HarianBernas.com – Kehidupan masyarakat Bali yang Hinduistik, mengatur dirinya dengan nilai harmoni atas dasar etika moral seperti ?Tattwamasi? (kamu adalah aku dan aku adalah kamu) dan ?Tri Kaya Parisudha? (berpikir, berkata, dan berbuat yang baik).
Dalam ajaran Tattwamasi ini mengandung prinsip kebersamaan dan kesetaraan yang juga dikonsepsikan ke dalam asas-asas, seperti suka-duka (suka dan duka di rasakan bersama), salunglung sabayantaka (baik buruk, mati hidup ditanggung bersama), dan saling asah, asih, asuh (saling menghormati, mengasihi, dan menyayangi).
Begitu juga dengan konsep Tri Kaya Parisudha yang ada di Bali, yang mengajarkan kita tentang bagaimana berpikir, berkata, dan berbuat yang baik dan benar.
Kearifat lokal Bali di atas, merupakan kearifan yang bersifat sosial. Selain bersifat sosial, kearifan lokal Bali juga terdapat kearifan ekologi. Kearifan lokal masyarakat Bali juga dapat dilihat pada lembaga desa pakraman dan sistem subak (Sutawan, 2008). Misalnya, agroekosistem sawah di Bali dengan sistem irigasinya yang diatur oleh subak merupakan bentuk kearifan ekologi yang memanfaatkan curah hujan dan land scape.
Selain itu, masyarakat tradisional Bali juga memiliki pengalaman berkaitan dengan pengaruh bintang dan sasih (bulan) terhadap kehidupan tanaman dan hewan.
Abdullah dan Ahnaf (2008) dan Atmadja (dalam Suja, 2010) mengemukakan beberapa karakteristik, signifikansi, dan fungsi kearifan lokal, yaitu sebagai berikut.
- Kearifan lokal tumbuh dan berkembang pada suatu komunitas lewat pengalaman langsung maupun warisan dari generasi terdahulu ke generasi
- Kearifan lokal merupakan kekayaan budaya yang dimiliki oleh suatu komunitas lokal
- Kearifan lokal merupakan kekayaan budaya yang dimiliki oleh suatu komunitas lokal.
- Kearifan lokal sebagai modal budayamencakup aspek kognisi dan aspek evaluative yang dipercayai dan diakui sebagai elemen-elemen penting.
- Kearifan lokal memberikan pedoman bagi manusia agar bisa menyelaraskan hubungan antarkomponen yang membangun diri individu.
- Kearifan lokal memberikan pedoman bagi komunitas lokal untuk menyelesaikan masalahnya secara baik dan benar, sehingga dapat menghindari konflik dan menjaga kekohesifan sosial.
- Kearifan lokal merupakan merupakan elemen perekat lintas warga, lintas agama, dan lintas kepercayaan.
- Kearifan lokal tidak bersifat memaksa.
- Kearifan lokal memberikan warna kebersamaan dan sekaligus sebagai identitas bagi komunitas bersangkutan.
- Kearifan lokal dapat mengubah pola pikir dan hubungan timbale balik individu dan kelompok dengan meletakkan di atas kebudayaan yang dimilikinya.
- Kearifan lokal dapat mendorong terbangunnya kebersamaan, apresiasi sekaligus sebagai sumber mekanisme bersama untuk menepis berbagai kemungkinan yang bisa memperlemah, bahkan merusak solidaritas.
Revitalisasi kearifan lokal merupakan upaya sangat penting untuk dilakukan. Rahyono (dalam Atmadja, 2011) menyatakan bahwa penginternalisasian kearifan lokal, tidak hanya untuk menunjang pencapaian pendidikan karakter, tetapi juga karena nilai-nilai luhur dalam kearifan lokal memiliki posisi strategis, yakni:
- Kearifan lokal merupakan pembentuk identitas yang inheren sejak lahir.
- Kearifan lokal bukan merupakan keterasingan bagi pemiliknya.
- Keterlibatan emosional masyarakat dalam penghayatan kearifan lokal.
- Pemelajaran kearifan lokal tidak memerlukan pemaksaan.
- Kearifan lokal mampu menumbuhkan harga diri dan percaya diri.
- Kearifan lokal mampu meningkatkan bartabat bangsa dan negara
Pendek kata, kearifan lokal memiliki posisi amat strategis bagi kelangsungan hidup suatu komunitas atau bangsa. Hal ini tidak hanya menyangkut dimensi bahwa kearifan lokal adalah kristalisasi dari suatu pemikiran atau kebiasaan untuk membentuk karakter, tetapi terkait pula dengan pemertahanan identitas suatu etnik maupun bangsa.
Dengan adanya kenyataan ini, maka revitalisasi atau menguatan kembali nilai-nilai kearifan lokal penting dilakukan sebagai pondasi dalam pendidikan karakter.
I Gede Astawan @ Penulis Buku Jalan Spiritual Menuju Hidup Bahagia
Email: astawan@undiksha.ac.id
