HarianBernas.com – Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nasionalisme diartikan sebagai kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu.
Berbagai cara untuk merefleksikan nasionalisme sering kita temui di berbagai sudut bumi. Mulai dari pemakaian atribut yang berbau kebangsaan, penggunaan produk dalam negeri, hingga penolakan terhadap produk, paham, atau bahasa asing.
Melihat pada makna dan arti nasionalisme dan realitas bangsa saat ini, rasanya wajar jika muncul pesimis dalam benak kita masing-masing. Mulai dari kata ?kesadaraan?, lalu diikuti dengan kata ?bersama-sama?, hingga menyentuh kata ?kekuatan bangsa? pun rasanya masih menjadi pertanyaan besar bagi negara kita, Indonesia, apalagi pada tahap aplikasi.
Untuk memaknai nasionalime, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi dasar penting untuk mencapai tujuan kenegaraan. Bukan hanya orang dengan etnis tertentu di negeri ini, namun seluruh elemen bangsa ini wajib hukumnya dapat memaknai dan mengimplementasikan dua simbol kenegaraan ini.
Dalam suatu penggalan kisah seorang Kepala Daerah Way Kanan Bapak H Bustami Zainudin yang pernah penulis temui, sang bupati tersebut menuturkan bahwa di daerahnya memiliki cara sederhana yang menyentuh untuk menanamkan nasionalisme.
Di daerah tersebut, memiliki kebiasan khususnya di sekolah-sekolah (semua tingkatan mulai SD sampai dengan SMU/sederajat), setiap paginya ketika para guru masuk kelas semua murid/siswa langung berdiri sambil bertepuk tangan (standing applause). Lalu guru tersebut selalu melemparkan 3 (tiga) pertanyaan dan secara spontan, serentak penuh semangat para murid/siswa menjawabnya.
Pertanyaan pertama: ?Apa kabar?? Serentak dijawab oleh murid : ?LUAR BIASA?. Pertanyaan kedua: ? Way Kanan?? jawabnya: ? BUMI PETANI,? Pertanyaan ketiga: ? Siapa Kita?? dengan penuh bangga dan bersemangat para murid/siswa menjawab: ?INDONESIA?.
Setelah itu, murid pun akan duduk setelah dipersilahkan oleh sang guru kelas. Ternyata budaya seperti ini bukan hanya pada saat guru masuk kelas, tapi siapapun yang menjadi tamu dari kelas, mereka juga berstanding applause.
Menurut penulis, mungkin untuk pertanyaan pertama sudah sering kita jumpai di beberapa acara pelatihan atau sejenisnya. Untuk pertanyaan kedua sebagai bentuk wujud memperkenalkan ikon daerah Way Kanan sebagai daerah yang disebut Bumi Petani. Justru pertanyaan yang ketigalah yang menggelitik nurani kebangsaan kita.
Hal menarik yang mengemuka dalam konteks fragmen kebiasaan dunia pendidikan di bumi petani ini adalah proses menanamkan komitmen kepada generasi penerus bangsa. Agar mau memelihara dan menjaga kemurnian esensi dan hakikat pemikiran nasionalisme pada konteks kekinian zaman. Sekalipun Way Kanan merupakan daerah yang cukup jauh dari hiruk pikuk suasana metropolitan, namun cara sederhana ini dapat menginspirasi anak bangsa dimana pun berada.
Sebagai generasi penerus bangsa, dewasa ini sering dihadapkan pada dua sisi tantangan; menjaga kemurnian esensi serta hakikat nasionalisme Indonesia (yang berarti juga menjaga kemurnian nilai-nilai kemanusiaan). Selain itu, aktif berupaya mengantisipasi perkembangan situasi zaman khususnya, arus globalisasi berikut implikasinya.
Contoh nyata, anak-anak kita lebih bangga mengenakan brand luar negeri sebagai ikon kemajuan jaman, kalangan pendidikan ramai ?bergaya? internasional (meski akhirnya dihapus), keseluruhannya menenggelamkan karakter asli bangsa.
Adab kesantunan, keselarasan sosial berbasis kearifan lokal, bangga terhadap produk budaya bangsa, seolah hilang dalam alam kesadaran generasi kekinian. Wawasan kebangsaan merupakan seperangkat kesadaran atas pentingnya menegakkan kedaulatan budaya sendiri. Sejujurnya, kita mampu berbicara sejajar dengan negara lain dengan menggunakan karakter bangsa kita.
Esensi dan hakikat nasionalisme Indonesia yang dahulu telah diartikulasikan para pendahulu kita, wajib untuk kita lanjutkan serta wariskan pada generasi berikutnya. Perjuangan untuk menanamkan nasionalisme merupakan perjuangan yang masih tetap relevan selama kita masih sebagai warga bangsa.
Mencermati globalisasi dewasa ini, sudah seharusnya kita menaruh kewaspadaan terhadap gelagat perkembangan globalisasi tersebut. Kewaspadaan yang didasarkan sepenuhnya terhadap upaya kita menjaga dan memelihara esensi perjuangan kebangsaan kita sendiri.
Rasanya, lima sila dari Pancasila, tidak boleh sebatas ilusi belaka. Arti Bhinneka Tunggal Ika yang hampir seluruh WNI tahu akan artinya, berbeda?beda namun tetap satu, tidak boleh hanya sekedar wacana.
Mengakhiri tulisan ini, teringat pesan guru sejarah pada saat duduk di bangku sekolah dahulu. Nasionalisme tak akan lekang oleh waktu, akan selalu relevan sepanjang masa. Kata guru, Nasionalisme itu, paham untuk mencintai bangsa. Artinya, kalau kita mencintai bangsa, tentunya harus berbuat sesuatu yang terbaik bagi bangsa dan Negara sampai kapan pun.
Jadi, saya kira tak ada kata usang membicarakan nasionalisme. Dan itu harus terus-menerus ditumbuh kembangkan, diberikan pelajaran kepada siapapun terlebih kepada kaum muda.
Belajar dari orang Jepang, betapa mengglobalnya mereka. Tetapi nasionalisme orang Jepang tidak diragukan lagi. Hal ini diperlihatkan dengan kecintaan orang Jepang terhadap tanah air, bagaimana mereka membangun bangsanya, bagaimana mempertahankan budayanya di tengah-tengah globalisasi. Mereka bangga dengan bahasanya dan tetap melaksanakan tata kramanya.
Muhammad Fahmi, ST, MSi
Pemerhati masalah Sumber Daya Manusia dan masalah Tematik Bangsa
Kandidat Doktor Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia
(Universitas Negeri Jakarta UNJ)
Master of Ceremony (MC), Trainer Publik Speaking/Kehumasan
Salam Merah Mempesona Menggelitik Hati
fahmizidane2003@yahoo.com atau WA: 08158228009
