Kebumen,HarianBernas.com-Hari Senin (27/3/2017) siang, Bernas berada di halaman Polijiwa Puskesmas, Pejagoan, Kabupaten Kebumen. Terlihat seorang pemuda dengan tubuh bersih dan tegap berada di atas pohon alpokat. Ketika melewati di bawah pohon, si pemuda ini teriak menawari Bernas, buah alpokat yang ia petik. Hanya 2 buah yang bisa dipetik, tapi seluruhnya dibagikan kepada orang lain.
?Sudah izin Pak Dokter belum, berani mengambil alpokat?? tanya Bernas kepada pemuda, yang akhirnya menyebut namanya Surahman, warga Kecamatan Petanahan, Kebumen. Dengan cepat dia menjawab pertanyaan Bernas, ? Ya sudah, kalau tidak izin, saya tidak berani manjat,? kata Surahman (27), setengah berteriak.
Setelah turun dari pohon dan menyalami Bernas, dia bertanya pekerjaan Bernas karena siang itu sedang berada di Polijiwa Puskesmas Pejagoan. Saya mencoba untuk tidak menjawab apa adanya. Pertama kali, dia menyebut Bernas seorang psikolog. Dia tetap bersikukuh, saya seorang psikolog, meskipun dikatakan bukan itu profesi Bernas. Hubungan sosial dan nalarnya normal, meskipun dia penderita psikosis jenis schizofrenia.
Setelah diberi kata kunci, seseorang yang membawa kamera dalam bekerjanya, Surahman cepat sekali menjawab,?Wartawan!? Dialog pun terjadi. Dia mengaku tidak lulus SD, beberapa kali pindah sekolah karena sulit belajar. Sekarang, pekerjaannya serabutan. Terakhir, tukang becak dengan penghasilan yang tidak tetap. Dia juga mengaku, sering merasa rendah diri, kurang dihormati, termasuk istrinya yang mengantar berobat hari itu.
Dialog itu berakhir ketika dia melihat dr H Agus Sapariyanto, Kepala Unit Pelaksana Tekhnis Puskesmas Pejagoan. Dokter ini memimpin satu-satunya Puskesmas di Kebumen yang memiliki pelayanan polijiwa dan sangat akrab dengan Surahman, salah satu pasien polijiwa di puskesmas ini. Dia sangat antusias dan bersedia mengikuti pelatihan kerja, khusus pengidap psikosis. ? Ya saya mau Pak Dokter,? kata Surahman sambil bergegas mencari perawat yang disebut dr Agus Sapariyanto.
Kepada Bernas, dr Agus Sapariyanto mengatakan, Surahman memang akan dikirim mengikuti pelatihan kerja di Panti Sosial Karya Martani, di Nusa Wungu, Kabupaten Cilacap. Panti khusus penderita psikosis ini, sebagai tempat untuk melatih penderita psikotik agar bisa produktif. Cukup banyak pasien polijiwa Puskesmas Pejagoan sudah menjadi manusia produktif setelah dibawa keluarganya dirawat.
Malahan ada penderita schizonfrenia yang sebelumya dipasung keluarganya. Setelah menjalani perawatan di RSJ dr Soerojo Magelang dan rawat jalan di Puskesmas Pejagoan, mereka menjadi manusia produktif. Ada yang menjadi tukang batu, bengkel, dan dagang makanan. Diharapkan Surahman menjadi manusia yang lebih produktif dan merasa punya harga diri setelah menjalani pelatihan kerja.
?Ya pelatihan kerja salah satu terapi pengobatan penderita psikosis,? kata Kepala Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kebumen, Dr A Dwi Budi Satrio MKes kepada Bernas. Komitmennya, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ia pimpin siap untuk menindaklanjuti hasil pelatihan kerja di Panti Sosial Karya Martani, Cilacap.
Pelatihan di panti yang dikelola Dinas Sosial Jawa Tengah ini dilaksanakan selama 6 bulan. Peserta pelatihan diharapkan bisa bekerja sesuai keterampilannya. Tanpa ada penanganan setelah keluar panti, mereka tetap saja manusia tidak produkif. Ya memberi perhatian dan kesibukan kepada penderita psikosis menjadi salah satu terapi untuk mengurangi gangguan psikosis.(nwh)
