HarianBernas.com-Ketika banyak orang sedang duduk-duduk di sejumlah bangku pinggir jalan sekitar Titik Nol Kilometer untuk menikmati peristiwa alam bergantinya petang menuju malam, ada pemandangan yang tak biasa terjadi di depan Benteng Vredeburg. Sejumlah wisatawan tampak mengerubuti antusias lapak yang menjual dompet batik murah meriah, Minggu (22/1).
Di libur akhir pekan, wisatawan memang ramai lalu lalang bak cendol dari kawasan Titik Nol Kilometer sampai Malioboro, jantung Kota Yogyakarta. Jumlahnya tidak terhitung. Di antara kerumunan wisatawan itu, ada seorang penjual dompet yang pintar mencari keberuntungan. Dompet batik motif warna-warni itu dijual dengan harga murah. Cuma Rp 5.000. Nggak salah?
“Tidak, harganya memang segitu. Yang kualitasnya lebih bagus, ukurannya lebih besar saya tawarkan Rp 8.000,” kata Yayuk, penjual dompet batik di trotoar depan Museum Benteng Vredeburg.
Perempuan berkulit hitam manis dengan postur tubuh tinggi itu hanya berjualan di sana ketika hari Sabtu dan Minggu. Di luar itu, dia memang punya pekerjaan lain. Dagangannya didisplai di tempat duduk (bangku) wisatawan yang terbuat dari semen di bawah rindangnya pohon. Sementara itu, stok barangnya, ada di kardus, ditaruh di bagian bawah.
Yayuk tampak sangat sederhana, seperti pedagang kaki lima lainnya di kawasan itu. Namun, barang yang cantik ditambah tulisan mencolok harganya Rp 5.000, menjadi magnet tersendiri bagi para pelancong yang memadati kawasan itu, terutama hari Sabtu dan Minggu.
Di atas bus Trans Jogja, Harian Bernas, beberapa hari yang lalu pun bertemu dengan wisatawan dari Riau yang menginap di sebuah hotel mewah di Jalan Mangkubumi. Turis ini tampak menggenggam dua dompet batik seperti dagangan Yayuk yang dibeli di Prambanan. Ternyata harganya pun Rp 5.000.
“Murah sekali ya? Terus biaya produksinya berapa,” komentar orang Riau itu dengan nada heran apalagi dibanding harga di daerahnya. Di Jogja pun, uang senilai itu hanya bisa buat beli dua buah onde-onde depan Pasar Beringharjo. Untuk menyantap semangkuk bakso atau sepincuk nasi pecel pun tidak cukup.
Menurut Yayuk, barang-barang tersebut disetor dari Klaten. “Ini memang menggunakan kain perca. Sedang bagian dalamnya berwarna hitam merupakan kain daur ulang dengan warna naptol. Direkatkan dengan main lem,”Kilah Yayuk kenapa bisa berharga murah.
Beda dengan dompet lain, Yayuk merinci bahwa kancingnya bermagnet, ritsleting di bagian dalam, serta dipemanis dengan benang warna emas. Pertanyaannya, berapa duit harga bahannya?
Menurut Yayuk, produsen membeli ritsleting dalam bentuk meteran. Demikian juga kancing dan benang emas dibeli dalam jumlah sangat banyak sehingga dapat harga murah. Seberapa lama dompet itu bisa bertahan, menurut Yayuk tergantung pemakaiannya. ?Kalau hati-hati ya bisa lama,? kata dia.
Selain dompet, lulusan D 3 Fakultas Psikologi, sebuah Universitas di Bogor itu juga berjualan tempat pensil. Ditawarkan dengan harga Rp 4.000. Motif luarnya juga batik warna-warni dan memanjang dengan penutup ritsleting.
Untuk pembeli pelajar, Yayuk menyarankan tempat pensil saja. Selain lebih cocok untuk keperluan sekolah jika ritnya rusak tinggal ditekan dengan tang saja sudah beres.Sebagaimana kebanyakan pedagang kaki lima, Yayuk masih membuka kesempatan tawar menawar. Minggu petang itu ada dua ibu pelancong dari Sragen berhasil memboyong dua dompet ukuran besar seharga Rp 15.000 dan mendapat korting Rp 1.000.
Sesama pedagang kaki lima di sana, tidak banyak yang tahu bahwa Yayuk adalah pekerja LSM dari Belanda yang bergerak di bidang pendidikan. Ketika DIY terjadi gempa hebat, lewat jalur teman-teman LSM, dia direkrut oleh UNICEF dan bertugas di bidang penyaluran bantuan. Honornya dengan standar US Dollar. Karena kepiawaiannya mengelola keuangan, dari honor UNICEF dua tahun itu, dia mampu membangun rumah di Sleman.
Meski dari jualan dompet ini hasilnya juga lumayan, tetapi Yayuk siap apabila dia diminta teman-temannya LSM untuk bergabung dalam sebuah tugas meskipun di luar kota, bahkan luar Jawa sekalipun. (arie giyarto)