HarianBernas.com – Berbagai konsep sains yang dipelajari di sekolah memiliki makna tersendiri dalam kehidupan ini. Apabila kita terapkan dengan baik akan dapat mendatangkan manfaat bagi kehidupan kita. Manfaat sains tidak hanya dalam hal teknologi, tetapi juga dapat bermanfaat untuk belajar tentang kehidupan. Salah satu konsep sains yang dipelajari di sekolah adalah konsep usaha.
Di bangku sekolah menengah pertama kita sudah deperkenalkan konsep usaha. Usaha berkaitan dengan gaya (dorongan/tarikan) terhadap benda. Semakin besar dorongan/tarikan yang diberikan, semakin jauh perpindahan benda tersebut. Besarnya gaya (dorongan/tarikan) dan perpindahan yang dialami suatu benda itulah disebut usaha.
Usaha sering disimbolkan dengan W, gaya (dorongan) disimbolkan dengan F, dan perpindahan disimbolkan dengan S, ketiganya dapat dinyatakan dalam sebuah persamaan W = F.S. Persamaan tersebut menunjukkan bahwa usaha berbanding lurus dengan gaya dan perpindahan. Artinya, semakin tinggi dorongan yang diberikan, semakin tinggi usaha yang dilakukan.
Dalam konteks kehidupan, gaya (baca: motivasi) kita sangat menentukan usaha yang kita lakukan. Semakin tinggi motivasi kita, maka semakin tinggi pula usaha yang dilakukan untuk mewujudkan impian. Konsep usaha mengajarkan kepada kita, agar terus memiliki semangat dan motivasi yang membawa untuk mewujudkan cita-cita di dalam diri. Semangat yang besar yang disertai usaha (kerja) yang sungguh-sungguh, atas karunia Tuhan, tentu hasil yang diperoleh akan maksimal.
Usaha yang kita lakukan juga berkaitan dengan energi yang kita perlukan. Hubungan usaha dan energi dalam ilmu sains (fisika), dinyatakan bahwa besarnya usaha sebanding dengan besarnya perubahan energi. Dalam bentuk persamaan, ditulis W melambangkan besar usaha yang kita lakukan, melambangkan perubahan energi yang dihasilkan. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menghasilkan perubahan yang besar, maka kita harus melakukan usaha yang besar pula.
Oleh karenya, dalam kehidupan ini, untuk melakukan perubahan energi dalam diri kita, dari energi yang rendah (kemarahan, kebencian, iri hati, dan sejenisnya) menjadi energi yang lebih tinggi (kesederhanaan, kebijaksanaan, kasih sayang, empati, dan sejenisnya) diperlukan usaha yang secara sadar dan secara kontinu dilakukan.
Usaha dan energi yang kita miliki juga berkaitan erat dengan daya (power) yang mempengaruhinya. Power sering didefinisikan sebagai perubahan energi setiap satuan waktu. Definisi tersebut dinyatakan dalam persamaan, persamaan ini menunjukkan bahwa daya (baca: kemampuan) seseorang sangat dipengaruhi dimensi waktu. Waktu yang membuktikan apakah seseorang telah mengalami lompatan energi, dari energi yang lebih rendah ke energi yang lebih tinggi.
Semakin lama waktu berjalan, dan diikuti oleh perubahan energi ke arah yang lebih positif, maka kemampuan seseorang akan terus meningkat. Hal sebaliknya juga terjadi, apabila semakin lama, tetapi tidak mengalami perubahan energi ke arah lebih baik, justru bergerak mundur, maka daya (kekuatan) yang dimiliki juga akan semakin melemah.
Pertanyaannya, seberapa besar usaha yang telah anda lakukan untuk melakukan lompatan? Seberapa sering waktu yang ada gunakan untuk melakukan lompatan dari energi rendah menuju energi yang lebih tinggi? Yakin bahwa setiap usaha (kerja) mendatangkan hasil.
Kerja positif mendatangkan hasil yang baik. Kerja negatif mendatangkan hasil yang buruk. Itulah hukum sebab akibat. Hukum sebab akibat merupakan hukum yang logis dan berkeadilan yang telah ditetapkan Tuhan.
Oleh karena setiap usaha (kerja) pasti mendatangkan hasil, maka kita tidak perlu pamrih mengharapkan hasilnya. Tugas kita adalah bekerja, bekerja, dan bekerja, masalah hasil biarkan Tuhan yang menentukan. Tuhan adalah Maha Tahu, pasti Tuhan memberikan apa yang terbaik atas usaha yang kita lakukan. Tuhan adalah Maha Adil, pasti Tuhan bertindak seadil-adilnya atas usaha dan perbuatan yang kita lakukan.
I Gede Astawan @ Penulis Buku Jalan Spiritual Menuju Hidup Bahagia
Email: astawan@undiksha.ac.id
