Bernas.id ? Korea Selatan (Korsel) dikenal sebagai salah satu negara termaju di dunia. Namun hal tersebut tidak lantas membuat budaya klenik di negara tersebut ditinggalkan sepenuhnya. Justru belakangan jumlah dukun dan tukang ramal di negara tersebut tengah meningkat sebagai akibat dari tengah melesunya perekonomian negara.
?Saat ekonomi menurun, rumah-rumah peramal juga mengalami resesi, namun ada kecenderungan kalau jumlah praktisi spiritual juga meningkat. Saat rumah tangga mengalami keretakan akibat masalah ekonomi, banyak orang yang kerasukan roh dan kemudian menjadi dukun,? kata antropolog Jo Sung Je yang sudah mempelajari perdukunan di Korsel selama 30 tahun.
Alasan di balik meningkatnya jumlah peramal di Korsel adalah karena profesi ini dianggap bisa menjadi jalan pintas untuk keluar dari kemiskinan. ?Ibu rumah tangga menghadiri kelas (kursus peramal) di siang hari dan pengusaha yang hendak pensiun menghadiri kelas malam. Makin banyak kelas yang dibuka dan makin banyak orang yang menggunakan aplikasi peramal nasib,? kata seorang pegawai di akademi peramal.
Dukun dan peramal sekilas terlihat sebagai profesi yang serupa, namun di Korsel keduanya dibedakan berdasarkan metode yang digunakan. Dukun atau mudang menggunakan bantuan roh untuk meramalkan masa depan seseorang, sementara peramal menggunakan raut wajah dan panduan dari buku filosofi sebagai pedoman untuk meramalkan nasib kliennya.
Banyaknya dukun dan peramal di Korsel lantas berdampak pada banyaknya organisasi-organisasi yang didirikan khusus untuk mewadahi mereka. Federasi Kyungsin Korea adalah salah satu yang terbesar dan memiliki anggota berjumlah 500 ribu orang. Sebagai perbandingan, pada tahun 2006 jumlah anggota organisasi tersebut hanyalah 140 ribu orang.
