( Artikel sebelumnya #1: https://news.bernas.id/49363-ananda-mau-dibawa-ke-mana-ayah-dan-bunda-harus-punya-visi—1.html )
Bernas.id – ?Kalau cuma motor itu kecil. Berapa sih harganya? Itu bisa dibeli,? begitu ternyata jawaban dahsyat Bapak Budi yang membuat Budi berharap-harap cemas. Tapi harapan Budi luntur saat bapaknya meneruskan bahwa bukan dia yang bisa beli motor itu. Bapaknya hanya ingin Budi sekolah lebih tinggi dan lebih bangga bisa beli motor sendiri. Mandiri dan tidak membanggakan apapun yang dibelikan orang tua.
Itulah pelajaran berharga dari ketidakpunyaan Bapak Budi kala itu. Inilah teladan orang tua yang punya visi akhirat, landasannya tauhid. Sesuatu dapat dibeli, bukankah Allah Maha Kaya? Namun, jika Allah menghendaki kita untuk tidak membelinya, bukan berarti Allah tidak mengabulkannya. Ada hikmah lain yang menurut Allah terbaik bagi kita.
Lanjut pengalaman Budi dengan sang ibu. Budi pernah mendaftar Jurusan Fisika di IKIP Yogyakarta. Setelah serangkaian tes dia ikuti, pada tahap tes kesahatan dia gagal. Jurusan yang bisa dimasuki setelah kegagalan itu adalah Bahasa Indonesia. Budi yang sudah mengidam-idamkan masuk jurusan mentereng favoritnya stress dan menangis saat sampai di rumah. Ibunya, yang hanya lulusan SD, menanyakan apa yang terjadi. Lalu mengalirlah cerita sedih Budi di calon kampusnya. Apa yang dikatakan wanita hebat tersebut? ?Nak, kembalilah besok ke kampus. Memangnya kamu jika kuliah di bahasa Indonesia, Allah enggak akan kasih kamu makan?? Betapa kuatnya landasan iman kepada Allah SWT terpatri di dalam hati Ibu Budi.
Hikmahnya, sebagai orang tua pasti kita punya keterbatasan. Entah itu kurang pandai, miskin dan lain sebagainya. Tapi yang harus kita ingat, selalu tunjukkan bahwa Allah Maha Besar. Jangan segan meminta pertolongan kepada-Nya. Jangan minder akan harta yang dimiliki, karena harta merupakan ujian kita untuk naik kelas. Landasan iman yang dimiliki orang tua Budi mengajarkan kita bagaimana memegang janji Allah dalam situasi apapun.
Visi itu seperti panduan arah. Bayangkan saat kita bepergian naik pesawat. Visi bak jalur penerbangannya. Memandu kita membesarkan anak-anak. Kita bisa saja melenceng saat mendampingi keluarga dan visi akhirat ini mengembalikan kita kembali ke 'penerbangan' semula. Contohnya, jika ibu sudah mulai emosi (menyimpang jalur) saat anak makannya lama padahal ibu akan berangkat kerja dan mungkin saja telat, anak mengingatkan untuk kembali bagaimana bersikap dengan menuturkan Hadist Nabi yaitu ?Jangan marah maka bagimu surga.? Inilah visi akhirat keluarga, mengantarkannya ke jalur 'penerbangan' semula.
Begitu juga para ayah yang punya visi akhirat akan gampang diajak 'kembali'. Misalnya saat suami malas shalat ke masjid. Istri yang tadinya sudah bersepakat dengan suami untuk memegang visi akhirat akan menegur. Istri yang memiliki visi akhirat akan menjawab bahwa 'Aku tidak lebih dibutuhkan daripada shalatmu di akhirat'. Suami istri dalam memiliki visi akhirat harus kompak. Saat salah satu kenceng (kuat) dan yang lain kendo (lemah), yang kenceng mengingatkan yang kendo.
Adem bener, ya, keluarga seperti ini?
