HarianBernas.com – Penggunaan alat pemancar sinyal radio dan GPS merupakan salah satu metode yang lazim digunakan oleh tim peneliti dan pelestari hewan liar untuk memetakan lokasi hewan-hewan yang diamatinya. Begitu alat tersebut ditempelkan pada tubuh hewan, sinyal yang dipancarkannya dapat dilacak oleh penangkap sinyal sehingga anggota tim tadi bisa mengetahui lokasi hewan yang bersangkutan.
Penggunaan teknologi yang sama di lain pihak ternyata juga menjadi senjata makan tuan. Pasalnya kawanan pemburu liar kerap mencegat sinyal tersebut supaya mereka bisa mengetahui lokasi hewan-hewan yang hendak diburunya. Hal tersebut disampaikan oleh Steven Cooke dari Universitas Carleton Kanada.
Menurut Cooke, praktik mendeteksi sinyal alat pemancar sebenarnya cukup sering dilakukan oleh kawanan pemburu liar. Laporan mengenai hal tersebut juga beberapa kali muncul di beragam situs media, namun nyaris tidak pernah disinggung dalam hasil-hasil penelitian ilmiah. Penyebabnya adalah karena tim peneliti khawatir jika dana untuk penelitian mereka bakal dihentikan jika teknologi yang mereka gunakan ternyata malah membahayakan populasi hewan liar yang bersangkutan.
Masih menurut Cooke, sinyal radio dari alat pemancar dapat dicegat dengan mudah memakai peralatan radio sederhana. Sinyal dari alat pemancar GPS lebih sulit untuk dicegat karena sistem yang bersangkutan menggunakan bantuan satelit. Namun hal tersebut tidak lantas menunjukkan kalau alat pemancar GPS benar-benar aman karena data yang diterima dan disimpan oleh tim peneliti masih bisa diretas.
Hal tersebut pernah menimpa akun e-mail lembaga pelestarian harimau Satpura di India. Kendati peretasan tersebut berakhir dengan kegagalan, Cooke memperingatkan kalau cepat atau lambat bakal ada kasus peretasan yang berhasil. Cooke lantas meminta supaya tim peneliti dan pengembang alat pemancar menemukan cara baru untuk mencegah teknologi ini disalahgunakan oleh para pemburu liar.
