Bernas.id – Indonesia Nature Film Society (INFIS) kembali melalukan road show ke berbagai kota di Indonesia untuk memutarkan film-film dokumenter hasil dari karya mereka. Kali ini, INFIS datang ke Yogyakarta dan bekerjasama dengan Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya Universitas Gajah Mada mengadakan acara pemutaran film dan diskusi yang bertemakan ?Siapa Lagi Kalau Bukan Kita?, Jumat, 08 September 2017.
Baca Film Dokumenter Band The Velvet Underground Segera Digarap
Bertempat di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM, INFIS memutarkan 4 film bertema masyarakat adat dan alam yang berjudul Dari Para Leluhur, Penjaga Hutan Bumi Jargaria, Harapan, dan Sallombengan Seko. Tidak hanya sekedar menonton film, acara ini juga menampilkan diskusi atas film-film yang sudah ditampilkan. Ada tiga pembicara yang hadir dalam acara ini, yaitu Prof PM Laksono (Fakultas Ilmu Budaya UGM), Dr. Ahmad Maryudi, SHut, MFor (Fakultas Kehutanan UGM), dan Een Irawan Putra (Executive Director Indonesia Nature Film Society).
Baca Film Dokumenter Baru Eric Clapton Siap Tayang di Toronto Film Festival
Acara ini menarik untuk diikuti karena kenyataannya di luar sana cukup banyak kasus-kasus mengenai eksploitasi alam dan pengembangan oleh masyarakat adat yang belum kita ketahui. Acara ini mengajak para mahasiwa dan akademisi untuk bisa lebih membuka mata dan mengetahui mengenai kasus tersebut di luar sana.
?Ini kan menarik karena kita mengambil dari antropologi dan pembicaranya satu lagi dari kehutanan. Selama ini, kita antropologi mempelajari juga aspek alam dalam manusia, manusia hidup tidak bisa lepas dari alam dan juga kehutanan. Mungkin juga dalam acara ini, kami mempertemukan dua belah pihak supaya ada diskusi secara akademis soal kasus di film tersebut. Serta kami juga membuka beberapa kasus yang diangkat oleh INFIS. INFIS ini kan ada beberapa kasus eksploitasi alam dan pengembangan oleh masyarakat adat. Sehingga orang lebih tahu apasih yang terjadi pada kasus-kasus yang ada itu,? kata Rugun Sirait selaku Eksternal Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya.
INFIS sendiri dibangun dengan kesadaran dan siap menghadapi resiko serta konsekuensi yang akan mereka hadapi. INFIS berharap film dokumenter yang mereka putarkan kali ini bisa menegakkan keadilan dalam sumber daya alam dan meredakan konflik atas eksploitasi alam di wilayah masyarakat adat.
Baca Inilah Cuplikan Film Dokumenter Konser Pertama Slipknot di Meksiko
?Kami membangun INFIS ini dengan sangat sadar. Kami merasa bahwa informasi dan permasalahan dari masyarakat adat itu tidak banyak diangkat karena memang jauh dari akses media atau mungkin juga terkait dengan kendala komunikasi atau justru tidak marketable. Atau mungkin juga ada kecenderungan karena saling berhubungan dengan si pemilik saham modal. Karena menyadari hal itulah kami mencoba untuk membuatnya walaupun dengan konsekuensi dan resikonya, akan kita hadapi. Bagi kami penting untuk mengangkat kasus ini agar terjadi kelestarian sumber daya alam, keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam untuk generasi berikutnya. Sehingga kedepannya konflik itu bisa direda?, ujar Een Irawan Putra selaku Executive Director, Indonesia Nature Film Society (INFIS).
Selain di dalam road shownya, film-film dokumenter INFIS lainnya juga bisa dilihat masyarakat di youtube dan di websitenya.
