HarianBernas.com – Malam ini saya bersama keluarga menyeberang ke Pulau Bali menggunakan kapal feri, kali ini saya melakukan kunjungan kerja namun ditemani istri dan anak-anak. Cukup melelahkan perjalanan dari Yogyakarta ke Bali lewat jalan darat, akan tetapi semua sudah kami sepakati sebelumnya.
Pada saat memasuki pintu gerbang penyeberangan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, kekawatiran sedikit muncul karena beberapa bulan lalu terjadi kecelakaan kapal. Saya hanya bisa berdoa agar semua selamat sampai tujuan. Mobil telah diparkir dan kami naik ke ruang tunggu penumpang di lantai atas, dari atas tampak terlihat ombak begitu besar menggoyang kapal yang besar ini, sempat terpikirkan bagaimana kapal ini bisa jalan stabil menghadapi terpaan ombak yang begitu besar ini.
Tidak ingin kehilangan momentum, saya dan anak kami yg paling besar segera mencari tahu ruangan nahkoda untuk sekedar bertanya dan ingin tahu bagaimana cara mengemudikan kapal besar ini di tengah ombak yang jauh lebih besar ini. Ketika kami sampai di ruang nahkoda, kami menemukan bahwa ruangan itu tidak terlalu besar dengan alat kemudi seperti setir mobil berdiameter kurang dari 50cm dan beberapa tombol pengatur saja. kemudian kami mencoba melakukan wawancara singkat kepada kepala nahkoda sebagai berikut :
“Apakah kapal ini dikemudikan dari ruangan sekecil ini?” tanya saya.
“Iya benar,” jawab kepala nahkoda tersebut.
“Ombak Selat Bali ini memang cukup besar tapi semua bisa di kendalikan degan kemudi sekecil ini, semua karena teknologi yang terus berkembang. Jaman dahulu dibutuhkan banyak orang untuk membelokan kapal sebesar ini tapi sekarang semua ada dikemudi ini, tinggal saya gerakkan tangan kiri saya saja kapal ini akan belok dan ombak besar pun akan bisa di atasi,” tambah kepala nahkoda tersebut.
Kemudian kami kembali ke atas untuk melihat besarnya ombak dan memang sunggguh besar sampai kapal besar ini bergoyang hebat, tapi walau bergoyang kapal besar ini tetap bisa jalan sesuai tujuannya yaitu Pelabuhan Gilimanuk Bali atas arahan dan alat kemudi kapal di ruangan bawah tadi.
Seperti yang kita semua sudah tahu bahwa MEA atau Masyarakat Ekonomi Asean di tahun 2016 ini cukup menantang, sehingga jika kita tidak bisa mengendalikan maka kita akan tersingkir. Beberapa media memberitakan bahwa banyak orang dari Tiongkok, Vietnam, Myanmar, dan beberapa negara Asia lain sudah mulai masuk dan merambah dunia kerja di Indonesia. Malam ini saya mendapatkan beberapa hal yang bisa kita renungkan dari perjalanan saya ke Bali malam ini:
1. Fokus pada Tujuan Awal yang Telah Kita Bangun
Seberapa besar tantangan yang ada di depan kita kita harus tetap fokus kepada tujuan yang telah kita tentukan semula. Kita harus tahu kemana kita akan menuju, seperti kapal feri ini bisa sampai tujuan yaitu Gilimanuk, Bali.
2. Kembangkan Ilmu Pengetahuan Kita
Ombak memang besar,tapi kapal feri tetap bisa sampai kepada tujuan hanya dikemudikan dari ruangan kecil yang canggih, yang modern, kita harus terus belajar hal-hal baru, terbuka dengan ide-ide atau tren pasar yang baru sehingga walau banyak pesaing yang muncul dan ancaman ombak yang akan menggoyang kita pun bisa kendalikan.
3. Berani Gagal dan Coba Lagi
Ketika saya melihat ombak yang begitu besar di tengah-tengah Selat Bali, juga mesin-mesin kapal yang berbunyi saya yakin semua awak kapal di sini pasti berani jika setiap saat terjadi sesuatu, misalnya kapal karam atau mesin mati di tengah lautan. Mereka memiliki jiwa pemberani sehingga bisa sampai tujuan mengantar semua penumpang dengan selamat.
Begitu kapal disandarkan, mobil kami pun segera diatur untuk keluar satu persatu dengan rapi dan kami bisa selamat sampai di Pulau Bali sesuai waktu yang kami harapkan.
Saya mengajak kepada semua masyarakat untuk bisa melewati tantangan MEA di tahun 2016 ini dengan baik.
Salam sukses,
Alit Nurwanto
GM Hotel Grand Zuri Malioboro Yogyakarta
