HarianBernas.com – “Nyepi” atau menyepi sejatinya adalah aktivitas spiritual religius universal bagi para pencari kesucian dan kebenaran. Sebuah jalan mutlak bagi para salikin atau musafir di jalan Tuhan. Suasana heneng hening serta pengasingan diri dari segala pikiran dan keinginan sesaat guna meraih bisikan ruhani yang benar. Para leluhur raja Mataram melakoni “nyepi” sebagai ritual khusus, bahkan Panembahan Senopati menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam serat Wedhatama pupuh Sinom 1-3 disebutkan:
“Nulada laku utama, tumrape wong Tanah Jawi, Wong Agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati, kepati amarsudi, sudane hawa lan nepsu, pinesu tapa brata, tanapi ing siyang ratri, amamangun karenak tyasing sesama. Samangsane pesamuan, mamangun martana martani, sinambi ing saben mangsa, kala kalaning asepi, lelana teki-teki, nggayuh geyonganing kayun, kayungyun eninging tyas, sanityasa pinrihatin, puguh panggah cegah dhahar, lawan nendra. Saben nendra saking wisma, lelana laladan sepi, ngisep sepuhing supana, mrih pana pranaweng kapti, titising tyas marsudi, mardawaning budya tulus, mese reh kasudarman, neng tepining jala nidhi, sruning brata kataman wahyu dyatmika”
Secara garis besar diterangkan bagi orang Jawa khususnya agar meneladani perilaku pribadi agung Panembahan Senopati. Pendiri kerajaan Mataram Islam ini selalu berjuang mengendalikan hawa nafsunya dan menyepikan diri (tanapi) dari ego untuk membangun hubungan sosial yang harmonis. Selain berperan aktif memimpin ummat, Panembahan juga meluangkan waktu untuk mengasingkan diri (kala kalaning asepi) dari masyarakat dalam rangka meraih tujuan hidup sejati.
Melalui ritual “asepi” tadi Panembahan Senopati melakukan puasa. Yakni tidak makan, minum dan tidur. Suasana “sepi” dimaknai sebagai “ngisep sepuhing supana” atau menyelami kedalaman batin dan kedewasaan pikir. Mengasah ketajaman nalar dan keikhlasan demi menegakkan darma bakti dalam samudra kehidupan yang diterangi olah wahyu bimbingan Ilahi.
Di tengah situasi dunia yang dipenuhi “chaos” atau kekacauan moral dan penyimpangan makna agama ini, kegiatan “Nyepi” menjadi semakin vital dan dibutuhkan umat manusia. Hanya dengan “lelana laladan sepi” atau pengalaman perjalanan batin yang mengasingkan diri dari sifat duniawi dan materi, manusia bisa kembali selamat mengenal jati dirinya dan menemukan kedamaian abadi.
