YOGYAKARTA, Bernas.id – Ada pemandangan berbeda di Jl Malioboro, Selasa (26/9) kemarin. Ruas jalan sepanjang 1,3 kilometer di jantung kota Jogja itu mendadak sepi. Hiruk-pikuk pengunjung Malioboro yang biasanya memadati bangku-bangku pedestrian, mendadak ?lenyap?. Lorong di sisi barat Jl Malioboro yang biasanya dipenuhi deretan lapak pedagang kaki lima yang menjajakan pakaian dan aneka kerajinan, mendadak lengang, kosong melompong.
Tidak hanya pedagang kaki lima dan pengunjung pedestrian, becak dan andong yang biasanya berjajar di sisi barat Jl Malioboro, juga ikut menghilang. Hanya ada beberapa orang yang berkumpul untuk berswafoto di depan papan penunjuk jalan Malioboro yang ikonik itu. Hanya kendaraan yang melintas yang terlihat mengisi kekosongan Jl. Malioboro.
Selasa (26/9) pagi kemarin, yang terlihat justru ratusan orang sibuk membersihkan jalan Malioboro. Pagi itu, diinisiasi Dinas Pariwisata Jogja, dan turut dihadiri walikota dan wakil walikota serta perangkat daerah lainnya, mereka secara bersama-sama membersihkan jalan legendaris tersebut. Bahkan semua pedagang yang biasanya berdagang di sepanjang jalan itu juga turut terlibat. Mereka libur berjualan sehari penuh.
?Kita ingin memberikan nafas kepada Malioboro sejenak,? ujar Kepala Dinas Pariwisata.
Dua jam kemudian, jalan Malioboro terlihat bersih, resik dan apik. Namun ada sesuatu yang aneh. Ada sesuatu yang hilang. Jalan yang biasanya sesak oleh pedagang dan wisatawan itu, jadi sepi dan hening. Tidak ada lagi orang berjualan cenderamata khas Malioboro. Tak ada lagi pedagang minuman khas semacam dawet ayu dan wedang uwuh. Jalan pagi di Malioboro yang diselingi makan pecel pincuk di depan Pasar Beringharjo, lenyap sudah.
Tidak ada lagi mbok-mbok yang sudah renta dengan jualan pisang kapok rebusnya yang super legit itu. Atau wangi sate gajih yang dibakar, dipadu dengan lontong. Semua terhenyak. Kemana Malioboro? Yang terlihat bukan jalan Malioboro, tapi sepotomg jalan yang resik dan bersih. Terasa bukan di Jogja.
Menjelang sore, keadaan tidak berubah, tetap sepi dan lengang. Seorang pegawai toko, tempat Bernas mengambil foto dari puncak tokonya, bercerita, ?Biasanya jam segini Malioboro sudah padat. Sekarang sepi. Ngga enak juga melihat Malioboro seperti ini.?
Para tukang becak lebih banyak tertidur di becaknya. Biasanya di sore hari mereka sudah mengantongi sekitar lima puluh ribuan, sekarang belum sama sekali. Malioboro yang bersih tapi sepi dan tidak menarik.
Beberapa pegawai toko juga lebih banyak berdiri di trotoar di depan tokonya menyaksikan Malioboro yang sepi. Sesekali terdengar petugas berteriak-teriak menggunakan Toa, melarang pedagang asongan yang mencoba-coba berjualan.
Seorang turis asal Belanda ikut juga terheran-heran melihat Malioboro yang kosong melompong. ?Ada apa? Saya dengar dari teman saya Malioboro itu ramai dan tempat jualan oleh-oleh etnik, tapi mengapa hari ini tidak ada?? tanyanya kepada Bernas.
Bernas mencoba menjelaskan bahwa hari ini Malioboro bebas dari para pedagang dan pengasong, untuk memberikan keleluasaan kepada turis menikmati jalan Malioboro. Bukannya berterimakasih atas penjelasan Bernas, turis itu malah menggerutu. ?Kami ke sini justru ingin melihat Malioboro yang ramai dan ingin membeli barang-barang etnik khas Jogja,? katanya.
Bernas mengarahkannya ke sebuah toko, tapi dia menolak dan melanjutkan perjalanannya. Sejurus kemudian ia berbalik. Ia bertanya dimana bisa membeli air mineral kemasan. Bernas juga baru sadar bahwa hari itu Malioboro juga bebas dari seluruh pedagang makanan dan minuman. Jadi kalau perut kosong dan dahaga ya salah sendiri, kenapa nggak membawa makanan dan minuman dari rumah. Kalau hanya sekadar bersih, apa yang dinikmati lagi dari Malioboro? Kalau hanya sekadar apik, apa yang akan dicari orang di Malioboro?
Yang diperlukan Malioboro tidak hanya sekadar bersih dan apik, tapi juga para pedagang yang menjual pernak-pernik Jogja yang khas itu. Juga para penjual makanan yang tidak akan ditemui di daerah wisata lainnya. Itulah yang membuat Malioboro hidup. Yang membuat Malioboro memiliki ruh. Kalau hanya sekadar bersih, semua juga bisa melakukannya. Tapi membuat seseuatu itu khas, sangat sulit. Jadi jangan membuang kekhasan Malioboro dengan sekadar alasan kebersihan.
Yang diperlukan adalah menata para pedagang yang khas itu menjadi tertib. Tidak hanya sekadar menarik uang iuran, uang kebersihan dan uang kemanan saja, tapi buatkan mereka kompartemen-kompartemen khusus untuk berdagang dan menyimpan dagangannya. Kompartemen itu dibuat sedemikan rupa sehingga menarik untuk dilihat. Ada berbagai model kompartemen yang menarik dan bercita rasa tinggi untuk pedagang kaki lima.
