HarianBernas.com-Pandangan konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan dibangun dalam pikiran pembelajar. Artinya, si pembelajar sendiri yang harus aktif mengkonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman-pengalamannya sendiri.
Oleh karena itu, penganut konstruktivisme menghendaki adanya pergeseran paradigma dari seorang pengajar menjadi seorang fasilitator atau menjadi mediator yang kreatif dalam proses pembelajaran. Salah satu tenaga pengajar yang berkecimpung dalam pembelajaran adalah guru.
Pendekatan konstruktivisme mendorong kolaborasi dan kepemimpinan dalam lingkungan belajar. Dengan mengikuti Sertifikasi Manajer SDM, Anda dapat meningkatkan keterampilan dalam mengelola tim, merancang pelatihan, serta membangun strategi SDM yang mendukung pengembangan kompetensi tenaga pendidik dan siswa.
Guru merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan kualitas output yang dihasilkan melalui peranannya sebagai fasilitator, manager, dan mediator dalam pembelajaran. Perancangan pembelajaran yang tepat dapat memudahkan pencapaian tujuan belajar yang dikehendaki.
Baca juga: Inilah Penggunaan Kata Sambung Di dan Kata Depan Di yang Benar
Cara Melakukan Konstruktivisme
Konstruktivisme menghendaki guru dapat membantu siswa untuk meraih pemahamannya. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara (Brooks & Brooks, 1993) yaitu:
1. Guru hendaknya bijaksana, membesarkan hati, menerima keanekaragaman siswa, dan memiliki inisiatif,
2. Guru hendaknya menggunakan sumber primer, menggunakan data-data acak, dan menggunakan bahan-bahan dalam melaksanakan proses pembelajaran,
3. Dalam mengemas pembelajaran hendaknya guru menggunakan istilah seperti mengklarifikasi, analisis, prediksi, interpretasi, sistesis, di mana aktivitas tersebut mengarahkan siswa dalam membuat hubungan, menyelidiki mendalam teks, lingkungan dan menciptakan pemahaman baru,
4. Guru mengijinkan siswa merespons ketika pembelajaran berlangsung, mengubah strategi intruksional, mengubah materi pelajaran yang ingin dipelajari,
5. Guru membimbing siswa dalam menemukan pemahaman konsep siswa sebelum mereka bertukar pikiran tentang pemahaman konsep,
6. Guru mendorong siswa untuk berperan aktif dalam diskusi dengan guru ataupun antarsiswa itu sendiri,
7. Guru mengarahkan siswa dalam menyelidiki dengan bijaksana dan mengarahkan pertanyaan pada masing-masing siswa,
8. Guru mengelaborasi respons siswa yang bersifat mendasar,
9. Guru mengarahkan siswa untuk bereksperimen, yang mungkin menyebabkan kontradiksi antara hipotesis, kemudian mengarahkan ke diskusi,
10. Guru memberikan waktu tunggu setelah pertanyaan,
11. Guru menyediakan waktu bagi siswa untuk mengkonstruksi hubungan dan menciptakan kiasan (metaphor), dan
12. Guru mengarahkan keinginan siswa melalui siklus belajar.
Belajar merupakan suatu aktivitas yang kompleks karena melibatkan fisik dan psikis orang yang belajar. Di lain pihak, belajar juga merupakan suatu proses aktivitas (Suparno, 1997). Sebagai suatu aktivitas, belajar melibatkan beberapa komponen yang terjalin saling mempengaruhi satu sama lain dalam sistem. Komponen-komponen tersebut adalah raw input, instrumental input, dan environmental input.
Guru merupakan salah satu komponen penting di dalam menentukan kualitas output melalui proses pengelolaan pembelajaran yang baik. Raw input, instrument input dan enviromet input jika dapat dikelola atau diproses dengan baik maka akan dapat menghasilkan output yang berkualitas.
Pembelajaran berbasis konstruktivisme menuntut media yang interaktif dan menarik. Dengan Sertifikasi Content Creator, guru dan pendidik dapat menguasai teknik pembuatan konten edukatif yang lebih kreatif dan engaging, meningkatkan efektivitas dalam menyampaikan materi kepada siswa.
