HarianBernas.com – Tujuan pendidikan nasional dalam pembukaan UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Manusia yang beriman, bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Lebih lanjut, tujuan pendidikan nasional ditegaskan kembali dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Berdasarkan undang-undang tersebut, pendidikan nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pendidikan nasional tersebut sejalan dengan hakikat pendidikan yaitu membekali individu dengan pengetahuan, keterampilan, dan nilai (Woolfolk & Nicolich; 1984: 110).
Menyimak tujuan pendidikan nasional tersebut jelas tersirat bahwa pentingnya membentuk insan yang cerdas dan berkarakter. Artinya, pembangunan aspek kecerdasan dan karakter harus berjalan beriringan. Pemikiran dan upaya ke arah itu sesungguhnya telah dilakukan oleh founding father bangsa ini.
Kondisi bangsa Indonesia dewasa ini jauh berbeda dengan cita-cita mulia yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan nasional di atas. Dengan kata lain, kini bangsa Indonesia mengalami krisis moral (demoralisasi). Demoralisasi telah menjangkiti kehidupan masyarakat.
Terjadinya tindak pidana korupsi diberbagai instansi pemerintah dan penyelenggara negara lainnya sebagai bukti telah terjadi demoralisasi bangsa (Prayitno & Khaidir, 2011: 97).
Beberapa kasus yang mencuat, seperti adanya tawuran antar pelajar, kerusuhan antar etnis, penyalahgunaan narkoba, perilaku seks menyimpang yang menyebabkan terus meningkatnya penderita HIV/AIDS, tindakan main hakim sendiri, pelecehan terhadap anak dan perempuan yang dilakukan oleh orang tua dan guru menambah panjang deratan bukti krisis moral generasi bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, jika tidak ingin terus-menerus mengalami berbagai persoalan seperti yang disebutkan di atas, penerapan pendidikan karakter di sekolah-sekolah tidak bisa ditunda lagi (Arends & Kilcher, 2010: 74).
Semangat pendidikan karakter sejalan dengan pemikiran tokoh pendidikan Pestalozzi, yaitu memanusiakan manusia (Heafford, 1967: 45).
Pendidikan karakter tidak hanya dibebankan kepada guru agama, guru PKn, dan atau guru pendidikan budi pekerti saja, tetapi semua guru hendaknya berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan karakter disetiap mata pelajaran yang diampu. Dengan kata lain, pendidikan karakter mesti diintegrasikan dengan mata pelajaran yang diampu oleh setiap guru, tanpa kecuali termasuk oleh guru sains.
Sains berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis. Sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
Pendidikan sains diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari (Suja, 2011: 54). Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan tidak hanya kompetensi, tetapi juga dimensi karakter.
Sains diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasi. Penerapan sains perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan (Trust, 1998).
Pembelajaran sains diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep sains dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana. Dengan demikian ilmu pengetahuan dapat membawa manfaat bagi kehidupan manusia, baik secara ekonomi, sosial, dan spiritual (Field, 2009).
Berdasarkan uraian di atas, dimensi karakter perlu ditanamkan pada peserta didik dalam pembelajaran sains. Tanpa penanaman nilai-nilai karakter dalam pembelajaran sains, maka sains berpotensi memberikan dampak negatif pada kehidupan (Suja, 2010).
Mengutip pernyataan Einstein yang sangat popular yaitu ?ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu lumpuh.? Pernyataan tersebut memberikan pesan bahwa sains sesungguhnya dapat berjalan beriringan dengan agama. Dalam konteks ini, pembangunan karakter harus digarap dari aspek sains dan juga agama.
Pembangunan karakter melalui sains dapat dilakukan dengan mengintegrasikan nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran sains. Sebagai contoh, pembelajaran sains pada konsep kalor. Bahasa sehari-hari menyebutnya dengan sebutan panas. Kalor (panas) merupakan salah satu bentuk energi. Energi tersebut secara alamiah mengalir dari suhu benda yang lebih tinggi ke suhu benda yang lebih rendah.
Konsep tersebut dapat dimaknai pada diri manusia bahwa setiap orang selalu menyerap energi dari lingkungan. Hal ini dapat terjadi karena energi yang ada di luar diri manusia (energi semesta) jauh lebih besar dari energi yang ada di dalam diri manusia.
Ada hal menarik yang bisa disimak dari konsep kalor. Di dalam konsep kalor ada yang disebut dengan ?azas black?. Menurut ?azas black?, jumlah kalor (energi) yang diterima sama dengan jumlah kalor (energi) yang dilepas.
Hal ini menunjukkan bahwa jika seseorang ingin menerima sesuatu dari semesta, maka seseorang juga harus memberi sesuatu ke semesta. Jumlah yang diberikan akan selalu berbalik diterima dalam jumlah yang sama. Artinya, tidak mungkin menarik ?energi semesta? apabila tidak pernah ?melepas energi?.
Adanya proses melepas energi dan menerima energi ini dapat mengakibatkan perubahan wujud benda. Hal ini sejalan denga konsep pendidikan bahwa penting untuk belajar sepanjang hayat sehingga perubahan akan terus terjadi (Luppi, 2009).
Konsep kalor ini mengajarkan kepada kita bahwa kalau kita mengharapkan kebaikan datang pada kita, maka lakukan kebaikan juga pada lingkungan (sesama manusia, alam). Paparan tentang konsep kalor menunjukkan terintegrasinya nilai-nilai karakter jujur, toleransi, peduli sosial, peduli lingkungan, kerja keras, dan bersahabat.
