HarianBernas.com – Sarana yang digunakan sebuah karya fiksi adalah tulisan. Untuk itu, tulisanmu harus mampu berbicara dengan pembaca sehingga proses re-write seolah menjadi salah satu menu penutup wajib untuk tulisanmu.
Dalam tweetnya di tanggal (13/2/13), @deelestari mengungkapkan re-write lebih seperti menata ulang, memoles, mempertajam. Ibarat bangun rumah, itu tahap finishing. Kalau ada yang dibongkar tidak terlalu ekstrem.
Biasanya, re-write tidak mengubah drastis jalan cerita. Berdamailah dengan ketidaksempurnaan atau bikin cerita baru.
Baca juga: Teks Eksplanasi Adalah Kalimat Penjelasan, Benarkah? Ini Pengertian dan Ciri-cirinya!
Dalam tweet-nya, Dewi Lestari pernah menyinggung tentang re-write:
Rewrite lebih seperti menata ulang, memoles, mempertajam. Ibarat bangun rumah, itu tahap finishing. Kalau ada yang dibongkar, tidak terlalu ekstrem.
Setelah selesai menulis, kamu biarkan dahulu naskah novel atau tulisan cerita pendekmu untuk terendap sementara waktu. Tujuannya adalah agar kamu memiliki jarak dengan tulisanmu itu, sebab ketika baru saja selesai menulis, pikiran kamu tentu akan masih mengganggap tulisan ceritamu itu paling bagus sedunia.
Biasanya, setelah terendap satu minggu atau sebulan, ketika kamu baca ulang, akan ditemukan kesalahan-kesalahan dalam tulisan ceritamu, entah itu tanda bacanya atau dialognya kurang menarik, dll.
Percayalah tak ada yang sempurna dengan sekali tulis. Proses menulis itu adalah sebuah proses.
Untuk mencari sesuatu yang kurang pas dengan tulisan ceritamu, kamu bisa meminta beberapa teman yang kamu anggap memiliki potensi dan netral untuk membacanya.
Seperti dikutip dari Antara.news.com, menurut Fira Basuki, sebaiknya penulis pemula menghindari meminta saran dari orang-orang dekat karena pendapat mereka cenderung tidak obyektif. Cari masukan dari orang yang netral.
Kalau tulisan sudah selesai, Fira berpesan agar penulis tidak merasa sudah membuat tulisan bagus dulu. “Jangan berharap tulisan itu paling bagus sedunia,” katanya.
Ketika membaca ulang ceritamu dan telah mendapat masukan dari orang yang kamu percaya, inilah saatnya re-write harus dilakukan. Re-write ini berdasarkan versi dari penulis senior, Dewi Lestari.
Semoga, cukup membantu kamu yang ingin serius menulis cerita/fiksi. Setidaknya, juga memberikan semacam gambaran yang harus dilakukan ketika selesai menulis ceritamu.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
Menata Ulang
Coba kamu rasakan lagi tentang apakah ada hal yang harus ditata ulang lagi agar ceritamu terlihat manis dan pas, misal apakah kalimat per kalimat dalam narasi atau dialog antartokohmu sudah berada pada porsinya yang seimbang dan telah membangun ceritamu atau malah membosankan ceritamu?
Lalu, apakah dialog-dialog ceritamu sudah sesuai dengan karakter tokohmu atau sudah membangun konflik cerita?
Jika penulisnya saja merasa bosan dan merasa tak ada yang istimewa dengan ceritanya, tentu harus dilakukan penataan ulang ceritamu. Kamu harus mampu menuliskan ceritamu dengan baik agar pembacamu terseret ceritamu.
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku 2021
Memoles
Setelah menata ulang bagian-bagian ceritamu yang kurang tepat, kamu harus memoles ceritamu. Kegiatan memoles tentu hanya mempercantik dari apa yang sudah ada seperti seorang tukang yang memoles pelitur pada sebuah furnitur.
Banyak hal yang bisa dilakukan saat memoles cerita, misal bab awal atau banyak bab berikutnya yang masih kurang terasa nendang. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencoba meneliti kalimat yang kamu gunakan dalam narasi.
Jika menemukan kalimat yang panjang-panjang, coba kamu variasikan dengan kalimat pendek-pendek. Esensi sebuah kalimat adalah subjek-predikat dan boleh hanya terdiri dari predikat sehingga sah kalimatmu itu.
Pikirkan lagi unsur-unsur diksi atau sisi puitiknya, apakah sudah tepat membangun suasana ceritamu. Jika belum tepat, perkaya lagi kosakatamu.
Yang kedua, perhatikan dan rasakan percakapan antartokohmu, apakah lurus-lurus saja atau dingin-dingin saja. Nah, kamu harus mulai memoles dialognya agar pembacamu terseret ceritamu.
Perkaya kalimat sambung setelah dialog yang menjelaskan ekspresi tokohmu atau menjelaskan perubahan situasi.
Baca juga: Mengenal Pengertian dan Ciri-ciri Komik sebagai Karya Sastra
Mempertajam
Setelah memoles berbagai hal yang masih kurang pas dengan ceritamu, kini kamu harus mengeksplorasi lagi ceritamu untuk menemukan bagian-bagian ceritamu yang masih kurang nendang.
Misal, mempertajam lagi karakter tokoh-tokohmu, mempertajam lagi latar yang kamu gunakan dalam ceritamu, apakah kurang detil dan membangun ceritamu, lalu mempertajam konflik agar lebih mengaduk-aduk perasaan pembacamu, dan mempertajam lagi alur ceritamu agar tak berjalan membosankan. Bongkarlah yang perlu dibongkar agar ceritamu bagus.
Baca juga: Interpretasi : Pengertian, Tujuan, dan Macam-macamnya
Saran
Perbanyaklah membaca karya fiksi dari penulis-penulis kenamaan. Perhatikan bagaimana penulis itu menyusun dialog, menarasikan cerita, dan meramu konflik, alur, penokohan, latar, dll.
Setiap penulis pasti memiliki karakter unik, sebab sebuah cerita seperti sidik jari yang ditinggalkan seorang penulis. Seringlah main ke toko buku, pelajarilah tulisan para penulis-penulis terkenal dari berbagai penerbit yang ada.
Setidaknya akan menambah pengetahuan menulismu. Ingatlah, menulis merupakan sebuah proses yang membutuhkan kerja keras. Selamat menulis!
Baca juga: Mengenal Teks Berita, Ciri-ciri, Jenis, dan Contoh Penulisannya
