Bernas.id ? Bali, dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dengan pesona alam dan kebudayaan yang beragam dan unik. Gebug ende merupakan salah satunya. Tradisi ini berasal dari Desa Seraya, Karangasem, sehingga sebagian orang menyebutnya ?Gebug Seraya? sesuai dengan tempat dimana tradisi ini ada.
Gebug ende berasal dari kata gebug yang berarti memukul. Alat pemukulnya berupa rotan yang panjangnya satu setengah sampai dua meter. Sedangkan, kata ende berarti alat yang digunakan sebagai tameng saat melakukan permainan. Berupa kulit sapi yang dikeringkan, kemudian dianyam berbentuk lingkaran. Tradisi ini dilatarbelakangi oleh kondisi geografis Desa Seraya yang kering dan tandus, sehingga ketika kemarau tiba masyarakat setempat sangat mengharapkan turunnya hujan. Supaya sawah mereka tidak mengalami gagal panen karena kekeringan. Situasi yang demikian, membuat masyarakat setempat berunding dan akhirnya tercetuslah ide untuk melakukan tradisi sakral dengan tujuan untuk memohon hujan pada Sang Hyang Widhi Wasa.
Tradisi gebug ende biasanya digelar pada sekitar bulan Oktober-November. Tradisi ini dilakukan oleh anak-anak sampai dewasa. Peserta terdiri dari dua orang laki-laki yang memakai pakaian adat Bali dilengkapi dengan udeng (ikat kepala khas Bali) yang berwara merah, sebagai lambang dari keberanian. Sebelum permainan dimulai, para juru banten (semacam sesajen) melakukan ritual bekat untuk memohon kelancaran acara dan kemakmuran bagi penduduk Desa Seraya khususnya. Permainan berlangsung selama sepuluh menit dipimpin oleh dua orang saye (wasit). Sebelum permainan dimulai, saye juga bertugas untuk memperagakan dan membacakan uger-uger atau aturan permainan. Uger-uger tersebut diantaranya: pemain hanya boleh memukul di atas pinggang hingga kepala, tidak boleh memukul di bawah pinggang sampai kaki, permainan berakhir jika salah satu pemain terdesak. Permainan gebug ende diiringi oleh gamelan, untuk menambah semarak dan ketegangan. Masyarakat setempat percaya bahwa bila salah satu pemain gebug terluka hingga darah mengucur, maka kemungkinan hujan akan turun lebih cepat.
Itulah salah satu tradisi di Indonesia yang perlu dikenal dan dilestarikan oleh kita.
