YOGYAKARTA, HarianBernas.com – ArtJog 9 yang diselenggarakan 27 Mei – 27 Juni 2016 di Jogja National Museum Yogyakarta menjadi perbincangan publik dan seniman setelah mendapat kritikan dari kelompok Anti Tank Project. Kritik itu dilontarkan oleh Anti Tank Project tentang terdapatnya logo PT Freeport Indonesia sebagai sponsor.
Kritik yang kemudian mendapat respon serta tanggapan pro kontra dari para seniman seni rupa Yogyakarta maupun Indonesia. Muncul polemik yang berkembang setelah kritik itu diunggah di media sosial melalui akun facebook Anti Tank Project. Diskusi dan saling tanggap pun mulai gencar dilakukan oleh seniman yang memiliki keterlibatan secara langsung maupun tidak langsung antar seniman.
Munculnya logo PT Freeport sebagai sponsor dianggap sebagai ketidakberpihakkan seniman terhadap derita masyarakat Papua. Usaha panitia menggandeng Freeport Indonesia sebagai sponsor dinilai sebagai langkah yang pragmatis dan menimbulkan paradoks di dunia seni rupa. Sementara jelas bahwa even bursa seni rupa kontemporer tahunan ini memang memakan biaya besar untuk budget produksinya.
Seperti yang diungkapkan Heri Pemad selaku Direktur Art Jog 9, ?Art Jog dibuat dengan semangat mempertemukan antara pasar dan karya-karya dari seniman Indonesia dan seniman internasional dalam satu tempat. Dalam kurun waktu 2008 – 2016 terdapat kurang lebih 1350 seniman Indonesia yang terlibat dalam perhelatan ART|JOG dan rata-rata 100 ribu pengunjung per tahun. Yang berarti lebih dari satu juta pengunjung telah datang untuk mengalami kesenian?.
Posisi Art Jog9 ini memang selalu didukung maupun disponsori oleh pihak swasta karena Pemerintah atau Neagara tak mendukung agenda seni rupa terbesar se-Asia ini. Apalagi selama pelaksanaan Art Jog 9 terdapat pula event kesenian lain yang memberi kontribusi pada roda perekonomian di Yogyakarta.
Namun, pada sisi lain perdebatan tentang logo PT Freeport Indonesia masih saja bergulir dan menimbulkan kritik di beberapa pihak. Maka perlu upaya untuk meredam persoalan yang cukup pelik itu. Terkait dengan polemik mengenai persoalan sponsor ART|JOG|9, berikut kutipan siaran pers dari Heri Pemad selaku Direktur ART|JOG 2016 :
1. ART|JOG|9 sepenuhnya dikelola oleh swasta (perseorangan) yang tidak terikat kewajiban ataupun hubungan struktur yang formil dengan lembaga lain, baik lembaga pemerintah maupun swasta. Pendanaan pasar seni ART|JOG|9 sepenuhnya bersumber dari dana pribadi penyelenggara, bagi hasil dari penjualan karya seniman, dan dukungan dana dari pemerintah, sponsor, serta pihak swasta lainnya.
2. Keputusan panitia ART|JOG|9 untuk meminta dukungan dana kepada seluruh korporasi yang namanya tercantum di dalam media publikasi kami dilakukan atas kesadaran penuh dan mengikuti kaidah kerjasama yang dilakukan secara resmi dan profesional antar lembaga swasta.
3. Kerjasama antara ART|JOG|9 dengan seluruh pihak yang memberikan dukungan dana bersifat independen, yang artinya pihak pemberi dana tidak diperkenankan untuk mengintervensi proses kreatif serta karya-karya yang ditampilkan oleh seniman partisipan ART|JOG|9.
4. Keputusan panitia ART|JOG|9 untuk meminta dukungan dana dari PT. FREEPORT dilakukan atas kebutuhan pendanaan yang mendesak yang bila tidak segera dipenuhi akan mengancam keberlangsungan ART|JOG|9 dan seluruh acara lain yang diselenggarakan oleh pihak di luar panitia ART|JOG|9. Dana tersebut dipakai untuk operasional awal kerja penyelenggara.
5. Kami meminta maaf sebesar-besarnya pada berbagai pihak yang tersakiti baik langsung maupun tidak langsung atas pengambilan keputusan tersebut dan juga atas polemik yang timbul. Kami akan berupaya keras untuk menjadi event seni yang lebih baik di masa mendatang. ART|JOG|9 juga telah melakukan klarifikasi dan mengirimkan surat permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi kepada para seniman partisipan ART|JOG|9.
Kejadian ini menjadi sarana pembelajaran yang berharga buat kami. Kami berterima kasih atas perhatian dan dukungan besar yang diberikan teman-teman di dalam dan luar dunia kesenian kepada ARTJOG melalui kritik, masukan, ajakan berdialog dan surat terbuka. Kami berharap siaran pers ini akan mengakhiri polemik yang ada dan semoga ke depan kita bisa sama-sama membangun dukungan publik yang lebih besar untuk dunia kesenian Indonesia yang lebih baik.
