HarianBernas.com – Ketika kita mengalami masalah yang amat sulit dan menyusahkan, ada satu prinsip yang harus diterapkan yaitu jangan pernah berhenti dan menyerah. Menyerah sama dengan mengundang kekalahan total dan cenderung mengembangkan psikologi kekalahan. Kita harus menghadapi masalah sampai menemukan kunci dari masalah yang kita hadapi. Kunci itu selalu ada, jika kita terus mencarinya dengan usaha yang terus-menerus dan bijaksana. Yakinlah bahwa setiap masalah pasti ada solusinya. Setiap kejadian pasti ada alasannya kenapa itu mesti terjadi.
Untuk mengembangkan sikap tak terkalahkan dan tidak mau menyerah ini, jangan pernah berpikir dan berbicara soal kekalahan. Jika kita berpikir dan berbicara, maka kita sebenarnya menyuruh diri kita untuk menerima kekalahan.
Ada sebuah cerita, ketika Norman Vincent Peale mengalami kesulitan, seseorang di West Coast menelponnya dan mengatakan agar ia jangan khawatir dan jangan menyerah, sebab ia memiliki berita baik untuk Norman. Tapi, sebelum Norman dapat bertanya kepada orang itu, orang tersebut sudah meletakkan gagang teleponnya. Tiba-tiba Norman menyadari, ia harus berkata yang baik, kata-kata seperti harapan, kepercayaan, iman, dan kemenangan. Norman berprinsip ?Saya pasti bisa bila saya berpikir bisa? (Peale, 1996). Berawal dari sebuah prinsip yang positif, seluruh kepribadian kita akan mulai meraih hal-hal yang baik.
Suatu masalah yang tiba-tiba harus kita hadapi mengilustrasikan bahwa acap kali suatu situasi yang mungkin tampak sama sekali tidak memberikan harapan, ternyata bisa teratasi jika kita terus berharap dan terus berusaha. Suatu ketika, Norman akan berangkat untuk memberikan ceramah di Phoenix. Akan tetapi, di hari ia akan terbang dari Holland Michigan ke Phoenix, dikabarkan tidak ada pesawat yang terbang ke luar hari itu. Kemudian, Norman duduk dan berpikir positif dan berangkat menuju bandara dan berharap kabut akan hilang sesampainya di bandara.
Sesampainya di bandara, ribuan orang berbaur. Tiba-tiba seorang petugas perusahaan penerbangan menghampirinya dan mengatakan bahwa perusahaannya tidak menerbangkan pesawat hari itu. Petugas kemudian pergi meninggalkan Norman. Setelah petugas itu pergi selama setengah jam, ia kembali lagi dan berkata bahwa perusahaan penerbangan lain, menerbangkan satu pesawat dan Norman mendapatkan satu tempat duduk karena seseorang membatalkan penerbangannya. Norman tiba di Phoenix 45 menit sebelum ia dijadwalkan untuk memberikan ceramah.
Ketika semua berjalan keliru, itulah waktu yang tepat untuk mempraktikkan keyakinan serta mental yang positif bahwa kita tetap dapat mencapai sasaran asalkan kita tekun. Jika kita berpikir bahwa sudah tidak ada harapan lagi, maka keadaan pikiran kita akan benar-benar menarik kesulitan yang akan mengalahkan diri kita. Sebagai gantinya, tetaplah berpikiran bahwa kondisi akan berubah menguntungkan kita dan akan berjalan terus. Orang yang terus maju di dunia ini adalah orang yang bangkit dan mencari keadaan yang mereka kehendaki (Peale, 2011). Itu adalah sikap yang menghasilkan keajaiban dalam menangani suatu masalah.
Ada beberapa gagasan mengenai prinsip-prinsip penting dalam menangani masalah yaitu sebagai berikut (Peale, 1996).
Prinsip 1: Sewaktu mengangani masalah, hal nomor satu adalah jangan pernah berhenti menyerang masalah tersebut. Selalu gunakan prinsip ketekunan.
