HarianBernas.com ? Salah satu bagian yang romantis dari film “Ada Apa Dengan Cinta 2” adalah ketika Rangga mengajak Cinta mendatangi berbagai tempat eksotis di sekitar Yogyakarta. Salah satunya adalah Gereja Ayam yang berada tak terlalu jauh dari Candi Borobudur.
Dalam adegan film AADC 2, dikisahkan Rangga mengajak Cinta ke Bukit Punthuk Setumbu lewat tengah malam. Saat dibawa ke lokasi di perbukitan yang gelap ini, Cinta kebingungan dengan apa yang diinginkan Rangga.
“Kenapa sih kamu bawa aku ke sini?” tanya Cinta sembari memandang Rangga.
“Sebentar lagi Subuh. Nanti kamu lihat,” balas Rangga sembari terus menatap wajah Cinta.
Keduanya lalu menikmati sunrise di kawasan Gereja Ayam tersebut.
Bangunan Gereja Ayam berada di kawasan Kembanglimus, Desa Gombong, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Untuk sampai ke bangunan ini kita harus menyusuri jalan setapak menuju Bukit Menoreh.
Banyak orang menyebut bangunan ini sebagai Gereja Ayam karena bentuk bangunannya sekilas mirip seekor ayam lengkap dengan ekor dan kepalanya. Masyarakat kampung setempat dan sekitarnya menyebut Banyak Angrem (Angsa Mengeram). Ini karena postur tubuhnya yang panjang mirip angsa. Padahal, aslinya bangunan itu dibuat meniru bentuk seekor burung merpati.
Dilihat dari foto hasil jepretan udara, Gereja Ayam memang tampak menyerupai burung raksasa yang sedang berada di tengah hutan. Di sekitarnya terlihat banyak pepohonan rindang dan belukar yang banyak.
Bangunan ini sesungguhnya bukanlah gereja, lebih sebagai rumah doa bagi siapa saja dari latar belakang manapun. Bangunan ini sebenarnya dibangun tahun 90-an, namun karena pemiliknya kehabisan dana, maka tahun 2000 pembangunan tidak diteruskan.
Tiket masuk seharga Rp 5.000 diterapkan bagi setiap pengunjung yang berniat menjelajahi bagian dalam Gereja Ayam, termasuk memanjat ke bagian puncak menaranya. Di dalam Gereja Ayam sendiri terdapat sebuah aula berukuran sangat besar dan tidak diisi oleh perabot apa pun.
Gereja Ayam sempat terabaikan dan menjadi kumuh karena pemilik bangunan, Daniel Alamsjah, kehabisan dana untuk menyelesaikan bangunan ini pada tahun 2000. Dikisahkan, Daniel mendirikan bangunan ini karena mendapat mimpi untuk mendirikan bangunan doa di atas sebuah bukit. Ia lalu membeli tanah di Bukit Menoreh dan mulai mewujudkan impian tersebut.
Namun kendala dana hingga Rp 2 miliar akhirnya menghentikan pembangunan bangunan ini. Walau demikian, bangunan ini sempat difungsikan menjadin tempat rehabilitasi para pencandu narkoba.
Setelah bangunan ini terkenal, warga setempat kemudian membuat akses jalan yang dibeton menuju ke lokasi bangunan. Di situ terdapat lokasi parkir, yang dipadati oleh para penjual minuman dan makanan. Jadi pengunjung tak perlu khawatir bakal kelaparan atau kehausan.
Momen subuh adalah saat-saat yang paling ditunggu pengunjung, karena mereka bisa menikmati matahari terbit. dari puncak menara gereja. Pemandangan di sekitar Bukit Menoreh akan menjadi sajian visual yang memanjakan mata wisatawan. Sawah yang terbentang di kejauhan, beberapa perbukitan yang berjajar, serta Candi Borobudur yang terlihat anggun di kejauhan adalah keelokan yang bisa dinikmati di sini.
Pengunjung dapat menyaksikan Punthuk Setumbu, bukit tempat untuk menyaksikan sunrise lain di kawasan Candi Borobudur. Bukit Barede spot baru untuk menyaksikan sunrise yang ada di sekitar Borobudur juga bisa dilihat dari mahkota kepala ayam.
Yang menarik, Candi Borobudur terlihat lebih dekat dari Gereja Ayam ini, dibandingkan dari Punthuk Setumbu maupun Bukit Barede. Menyingsingnya matahari juga terlihat lebih jelas dari sini dibandingkan dari kedua spot tersebut.
Tak kalah penting, pengunjung yang berpasang-pasangan bisa melakukan napak tilas kisah fiktif Rangga dan Cinta, sambil berharap kisah cinta mereka akan seromantis dua sejoli di film Ada Apa Dengan Cinta itu.
