HarianBernas.com – Yang namanya dunia selalu diwarnai dengan yang namanya keseimbangan, ada musim hujan ada musim kemarau, ada malam ada siang, ada laki laki ada perempuan, ada menang ada kalah. segala hal punya 2 sisi.
Keseimbanganlah yang membuat hal-hal menjadi baik, misalnya coba bayangkan hanya ada musim hujan saja tidak ada musim kemarau, bisa-bisa banjir sepanjang hari. Coba bayangkan hanya ada musim kemarau saja. Hmm.. bisa-bisa tidak ada tanaman yang tumbuh.
Ada cerita menarik soal keseimbangan dalam kehidupan.
Pada tahun 1923, ada 8 orang terkaya di dunia bertemu. Kekayaan mereka kalau digabungkan diperkirakan bisa melebihi kekayaan pemerintah Amerika Serikat pada saat itu. Orang-orang kaya ini tentu saja tau cara menjalani kehidupan dan menimbun kekayaan. Tapi apa yang terjadi kepada mereka setelah 25 tahun kemudian?
– Presiden perusahaan baja terbesar, Charles Schwab, hidup dengan modal pinjaman selama 5 tahun sebelum mengalami kebangkrutan
– Presiden perusahaan gas terbesar, Howard Hubson, menjadi gila
– Salah satu pedagang komoditi terbesar, Arthur Cutton, Meninggal karena pailit
– Presiden pasar bursa New York, Richard Whitney, masuk penjara
– Seorang anggota kabinet Presiden, Albert Fall, dibebaskan dari penjara dan meninggal dengan tenang di rumahnya.
– Broker terbesar di wall street, jessie Livermore, dinyatakan Bunuh diri
– Presiden Monopoli terbesar di dunia, Ivan Krueger dinyatakan Bunuh diri
– Presiden the Bank of International Settlement, Leon Fraser, dinyatakan bunuh diri.
Ternyata orang-orang kaya tersebut sedemikian rupanya melupakan cara menciptakan kehidupan. ini bukan soal UANG yang menyebabkan hal itu terjadi. Uang hanyalah alat pertukaran, uang mampu menghasilkan makanan untuk orang yang lapar, menghasilkan obat untuk yang sakit dll. Uang tidak dapat disalahkan.
Sebenarnya kita perlu belajar keseimbangan dalam kehidupan, kita perlu belajar cara menciptakan kehidupan dan cara menjalani kehidupan. Beberapa orang ada yang sangat asik dengan kehidupan pekerjaannya sehingga kadang mengabaikan keluarga, kesehatan, dan tanggung jawab sosial. Ironinya adalah mereka menjawab bahwa mereka melakukannya demi untuk keluarga.
Tak banyak orang tua di kota kota besar yang tidak mengenal kebiasaan anak-anaknya karena kekurangan waktu dan sibuk dengan pekerjaan. Kadang babysitternya jauh lebih paham tentang anak majikannya. Hmm.. Ironi kalau mengingat bahwa orang tua bekerja demi keluarga termasuk anak tapi dalam menjalaninya ternyata kadang keluarga dan si anak kurang menerima sentuhan itu.
Jadi Bagaimana caranya menjalani hidup yang seimbang ?
Salam Dahsyat !!
Jansen Frank | Service Excellence Trainer
Bila Anda ingin mendapatkan pelajaran yang saya pelajari setiap hari gratis dan langsung saya kirimkan via WhatsApp ke Anda,silakan hubungi/SMS/WA ke: 0818 0856 5478 atau e-mail: jansen.franks@gmail.com
