Bernas.id – Saat mengawali tulisan ini, otak saya memutar memori sekian megabyte pada masa lalu. Ketika itu saya masih menjadi duty manager di salah satu supermarket di Kota Kripik, Purwokerto. Saat jam makan siang tampak seorang wanita tua kumal berselempang kain batik lusuh memasuki store. Pandangannya menengok ke sana kemari membuat satpam bergerak mendekat dan bertanya. Nada bicara satpam sedikit keras seakan membentak. Maklum suara satpam keras tegas.
?Pripun, Yung?? (Bagaimana, Bu?)
Wanita itu kaget, sambil mendekati satpam dia membuka mulut, ?Anu …..?
Belum selesai bicara, satpam memegang tangan wanita itu sambil menyelipkan beberapa uang recehan, ?Mpun, mriko!? (Sudah, sana!). Satpam memberi isyarat agar wanita itu pergi menjauh dari lokasi toko.
Wanita itu memandang recehan di telapak tangannya, sedetik kemudian dia memandang ke arah satpam,
?Sampeyan nganggep aku iki gembel tukang ngemis, po?!? (Kamu anggap aku ini gelandangan pengemis, ya?!). Tatapannya bagaikan panah yang menembus mata.
?Aku iki arep blonjo kulakan nggo warungku. Iki lho, dhuwitku akeh.? (Aku ini mau belanja untuk warungku. Ini lho, uangku banyak).
Wanita itu membuka ujung kain yang di sana ada sebuah lipatan terikat. Dia keluarkan berlembar-lembar uang ratusan ribu rupiah. Sebuah kebiasaan orang-orang tua jaman dahulu menyelipkan uang di lipatan kain.
Tampak satpam itu merunduk sambil meminta maaf. Dia menerima kembali recehan dari wanita itu. Kemudian mempersilahkan wanita itu menuju stand. Saya mengikutinya dari belakang. Setibanya di stand, pramuniaga membiarkan saja wanita itu agak lama. Hingga tak sabar akhirnya wanita itu berkata,
?Mbak, mie soto nyuwun gangsal dus, sabun detergen setengah kiloan gangsal dus.? (Mbak, mie soto minta lima dus, sabun detergen setengah kiloan lima dus).
Tanpa banyak bicara pramuniaga segera mengambilkan apa yang diminta wanita itu. Kemudian ?mengusirnya? agar segera ke kasir. Padahal wanita itu masih akan membeli beberapa barang lagi.
Kasus tersebut tidak hanya terjadi sekali. Mungkin hal itu juga pernah terjadi di stand Anda. Perlakuan pramuniaga kepada orang berpakaian kumal, berwajah tua, sangat tidak bersahabat. Sungguh berbeda saat ada pengunjung berpenampilan modis. Pramuniaga cenderung melayani mereka yang berpakaian bagus dan cantik. Sedangkan pembeli yang tampak biasa mereka enggan melayani. Ironis, jika pramuniaga menilai daya beli seorang pengunjung hanya dari pakaian luarnya. Penghormatan kepada pengunjung atau pelanggan semestinya sama rata, tidak pilih kasih. Ini demi menegakkan prinsip pelayanan prima.
Baca Juga : Wahai Pramuniaga, Hindari 4 Jenis Kalimat Ini Saat Melayani Pembeli
Pesan moral yang ingin saya sampaikan ialah seorang pramuniaga tidak perlu memandang daya beli pengunjung dari penampilannya. Berapa banyak gelandangan yang memiliki uang ratusan juta rupiah di gerobak tidurnya. Berapa banyak pula orang berpakaian rapi namun hanya membeli sedikit saja belanjaan di supermarket. Selebihnya mereka hanya jalan-jalan saja. Sayangilah orang-orang tua yang datang hendak berbelanja di toko Anda. Mereka butuh perhatian dan kasih sayang, terutama dari Anda sebagai pramuniaga.
