Bernas.id – Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara. Sejak jaman Majapahit dikenal dengan sebutan Nusantara. Sebagai negara kesatuan yang terdiri dari perairan laut dan pulau-pulau, tercatat sebanyak 18.306 buah pulau berdasarkan hasil kajian citra satelit pada Tahun 2002. Kemudian pada tahun 2004, Departemen Dalam Negeri menyatakan bahwa 7.870 pulau memiliki nama, sedangkan 9.634 pulau tak bernama. Sedangkan jumlah pulau yang berpenghuni hanya sekitar 6.000 pulau.
Nusantara ini sangat indah. Tepat sekali digambarkan oleh grup band legendaris Koes Plus sebagai bukan lautan, hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Subur makmur, gemah ripah loh jinawi, tiada kekurangan pangan. Sehingga pada zaman pemerintahan Presiden Soeharto banyak desa-desa berstatus swasembada. Artinya, desa tersebut mampu mencukupi sendiri kebutuhan hidup warga masyarakatnya.
Menurut data Kementerian Dalam Negeri Tahun 2013, terdapat 72.944 wilayah administratif desa dan 8.309 wilayah administratif kelurahan.
?Jadi, teman-teman kalau mau membangun Indonesia yang kuat, mau tidak mau kita harus membangunnya dari desa.? Ujar Putu Putrayasa, CEO Bernas.
Gagasan yang sering kita dengar adalah One Village One Product, artinya satu desa satu produk usaha. Namun kemudian beliau menyampaikan satu gagasan dari buku ?Membangun Indonesia Dari Desa? yang ditulis oleh Bapak Prof. Gunawan Sumodiningrat, Ph.D. dan Ibu Ari Wulandari, S.S., M.A. Yaitu gagasan tentang One Village One Corporation. Artinya, satu desa memiliki satu perusahaan. Bukan satu usaha.
Agar tujuan tersebut tercapai, maka pembangunan desa diprioritaskan pada pembangunan sumber daya manusianya. Sekali lagi, prioritas pada pembangunan sumber daya manusia. Meliputi karakter, percaya diri, pengetahuan, keterampilan dan semangat. Potensi desa yang beraneka ragam akan percuma saja jika masyarakatnya hanya mengandalkan dana bantuan. Kenyataan yang kita lihat hari ini bahwa Indonesia sebagai negara maritim, mengapa harus mengimpor garam? Ditambah mengimpor produk lainnya. Padahal potensi alamiah total panjang pantai Indonesia mencapai 99.093 kilometer (Badan Informasi Geospasial/BIG), lahan pertanian masih luas, teknologi pabrik sudah memadai, tapi semuanya harus menelan pil pahit impor. Dalam catatan BPS terbaru tentang ekspor-impor, pada bulan Juli 2017 jumlah total ekspor senilai US $13.611.209.289,64 sedangkan jumlah total impor senilai US $13.885.615.028,00. Artinya, nilai ekspor lebih rendah daripada impor. Uang Indonesia lebih banyak mengalir ke luar negeri.
Kondisi tersebut di atas menguatkan gagasan Bapak Prof. Gunawan Sumodiningrat, Ph.D. dan Ibu Ari Wulandari, S.S., M.A. tentang ?Membangun Indonesia Dari Desa?. Sebuah gagasan pemberdayaan desa sebagai kunci kesuksesan pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Desa harus dibangun masyarakatnya.
?Bagaimana kita menggabungkan resource desa dengan resource kota? Contoh, SDA dengan digital regulasi dengan aktivitas masyarakatnya. Banyak potensi desa yang tidak tergarap karena yang memikirkan resource-nya sangat terbatas. Kita mungkin perlu membuat semacam pendampingan desa melalui online. Ini Bro Brili dan tim sudah jagonya, biar pendampingan seperti ini kita lakukan melalui online dan berbagai macam teknologi,? kata Putu Putrayasa sambil merekomendasikan Brili Agung, CEO Inspirator Academy.