Baca juga: Cara Membuat Tugas Resume Bagi Mahasiswa dan Pelamar Kerja
Raw Input
Raw input dalam proses pembelajaran adalah siswa dengan karakteristik fisiologis dan psikologisnya. Kondisi fisiologis meliputi fisik, panca indera, dan sebagainya. Sedangkan, kondisi psikologis meliputi minat, tingkat kecerdasan, motivasi, kemampuan kognitif dan sebagainya.
Jadi, peranan guru dalam proses pembelajaran sangat penting, mulai dari merancang pembelajaran yang kondusif, melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan, dan mengevaluasi pembelajaran guna dijadikan sebagai refleksi untuk memotivasi siswa agar lebih giat belajar.
Selain guru, aspek yang tidak kalah pentingnya yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran adalah siswa. Menurut Karhami (2002), salah satu praktek kependidikan di sekolah yang mesti diperbaiki adalah kebiasaan anak dengan ‘budaya konsumtif’.
Kebiasaan tersebut secara berlahan harus digiring menuju ‘budaya produktif’. Budaya konsumtif, yaitu kebiasaan siswa menerima informasi secara pasif: mencatat, mendengar, dan meniru. Sedangkan, budaya produktif adalah kebiasaan siswa untuk berkreativitas, mengembangkan sendiri gagasan-gagasan: menulis gagasan, merancang/membuat strategi, meneliti, memecahkan masalah, menemukan rumus/gagasan baru.
Budaya konsumtif tersebut menjadikan siswa merasa dirinya tidak belajar kalau gurunya tidak menjelaskan. Hal inilah yang menyebabkan siswa cenderung menunggu apa yang disampaikan oleh guru. Sedangkan, budaya produktif siswa mencari makna tersendiri dari apa yang telah diketahui dan apa yang dapat dikembangkan sehingga siswa tetap belajar tanpa harus menunggu dari guru.
Supaya peran siswa sebagai ‘produsen’ seimbang dengan peran ‘konsumen’ maka seorang guru dituntut melakukan pengajaran yang edukatif (educative teaching) dengan menempatkan diri dalam peran fasilitator dan mediator.
Berdasarkan uraian di atas, peran guru dan siswa menurut pandangan konstruktivisme adalah sebagai berikut. Terjadi pergeseran peran siswa dari peran sebagai ‘konsumen’ gagasan ke arah peran sebagai ‘produsen’ gagasan, sedangkan peran guru dialihkan dari peran ‘menghambat proses belajar’ (learning destroyer) yang sering terjadi secara tidak sengaja ke peran pemermudah/pemicu proses belajar (learning facillitator).
Pilih Program Studi yang Mendukung Karier Masa Depan
Pendekatan konstruktivisme menekankan pentingnya lingkungan belajar yang interaktif dan inovatif. Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA) menawarkan program studi Informatika yang membekali mahasiswa dengan keterampilan pemrograman, pengolahan data, dan teknologi yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan berbasis digital.
Selain itu, UNMAHA juga membuka peluang bagi calon mahasiswa untuk menguasai teknologi yang relevan dengan kebutuhan pendidikan modern. Dapatkan informasi pendaftaran melalui WhatsApp di nomor ini, atau bisa langsung menghubungi website PMB UNMAHA.
Bagi Anda yang ingin kuliah dengan biaya lebih ringan, Beasiswa PBL dari UNMAHA memberikan kesempatan belajar sambil bekerja secara remote. Dengan sistem ini, mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman kerja nyata sekaligus meringankan biaya pendidikan.
Baca Juga: Ingin SPP Kuliah Gratis? Ini Strategi Kerja Remote di Universitas Mahakarya Asia
Peluang Bisnis di Dunia Pendidikan
Penerapan konstruktivisme membuka peluang bagi pengembangan alat dan sumber belajar inovatif. Dengan bergabung sebagai reseller di Adolo, Anda dapat memasarkan produk edukasi berkualitas, termasuk laptop dan perangkat pendukung lainnya, yang esensial dalam pembelajaran modern.
Sebagai reseller di Adolo, Anda tidak hanya mendapatkan keuntungan finansial, tetapi juga berperan dalam mendukung transformasi pendidikan melalui penyediaan alat belajar yang sesuai dengan kebutuhan era digital. [4]
