mecaru. Di setiap catus pata (perempatan) desa/pemukiman, ini merupakan lambing menjaga keselarasan atau keseimbangan. Baik itu keseimbangan buana alit, buana agung, keseimbangan Dewa, manusia Bhuta dan sekaligus mengubah kekuatan bhuta menjadi div atau dewa (nyomiang bhuta) yang diharapkan dapat menjadi kedamaian, kesejahteraan dan kerahayuan jagat (bhuana agung bhuana alit)
Ngerupuk/ mebuu-buu / ogoh-ogoh. Acara ngerupuk atau mebuu-buu dilakukan di setiap rumah tangga, fungsinya adalah untuk membersihkan lingkungan dari pengaruh bhutkala. Saat ini acara ngerupuk lebih dikenal dengan nama ogoh-ogoh (symbol bhutkala) sebagai bentuk kreativitas seni dan gelar budaya serta simbolisasi bhutkala yag akan disomyakan (walaupun terkadang sifat butanya masih tersisa dalam diri orangnya).
Nyepi /sipeng. Nyepi atau sipeng dilakukan untuk melaksanakan catur brata penyepian yaitu amati karya, amati geni, amati lelungan, dan amati lelangunan (tidak bekerja, tidak menyalakan api, tidak pergi dan tidak mengumbar nafsu / hiburan).
Ngembak Geni. Memulai dengan aktivitas baru yang didahului dengan mesima krama di lingkungan keluarga, setelah itu ke warga terdekat atau tetangga dan dalam ruang yang lebih luas diadakan acara Dharma Santi.
Yadnya. Yadnya dilakukan karena ingin mencari sebuah kebenaran. Dalam Yajur Weda XIX. 30 telah dinyatakan: Pretena diksamapnoti, diksaya apnoti daksina. Daksina sradham apnoti, sraddhaya satyam apyate. Yang berarti: melalui pengabdian/yadnya kita memperoleh kesucian, dengan kesucian kita mendapat kemuliaan. Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan, dan dengan kehormatan kita memperoleh kebenaran.
Sebenarnya seluruh rangkaian Nyepi dalam rangka merayakan pergantian tahun baru Saka adalah sebuah dialog spiritual oleh umt Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan). Harapannya agar kehidupan ini berjalan selalu seimbang, harmonis dan sejahtera serta damai.
-1024x680.jpg)