Prinsip 2: Kita dapat mengatasi ?gunung besar? kesulitan dengan berpikir melebihi tinggi ?gunung? tersebut.
Prinsip 3: Gunakan motto ?Jangan terlalu cepat menyerah?. Teruslah berusaha.
Prinsip 4: Gunakan kata-kata yang bersemangat. Jangan pernah berbicara merendahkan diri.
Prinsip 5: Kerja keras akan membawa kemenangan.
Prinsip 6: Belajar mengenali diri kita sendiri.
Prinsip 7: Jika pada mulanya kita tidak berhasil, coba, coba, dan coba lagi.
Prinsip 8: Jangan biarkan keadaan mengalahkan kita. Kita pasti bisa jika kita berpikir bisa.
Prinsip 9: Teruslah berusaha karena kita pasti berhasil. Teruslah maju, hasilnya pasti baik.
Prinsip 10: Tuhan selalu memberkati kita sepanjang jalan.
Prinsip 11: Setiap masalah mengandung benih pemecahannya sendiri.
Hampir setiap orang mengasumsikan bahwa masalah itu buruk. Sementara sebaliknya, suatu masalah mungkin dan biasanya memang baik. Masalah sesungguhnya adalah tanda kehidupan. Semakin banyak masalah yang kita miliki, semakin hiduplah kita. Orang yang mempunyai sepuluh masalah besar yang sulit, berarti dua kali lebih hidup dibandingkan dengan orang yang apatis, menderita, dan malang yang hanya mempunyai lima masalah (Gunadi, 2010a). Jika kita tidak mempunyai masalah sama sekali, itu berarti berada dalam masalah besar karena Tuhan tidak mempercayai kita.
Seseorang dapat belajar banyak sekali mengenai keadaan kesehatan mentalnya yang normal dengan memperlihatkan reaksinya terhadap masalah. Jika reaksi tersebut berupa rengekan dan keluhan, maka sudah tentu orang tersebut memerlukan pertolongan. Namun, jika ia dengan tenang menerima masalah sebagai bagian dari pola kehidupan dan berpikir bahwa barangkali masalah ini dapat berubah menjadi keuntungan baginya serta ia yakin ia sanggup mengatasinya, maka kondisi mental yang sehat akan tampak. Jika kita sadar akan akar masalah kita, maka kita sudah mengambil langkah panjang ke arah penanganan masalah tersebut.
Hampir setiap masalah akan menyerah pada kecakapan, pengetahuan, dan pengertian. Masalah akan berubah menjadi sulit jika kita tidak memeriksanya. Intelegensi manusia adalah faktor yang kuat dalam mempelajari dan menganalisis setiap masalah, hingga masalah tersebut ditata secara teratur untuk diselidiki dan diputuskan. Berpikir adalah kemampuan kita yang paling hebat. Dengan berpikir, kita memiliki kebiasaan atas semua kondisi dan keadaan dan atas masalah apa pun betapa pun sulitnya. Kita bisa, kalau kita berpikir kita bisa. Namun, biasanya jika suatu masalah menyerang, orang cenderung bereaksi secara emosional dan bukan berpikir. Semua jawaban dari masalah kita sesungguhnya ada dipikiran kita sendiri, tetapi terkadang jawaban tersebut terhambat karena reaksi emosi kita yang kuat, bahkan panik.
Selama ini, terkubur jauh di dalam pikiran alam bawah sadar, suatu proses pemecahan masalah. Gagasan untuk mengatasi situasi berusaha mengapung ke permukaan. Pikiran kita selalu ingin membantu memecahkan masalah yang tengah kita hadapi. Akan tetapi panik, histeria, bahkan emosi yang relatif ringan membuat permukaan pikiran tetap berada dalam keadaan terganggu, sehingga tidak mungkin wawasan besar muncul dari tingkat kesadaran yang lebih dalam.
I Gede Astawan, Penulis Buku Jalan Spiritual Menuju Hidup Kebahagiaan
Email: astawan@undiksha.ac.id
