HarianBernas.com – Beberapa hari yang lalu, tim XI berencana untuk pergi makan malam. Mengingat makanan di rumah belum dimasak maka kami memutuskan untuk pergi makan di luar. Rencana di awal adalah kami mau makan nasi uduk betawi di daerah universitas Mercubuana meruya selatan yang dekat dengan kantor kita di meruya.
Sebenarnya kami sudah pernah makan di sana karena enak makanya kami mau ke sana lagi. Ditambah dengan jengkolnya yang maknyoss hehe. Selain itu penjualnya juga sangat ramah meski tempatnya kecil dan biasa saja, bahkan penjualnya menawarkan gorengan yang baru dimasak daripada memberi gorengan yang sudah dingin. Pelayanan yang baik mampu meningkatkan nilai produk di mata pelanggan.
Kami pun berangkat menuju tukang nasi uduk betawi tersebut dengan semangat yang mengebu-gebu demi melayani perut-perut kelaparan kami. Namun kenyataan berkehendak lain. Ternyata tukang nasi uduknya tutup, mungkin mereka masih pulang kampung berhubungan beberapa hari yang lalu masih merayakan Idul adha. Ya mau tidak mau kami harus mencari alternatif lain untuk mengisi perut akhirnya kami memutuskan untuk makan di angkringan daerah srengseng.
Kami memang cukup sering makan di angkringan ini, suasananya enak, gak pakai meja cuma duduk di karpet. Lauknya tinggal pilih mau digoreng atau dibakar. Ada ayam, telor puyuh, tahu tempe, usus, suhe. Meskipun tidak mewah namun entah kenapa angkringan tersebut selalu rame. Bahkan pernah melihat orang orang bermobil datang untuk makan disana.
Bayarnya juga pake kejujuran saja, tinggal sebut terus dijumlahin. Satu lagi yang saya suka dari angkringan ini adalah susu jahenya. enakk
Kebetulan saya saat itu tidak sedang ingin makan nasi kucing tersebut. Saya membeli pecel ayam di warung sebelahnya. Saya baru pertama kali beli di sana. Saya pun memesan ayam goreng pake tahu, saya pesan untuk makan di angkringan saja jadi tidak perlu dibungkus. Namun penjualnya menolak dengan agak ketus.
“gak boleh mas, dibungkus saja ya?” Oh saya berpikir, mungkin tidak boleh karena takut piringnya ketuker dengan piring di angkringan. Kemudian saya coba kasih solusi,
“dipiring saja bu, nanti piringnya saya kembalikan setelah makan”. namun si penjual kekeh untuk tidak memperbolehkannya. Yq sudah saya mengalah agar dibungkus saja.
Setelah selesai, saya berniat untuk nambah beli nasi uduk karena yang lain juga ternyata ingin makan nasi uduk, saya terus minta beli nasi uduknya saja 3, lagi lagi dilayani dengan kurang baik.
“Gak boleh mas, soalnya lauknya masih banyak” dengan nada agak tidak senang. akhirnya setelah negosisasi akhirnya dia mau jual nasi uduk 2 saja tidak lebih. Okelah pikir saya lumayan daripada gak dapat sama sekali. Setelah saya cicipi memang enak di lidah saya meskipun harganya lumayan mahal untuk ukuran pecel ayam.
Namun saya tidak senang dengan pelayanan diberikan penjualnya. Pelayanannya tidak membuat saya ingin kembali ke sana. Ternyata pelayanan bisa menurunkan value produk anda!. Meskipun produk anda bagus kalau pelayanannya butut maka orang kadang memilih untuk tidak kembali
Salam dahsyat!!
Jansen Frank | Service Excellence Trainer
Bila Anda ingin mengundang saya sebagai Trainer di perusahaaan anda ATAU Bila anda ingin mendapatkan pelajaran yang saya pelajari setiap hari di WhatsApp anda, silakan hubungi/SMS/WA ke: 0818 0856 5478 atau e-mail: jansen.franks@gmail.com.
