HarianBernas.com – Setiap saat manusia memerlukan energi yang sangat besar untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, baik untuk kegiatan jasmani maupun kegiatan rohani. Berpikir, bekerja, belajar, dan bernyanyi memerlukan energi yang besar. Kita membutuhkan berjuta-juta kalori setiap harinya untuk melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kita tidak bisa lepas dari yang namanya energi.
Ketika kita sakit dan nafsu makan hilang, tubuh akan lemas karena energi dalam tubuh berkurang. Selesai belajar tubuh kita lemas karena kekurangan energi. Ketika kita bekerja tubuh kita juga lemas karena energi banyak yang ke luar dari tubuh kita. Jadi, apapun yang kita lakukan memerlukan energi. Sepintas kita lihat kita sangat bergantung dengan yang namanya energi. Lalu apa itu energi?
Jika kita buka pelajaran IPA (Fisika), maka dapat kita temukan bahwa energi sering diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja. Artinya, untuk bisa bekerja kita memerlukan energi yang cukup.
Ada hal menarik yang bisa kita pelajari dari konsep energi tersebut, yaitu salah satunya adalah hukum kekekalan energi. Menurut hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Hal ini menunjukkan di semesta ini jumlah energi selalu tetap tidak berkurang atau pun bertambah. Walaupun energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tetapi energi memiliki keistimewaan. Keistimewaan energi yaitu energi dapat berubah bentuk dari bentuk energi yang satu ke bentuk energi yang lainnya. Keistimewaan energi inilah yang dimanfaatkan oleh manusia.
Dalam IPA (Fisika), jenis-jenis energi sangat banyak, seperti energi matahari, energi kimia, energi listrik, energi kinetik (energi gerak), energi potensial, energi nuklir, dan lain-lain. Setiap energi tersebut dapat berubah dari bentuk energi yang satu ke bentuk energi yang lainnya. Banyak contoh-contoh pemanfaatan perubahan bentuk energi, seperti energi listrik diubah menjadi energi gerak (kipas angin), energi listrik menjadi energi suara (radio, TV, HP, dan lain-lain), energi kimia menjadi energi listrik (ACCU), energi cahaya menjadi energi kimia (fotosintesis), dan lain sebagainya.
Manusia juga merupakan salah satu bagian kecil energi dari energi yang amat luas di semesta ini. Pertanyaannya, apakah kita sudah mengoptimalkan energi yang ada di dalam diri kita? Seberapa besar kita mampu menyerap energi alam semesta? Manusia memiliki energi yang terbatas, sedangkan semesta ini memiliki energi yang tak terbatas. Sebanyak apapun manusia menyerap energi semesta, energi semesta tak akan habis.
Tugas manusia adalah menyerap energi semesta yang berkualitas baik. Energi semesta berkualitas baik yang dimaksud adalah energi kebaikan, energi kejujuran, energi kasih sayang, energi kebijaksanaan dan sejenisnya. Energi semesta yang berkualitas baik ini akan dapat membersihkan namusia secara rohani. Sebaliknya, apabila manusia menyerap energi yang berkualitas buruk, seperti iri hati, dengki, sirik, dan sejenisnya, akan menyebabkan diri kotor secara rohani.
Kualitas energi yang kita serap dari semesta sangat menentukan kualitas diri kita. Kualitas diri sangat menentukan perjalanan kehidupan kita. Kehidupan yang bahagia berasal dari kualitas energi yang baik, sedangkan kehidupan yang sengsara berasa dari energi yang buruk. Manusia tinggal memilih, ingin hidup bahagia atau sengsara. Jika ingin hidup bahagia akseslah energi yang berkualitas baik, dan sebaliknya jika siap menerima hidup sengsara akseslah energi yang berkualitas buruk. Pilihan ada di tangan kita.
Agar dapat mengakses energi semesta dengan kualitas baik, diperlukan perjuangan. Perjuangan memerlukan pengorbanan. Hal yang perlu dikorbankan untuk mengakses energi dengan kualitas baik adalah perasaan. Untuk dapat mengorbankan perasaan, perlu dikendalikan ego dan nafsu. Ego dan nafsu merupakan pintu penghalang untuk mengakses energi semesta yang berkualitas baik. Selamat berjuang, semoga menjadi pribadi yang lebih baik!
I Gede Astawan, @ Penulis Buku Jalan Spiritual Menuju Hidup Bahagia
