HarianBernas.com – Kabar mencengangkan disampaikan oleh WHO. Menurut lembaga bawahan PBB yang menangani masalah kesehatan masyarakat dunia tersebut, sekitar 1,7 anak-anak meninggal di seluruh dunia setiap tahunnya. Penyebab kematian mereka adalah lingkungan kotor yang kemudian menimbulkan penyakit mematikan seperti malaria, radang paru-paru, hingga muntaber.
Margaret Chan selaku Direktur Jenderal WHO memperingatkan kalau anak-anak merupakan golongan yang paling rentan terhadap lingkungan yang sudah tercemar oleh polusi. Pasalnya organ serta sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap berkembang. Anak-anak juga memiliki tubuh yang lebih kecil sehingga ketika jatuh sakit, peluang kalau penyakit tersebut menimbulkan dampak fatal menjadi lebih besar.
Laporan yang dirilis oleh WHO pada hari Senin (6/3/2017) menambahkan kalau anak-anak sudah terancam menerima dampak dari pencemaran lingkungan bahkan saat mereka masih menjadi janin. Tepatnya ketika ibu yang mengandung mereka terpapar oleh udara kotor dan mengkonsumsi makanan serta minuman yang sudah tercemar.
Dampak negatif pencemaran yang harus diterima oleh anak-anak masih terus berlanjut ketika mereka berada di tempat terbuka. Penyebabnya adalah ketika mereka menghirup udara yang tercemar oleh limbah industri dan asap rokok, mereka terancam menderita gangguan pernapasan akut semisal asma. Udara kotor juga meningkatkan resiko serangan jantung, kanker, dan stroke.
Di kawasan miskin, resiko terpapar udara kotor tidak berkurang karena tidak sedikit rumah yang menggunakan batu bara berpolusi tinggi sebagai bahan bakar untuk keperluan memasak dan menghangatkan diri. Rumah milik keluarga miskin juga cenderung tidak memiliki akses ke sumber air bersih sehingga penghuninya beresiko terkena diare yang memiliki dampak fatal bagi anak-anak usia balita.
