Bernas.id – Setiap orang tua pasti mendambakan kesuksesan untuk anak-anaknya. Tenaga, biaya, dan doa dicurahkan sepenuhnya, supaya anak bisa mendapat pendidikan terbaik dan mencapai impiannya. Dalam perkembangannya, ketika anak memasuki masa remaja, masa rentan berproses menuju dewasa.
Secara fisiologis, tubuh remaja mengalami perubahan besar karena hormon reproduksinya yang mulai bekerja. Sehingga meski remaja tidak membuat masalah pun, mereka akan tetap memiliki masalah sehubungan dengan perubahan tubuhnya. Ditambah lagi, otak remaja yang mengatur tentang pengambilan keputusan belum terhubung dengan sempurna. Akibatnya, remaja sering lepas kendali emosi, keluar dari jalur etika dan lupa cita-citanya.
Lalu, bagaimana cara orang tua mendidik dan mendampingi para remaja supaya mereka tetap bisa meraih sukses? Belum lagi di abad 21 ini, pengaruh arus globalisasi dan digital begitu luar biasa mempengaruhi perilaku dan sikap remaja.
Salah satu caranya adalah dengan melihat selama ini kita mendidik mereka sebagai seorang pesaing atau seorang pejuang. Wah, apa bedanya ya?
Mendidik anak menjadi seorang pesaing, berarti kemampuan anak tersebut sering dibanding-bandingkan dengan orang lain, entah dengan saudara atau teman sebaya. Sehingga, saat remaja anak tersebut akan selalu mencari teman untuk bisa bersaing. Kalau memilih jurusan di universitas, ia akan memilih jurusan paling banyak pesaingnya atau universitas negeri yang masuknya susah, hanya semata-mata untuk bisa memenangkan persaingan. Sebagai seorang pesaing, biasanya anak mengambil jalur mainstream yang sudah pasti karirnya atau jalur karir yang sudah disiapkan orang tua.
Sementara, orang tua yang mendidik anak menjadi seorang pejuang, berarti orang tua siap menerima bila cita-cita anak berbeda dengan harapan. Anak memiliki kepercayaan diri dan visi kuat apa yang bisa dilakukan sekarang dan apa yang akan ingin dilakukannya di masa depan. Saat memilih jurusan di universitas, dia akan memilih jurusan yang memang sesuai dengan visi dan hasratnya, terlepas jurusan tersebut kompetitif atau tidak. Pilihan karirnya lebih luas karena ia berani mengambil jalur anti-mainstream.
Dalam menghadapi hidup, anak pesaing akan kebingungan bila jalur karirnya terganggu dan hanya mencari karir yang sama, sementara anak pejuang akan cepat beralih mencari peluang lain. Anak pesaing akan lebih cepat putus asa saat karirnya jatuh, sementara anak pejuang akan cepat bangkit dan berjuang lagi. Pola pikir anak pesaing akan sama dengan lingkungannya sehingga lebih rentan terbawa arus.
Sementara, anak pejuang akan berbeda dan bisa tidak peduli bahkan menolak bila teman-temannya mengajaknya menuju keburukan. Anak pesaing lebih cepat stres karena apa yang dilakukannya bukan pilihan hati. Sementara anak pejuang, tidak akan cepat stres karena mereka menemukan kepuasan batin saat bekerja.
Keduanya, anak pesaing maupun pejuang tentu meraih sukses masing-masing. Namun, kesuksesan menjadi semu bila pada akhirnya anak menjadi stress dan akhirnya bilang mereka salah jurusan atau salah karir. Sehingga, bila selama ini orang tua mengkondisikan anak menjadi seorang pesaing, coba mulai membentuknya menjadi seorang pejuang. Sehingga anak bisa sukses meraih tujuan hidup dan cita-cita sesuai hasratnya.
