HarianBernas.com – Tahun depan daerah propinsi dan kota/kabupaten di negeri ini sedang menanti para pemimpin daerahnya melalui seleksi Pilkada serentak. Asa dan keinginan pun kini digantungkan rakyat pada proses pilkada serentak agar melahirkan pemimpin daerah yang dekat dan dicintai rakyatnya. Republik ini perlu para pemimpin daerah yang mendorong yang macet.
Membongkar yang buntu. Memangkas yang berbenalu. Pemimpin daerah yang tanggap memutuskan, cepat bertindak dan tidak toleran pada keterlambatan. Pemimpin daerah yang siap untuk ?lecet-lecet?, melawan hal-hal yang merugikan rakyat, berani bertarung untuk melunasi tiap janjinya. Pemimpin daerah yang mempesona bukan saja saat dilihat dari jauh. Tapi pemimpin yang justru lebih mempesona dari dekat dan saat kerja bersama.
Dalam perbincangan dengan Himendra teman diskusi penulis di kampus, dia mengatakan untuk bisa menjawab fenomena yang dijelaskan diatas maka para pemimpin daerah harus bisa ?on call? oleh rakyatnya. On call dalam hal ini mengandung makna pemimpin daerah harus selalu siap dihubungi oleh rakyat kapanpun, dimanpun dan dalam keadaan apapun. Ini berarti pemimpin daerah harus dekat dan menyatu kepada rakyat dengan cara membuka semua akses komunikasi dan tanpa jarak dengan rakyat.
Guru ngaji penulis juga pernah menyampaikan bahwa definisi pemimpin dalam agama itu tidak mengenal hirarki. Bila rakyat di bawah, pemimpin pun di bawah. Bila rakyat lapar, pemimpin pun lapar. Bila rakyat kedinginan, pemimpin pun kedinginan. Bila rakyat tinggal dalam kesederhanaan, maka pemimpin pun menjauhi istana kemewahan. Bila rakyat berjuang, pemimpin pun yang paling depan berjuang.
Harusnya dalam perspektif agama, tidak ada istilah Kepala, Ketua, Chief, dan Head. Itu semua bukan definisi dalam agama. Mereka semua adalah hirarki. Lihatlah, Kepala hanya ingin di atas. Ketua hanya ingin di tempat yang paling nyaman. Chief hanya ingin yang paling banyak disebut namanya. Head hanya ingin namanya yang paling atas ditempatkan.
Bila rakyat di dasar lembah, pemimpin di puncak gunung, maka seketika itu pula batal predikat kepemimpinannya. Bila rakyat kelaparan, pemimpin masih bisa terlelap karena kekenyangan, maka seketika itu pula tercabut rasa malunya. Bila rakyat hidup sempit dalam kesederhanaan, pemimpin hidup lapang dalam kemewahan, maka seketika itu pula ia sudah keluar dari lingkungan rakyatnya.
Pemimpin yang lahir bersama, dari, untuk, oleh rakyatlah yang seharusnya menjadi pemimpin di daerah-daerah negeri ini. Pemimpin daerah harus melekat dengan rasa rakyatnya, apa yang dirasakan rakyatnya, harus juga dirasakan oleh pemimpin daerah. Pemimpin daerah harus menjadi ujung tombak terdepan dari menyelesaikan masalah dan gambaran seperti apa daerahnya akan dicitrakan dalam benak dan impian setiap orang.
Yang terpenting adalah memegang teguh ideologi agama. Pemimpin daerah yang ?on call? rakyat akan terasah karakternya yang kuat, professional dan menjaga sifat amanah.
Untuk mejadi seorang pemimpin daerah di negeri ini, haruslah menjadi pemimpin yang kuat dan profesional. Kuat dalam kemampuan untuk mengentaskan masalah daerah yang super multi komplikasi. Mampu menyelesaikan hingga ke akar paling dalam untuk memperbaiki dan menggantinya dengan hal yang membangun peradaban.
Profesionalitas seorang pemimpin daerah sesuai keahlian yang dia punya, menggunakan sepenuhnya dengan etika dalam kehidupan sehari-hari hingga etika dalam memimpin daerah dengan karakter yang mengutamakan dan menjunjung tinggi sikap ketuhanan dalam kemanusiaan untuk menuju keadilan sehingga membentuk daerah/wilayah yang beradab. Peradaban yang berisi karakter dan intelektual serta membangun kemajuan.
Selain itu, pemimpin daerah juga harus memiliki sikap amanah. Amanah Memiliki integritas dalam menjalankan tugas. Memiliki keyakinan yang kuat untuk melawan keburukan. Siap dan sigap menjalankan kebijakan yang baik sesuai nurani rakyat. Apa yang harus dijalankan, dan yang diharapkan dengan kebaikan dijalankan terlebih dahulu. Sesuai firman Allah SWT: Sesungguhnya manusia terbaik yang anda tunjuk untuk bekerja adalah orang yang kuat dan amanah.? (QS. Al-Qashas: 26).
Imam Al-Ghazali juga pernah berpesan tentang kepemimpinan. Beliau menjelaskan, kepemimpinan yang ideal, itu memiliki dua sifat dasar: kuat (mampu) dan amanah?. Kemudian diperkuat dengan keterangan bahwa ?Sifat amanah, itu kembali kepada kesungguhan orang untuk takut kepada Allah, tidak memperjual belikan ayat Allah untuk kepentingan dunia, dan tidak takut dengan ancaman manusia. kriteria inilah yang Allah jadikan standar bagi setiap orang yang menjadi pemimpin?.
Muhammad Fahmi, ST, MSi
Pemerhati masalah Sumber Daya Manusia dan masalah Tematik Bangsa
Kandidat Doktor Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
Master of Ceremony (MC), Trainer Publik Speaking/Kehumasan
Salam Merah Mempesona Menggelitik Hati
fahmizidane2003@yahoo.com | WA: 08158228009
