HarianBernas.com-Pembelajaran berbasis kasus dirancang untuk membantu siswa berpikir tentang sosial dan masalah etika, dan tentang isu-isu kebijakan publik yang biasanya sarat dengan konflik nilai. Alasan untuk mempelajari masalah sosial yang komplek, yaitu kita dihadapkan pada dunia dengan serentetan masalah yang kompleks dan berbagai dilema moral dan etika.
Sebagai contoh, kita dihadapkan dengan pemanasan global dan kekurangan bahan bakar padahal hidup kita sangat tergantung pada bahan bakar fosil. Petani, masyarakat kota, dan nelayan saling bersaing untuk mendapatkan air sumber daya yang langka. Hampir tidak ada hari tanpa berita bahwa pemimpin atau bisnis di beberapa tempat di dunia dituduh korupsi atau melakukan kesalahan. Konflik ras dan etnis masih ada di banyak bagian dunia dan dalam beberapa tahun terakhir, tampak bahwa agama dan perbedaan ideologi yang menjadi isu baru dalam hal konflik dan kebijakan publik. Solusi konkret atau langsung tidak jelas dalam setiap situasi. Sebaliknya, solusi menjadi kompleks, kadang kontra-intuitif dan hampir selalu bermuara pada nilai-nilai sosial yang saling bertentangan satu lainnya.
Perspektif pembelajaran berbasis kasus, guru memberikan siswa pengalaman yang memungkinkan baginya untuk berpikir, belajar bertanya, memecahkan masalah, dan merestrukturisasi pengetahuan mereka sendiri. Dasar perspektif ini adalah teori yang dikemukakan oleh Vygotsky (1978), yang menekankan pentingnya interaksi sosial dan keterampilan wacana dalam semua aspek belajar manusia. Model ini mencapai tujuan belajar melalui dialog dan diskusi antara guru dan siswa, serta siswa dengan siswa sendiri. Model ini memerlukan lingkungan kelas di mana siswa bebas untuk mengekspresikan ide-ide baru tanpa takut penilaian negatif. Model ini juga membutuhkan sebuah lingkungan di mana siswa menghormati satu sama lain dan toleran terhadap ambiguitas dan perbedaan, sebuah kondisi tidak mudah bagi guru untuk menciptakannya.
Pembelajaran berbasis kasus pada awalnya dikembangkan pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh. Menurut McNergney dkk. (1999), metode kasus pertama kali digunakan di Harvard Law School pada 1870-an untuk mempersiapkan pengacara. Metode kasus juga digunakan dalam bidang medis, percobaan awal dilakukan pada tahun 1890 di Johns Hopkins Medical School yang menggunakan metode-kasus sebagai pendekatan baru dalam pendidikan kedokteran. Pada bagian awal abad kedua puluh, Harvard Business School mulai menggunakan pendekatan berbasis kasus untuk tujuan pengembangan analitis dan keterampilan bagi siswa mempersiapkan karir dalam bisnis dan pengambilan keputusan. Sejak itu, pengajaran berbasis kasus telah digunakan cukup luas dan dalam berbagai bidang subjek, termasuk ilmu sciene, ilmu sosial, sejarah, sastra, dan humaniora.
Secara umum, pembelajaran berbasis kasus adalah pemberian beberapa kasus yang menggambarkan detail situasi dunia nyata. Sebaiknya kasus mengandung sesuatu yang dilema yang harus dihadapkan dan diselesaikan oleh individu atau kelompok yang terlibat dalam kasus tersebut. Kasus yang baik adalah kompleks, sehingga siswa tidak dapat menyelesaikan dengan solusi tunggal. Sebaliknya, beberapa solusi yang mungkin diusulkan, dan siswa didorong untuk mempertahankan yang mereka yakini paling tepat.
Dua perencanaan mendasar yang diperlukan bila menggunakan metode kasus, pertama adalah menemukan atau menulis kasus apakah cocok untuk tingkat perkembangan siswa di kelas dan untuk topik yang merupakan fokus pembelajaran, lalu kedua adalah memutuskan bagaimana mengajar kasus, khususnya jenis diskusi dan format wacana yang akan digunakan. Tingkat perkembangan siswa merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam pemilihan kasus (Arends & Kilcher, 2010).
Secara umum, pembelajaran berbasis kasus memiliki lima fase penting, yaitu sebagai berikut. Fase kesatu, guru memberikan siswa kasus dan memberikan sedikit pengantar untuk memasuki kasus. Pelajaran apapun, sebuah pengantar harus dilakukan pada awal untuk menangkap perhatian dan memicu rasa ingin tahu siswa. Dilema kasus dalam banyak kasus akan menjadi menarik bagi siswa. Siswa kemudian diminta untuk mempelajari kasus. Untuk siswa yang lebih dewasa atau lebih mampu, hal ini dapat dicapai sebagai tugas pekerjaan rumah. Untuk siswa ?muda? (kurang mampu) atau yang kurang memiliki motivasi, bekerja dengan sebuah kelompok kecil mungkin lebih baik.
Tahap kedua, meminta siswa mengidentifikasi informasi kunci dari isu-isu yang faktual dalam kasus tersebut. Dalam fase ini dapat dilakukan dengan seluruh kelas dalam mengidentifikasi isu-isu. Alternatif lain adalah mengidentifikasi isu-isu dan fakta dalam kasus tersebut dalam kelompok kecil dan kemudian berbagi pandangan mereka dengan seluruh kelas.
Fase ketiga dan keempat adalah jantung dari pelajaran berbasis kasus. Dalam fase ketiga, guru membantu siswa mengidentifikasi dan mempertimbangkan berbagai nilai perspektif dalam kasus dan nilai-nilai yang dipegang oleh individu yang terlibat dalam suatu kasus. Mostert dan Sudzina (1996) telah menyarankan bahwa bermain peran dapat digunakan secara efektif selama fase ini untuk membantu siswa mengenali beberapa nilai dan sudut pandang yang diwakili dalam kasus ini. Dalam fase keempat, siswa terlibat dalam analisis dan argumentasi, dan diminta untuk mengambil tindakan yang dapat diambil. Sekali lagi bermain peran atau kelompok-kelompok kecil dapat digunakan untuk memfasilitasi dalam fase ini.
Tahap akhir dari pembelajaran berbasis kasus adalah meringkas tindakan-tindakan inti dari kasus tersebut, mengingat konsekuensi dari sebuah tindakan dalam kasus, dan pembekalan secara keseluruhan tentang kasus tersebut. Tujuan dari tahap ini adalah memahamkan siswa untuk bahwa sebagian besar tindakan memiliki konsekuensi baik positif maupun negatif, untuk memahami bahwa satu set tindakan dapat dianut ataupun yang tidak boleh dianut. Tahap akhir ini juga harus melibatkan siswa untuk berdiskusi dan menganalisis sendiri pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya.
