HarianBernas.com – Sebagai manusia, kita sering dihadapkan pada situasi yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Sering pula mengalami masa suram dalam aspek kehidupan. Masalah selalu datang silih berganti, bahkan dalam kurun waktu yang hampir bersamaan. Seakan-akan masalah ?menjelma? menjadi sebuah magnet yang menarik semua masalah. Akhirnya, kita sering merasa kehidupan ini penuh dengan penderitaan.
Secara alamiah orang ingin tidak bermasalah dalam hidupnya, ingin selalu sukses dan bahagia. Sukses memiliki perbedaan arti dengan bahagia. Sukses berarti kita telah mendapatkan apa yang kita inginkan, sedangkan bahagia berarti kita dapat menikmati apapun yang kita dapatkan dari usaha kita (Rahutomo, 2009). Orang yang bahagia belum tentu sukses. Ada sebagian orang yang mendapatkan keduanya. Ada pula sebagian orang yang hanya mendapatkan salah satunya saja.
Seperti sebuah gembok, ada kunci untuk membukanya. Begitu pula, ada kunci untuk meraih kesuksesan. Ada pula kunci untuk meraih kebahagiaan. Jika kita menginginkan keduanya, hanya diperlukan satu kunci yaitu perubahan. Perubahan di sini, berkaitan dengan pikiran dan emosi/perasaan. Kita harus dapat mengubah pikiran dan perasaan kita. Pikiran akan membentuk perasaan kita. Perasaan kita akan membentuk keputusan kita. Keputusan kita akan membentuk tindakan kita. Tindakan kita akan membentuk kebiasaan kita. Kebiasaan akan membentuk karakter kita. Karakter kita akan membentuk nasib kita (Gandhi, 1950). Dengan demikian, mengubah nasib harus diawali dengan mengubah pikiran dan emosi kita.
Dunia di luar diri kita adalah refleksi atau cermin dari dunia di dalam diri kita. Dunia di dalam diri kita yaitu pikiran merupakan cetak biru kehidupan kita (Peale, 1996). Melalui dunia luar tersebut kita dapat mengetahui apakah dunia di dalam diri kita baik-baik saja atau perlu secepatnya kita perbaiki. Banyak orang yang keliru, berharap kehidupan mereka berubah dulu baru kemudian mereka mengubah pikiran dan emosi mereka ke arah yang positif.
Ibaratnya, ketika kita berkaca di sebuah cermin, kita berharap bayangan diri kita di dalam cermin berpakaian rapi dulu baru kita merapikan pakaian kita. Itu merupakan cara berpikir yang keliru. Seharusnya, pakaian kita harus dirapikan dulu baru bayangan diri kita di dalam cermin akan berubah. Hal ini memberikan petunjuk kepada kita bahwa hendaknya kita membayangkan dulu hal-hal yang positif, maka kehidupan kita akan berubah menjadi positif, menyenangkan, dan penuh dengan keberuntungan.
Jadi, mengubah pikiran dan emosi merupakan kunci utama untuk mengubah alur kehidupan kita ke arah yang lebih baik. Pikiran dan emosi sangat mudah berubah. Mengubah pikiran dan emosi tidaklah sulit. Hanya saja, itu membutuhkan komitmen yang tinggi dan keterampilan yang harus dipelajari serta dibiasakan.
Emosi atau perasaan kita adalah hasil dari pikiran kita dan kondisi fisik kita. Pikiran, emosi, dan tubuh semua berpusat pada spirit. Jika kita ingin mengarahkan emosi kita, maka kita harus mengarahkan pikiran kita atau kondisi fisik atau spirit kita atau ketiganya. Agar tetap bisa menjaga pikiran dan emosi salah satunya adalah dengan cara bergaul dengan orang-orang yang positif dan melakukan tindakan-tindakan yang positif.
Ada suatu metode yang dapat mengarahkan dan menjaga spirit, emosi, pikiran, dan kondisi fisik kita sekaligus. Metode tersebut adalah meditasi. Dalam meditasi aliran nafas kita sangat dalam dan sangat teratur. Semua komponen diri kita, yaitu spirit, pikiran, emosi, dan tubuh diistirahatkan (Elfikry, 2011). Seluruh energi dipusatkan pada satu titik tunggal yaitu Tuhan. Salah satu efeknya adalah tercapainya sebuah ketenangan batin yang luar biasa. Di tengah ketenangan batin, spirit, pikiran, emosi, dan fisik kita menjadi harmonis. Hal ini berdampak positif pada kehidupan kita.
Meditasi adalah metode untuk mengelola pikiran dan emosi yang paling baik karena berbasis pada kecerdasan tinggi yaitu kecerdasan spiritual. Kita dapat mendeteksi perubahan dimensi internal dan eksternal. Perubahan dimensi internal adalah perubahan yang terjadi pada diri kita yang tercermin dari cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertingkah laku. Beberapa indikasinya, yaitu mampu mengamati pikiran dan emosi diri sendiri, mampu meyakinkan diri sendiri dan orang lain, tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif, dan lain sebagainya.