Coba tengok Singapura yang menata pedagang kaki lima dengan kompartemen yang menarik. Seragam dan sama ukurannya. Saat tengah malam, mereka hilang, lapak dan dagangannya disimpan di gudang khusus. Tempat itu kemudian berganti menjadi pedestrian dengan pedagang makanan yang menarik.
Sementara di Malioboro, kalau malam hari kompartemen kaki lima ditutup dengan terpal hitam yang kumal, seperti tumpukan sampah. Terlihat kotor. Inilah yang harus dibenahi. Jangan sampai Malioboro yang khas itu bersih, tapi kehilangan ruhnya.
Suasana Malioboro baru terlihat sedikit hidup menjelang malam. Beberapa bangku di jalur pedestrian mulai diisi sejumlah wisatawan. Namun, suasana lengang masih juga terlihat di sisi barat jalur Malioboro. Tidak ada pedagang kaki lima, tidak ada suasana transaksi jual beli barang-barang kerajinan seperti biasanya.
Meski sejumlah wisatawan mulai mendatangi Malioboro pada malam hari, tetap saja ada pemandangan aneh. Restoran dan gerai makan di sekitar jalan utama Malioboro diserbu pembeli. Beberapa wisatawan yang duduk di bangku pedestrian terlihat menikmati es krim dan roti yang dibeli dari supermarket. Mereka tidak bisa menemukan makanan khas Jogja yang biasa dijual pada pedagang kali lima. Bernas bahkan menyaksikan ada beberapa pengunjung Malioboro yang minum bir dalam kemasan kaleng. Sebab, mereka tak bisa menemukan pedagang asongan yang biasanya menjajakan minuman di sepanjang Malioboro.
Program Selasa Wage
Sepinya Malioboro sepanjang hari kemarin, merupakan imbas dari program ?Resik-resik Malioboro? yang dicanangkan Pemerintah Provinsi DIY. Program ini dilaksanakan setiap Selasa Wage. Dengan demikian, pemandangan Jl Malioboro yang lengang itu akan terjadi setiap 35 hari sekali. Program Selasa Wage di kawasan Malioboro kemarin, baru kali pertama dijalankan. Program Selasa Wage ini berlangsung seharian penuh, mulai pukul 00.00 WIB.
Meski kegiatan utamanya ?resik-resik?, tetap saja ada pengencualian. Hotel, toko dan area parkir Malioboro tetap boleh buka dan beraktivitas. Pada saat yang sama, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro melakukan kegiatan bersih-bersih di sepanjang kawasan legendaris ini. Kerja bakti ini ditujukan untuk membersihkan jalan sepanjang 1,3 kilometer, mulai depan Hotel Inna Garuda hingga Titik Nol Yogyakarta.
?Yang penting gerakan ini continue, rutin,? ujar Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, saat ditemui Bernas di kawasan Malioboro, Selasa (26/9).
Lengangnya Malioboro yang tak seperti biasanya itu sempat membuat kaget para wisatawan. Mereka tidak menyangka jika Malioboro ?tutup?. Nindya Paramita (24), salah satu pengunjung dari Magelang sempat mengungkapkan kekecewaannya karena tidak berhasil membeli buah tangan dari Malioboro.
?Ke sini (Malioboro) memang mau beli barang, tapi nggak tau kalau ternyata tutup. Padahal mau beli oleh-oleh,? katanya dengan nada kecewa.
Malioboro boleh disebut ruhnya Jogja. Itu sebabnya Pemprov DIY memberi perhatian khusus terhadap kawasan Malioboro. Salah satunya adalah melalui program revitalisasi Malioboro yang telah menghabiskan anggaran puluhan miliar rupiah itu.
Namun, wajah Malioboro yang semakin cantik berkat program revitalisasi itu, ternyata belum dibarengi dengan kesadaran pengunjung dan pedagang untuk menjaga kebersihan. Berdasarkan pengamatan Bernas, setiap harinya selalu ada sampah yang berserakan di sekitar area pedestrian dan PKL. Bangku dan hiasan taman di sisi timur Jl Malioboro sudah ada yang rusak dan kotor. Tak hanya itu, area pedestrian yang seharusnya bersih dari PKL, masih sering digunakan oleh penjaja makanan kaki lima. Sampah dan limbah sisa makanan juga sering dibuang di area pejalan kaki tersebut.
Tak hanya area pedestrian yang belum terbebas dari sampah, aktivitas pengamen juga menjadi salah satu masalah serius di Malioboro. Tak sedikit pengunjung yang merasa terganggu dengan keberadaan para pengamen yang datang silih berganti.
Deny Hermawan (33), seorang waga Jogja punya pengalaman kurang menyenangkan ketika berkunjung di Malioboro. Kepada Bernas, ia mengaku terganggu dengan aktivitas pengamen yang dinilainya tidak bisa menghargai privasi orang lain.
?Pengamen di Malioboro banyak banget, kayaknya nggak terkontrol. Baru duduk-duduk sebentar aja udah banyak yang nyamperin,? ungkap Deny.
Isu kebersihan dan kenyamanan inilah nampaknya menjadi perhatian khusus pengelola kawasan Malioboro. Karena itulah kemudian dicanangkan Program ?Bersih-bersih Malioboro? setiap Selasa Wage. (cay/tia)
