Bernas.id – Wayang merupakan salah satu warisan dunia yang sudah diptenkan sebagai warisan budaya Indonesia non bendawi pada UNESCO. Di berbagai daerah Indonesia memiliki banyak jenis wayang. Di antaranya wayang kulit, wayang golek, wayang suket, wayang krucil dan masih banyak yang lainnya. Namun tahukah Anda pembuatan wayang itu didasarkan oleh apa?
Persebaran wayang pada waktu itu disebarkan karena faktor agama. Salah satunya Sunan Kalijaga sebagai salah satu dari tokoh Walisanga yang berasal dari Demak. Melakukan persebaran ajaran Islam melalui media wayang. Jauh sebelum Sunan Kalijaga menyebarkan ajaran Islam melalui media wayang. Sebenarnya wayang sudah ada terlebih dahulu. Bahkan persebaran wayang tidak hanya di Indonesia saja. Melainkan di berbagai daerah lain seperti India dan Yunani.
Cerita wayang yang cukup terkenal di berbagai negara salah satunya epos Mahabarata. Tidak hanya di Indonesia saja, di India pun terdapat cerita Mahabarata. Meskipun memiliki tokoh yang sama namun antara dua negara tersebut memiliki perbedaan. Cerita wayang Mahabarata di Indonesia menyisipkan tokoh Punokawan (Semar, Petruk, Gareng, Bagong) di sela-sela cerita Mahabarata sebagai tokoh penasehat bagi para Pandhawa. Sedangkan cerita wayang di India tidak terdapat tokoh Punokawan, melainkan masih cerita utuh.
Dalam cerita wayang Mahabarata di Indonesia dikenal dua kubu sebagai gambaran kebaikan dan keburukan. Kubu kebaikan di pegang oleh para Pandhawa sedangkan kubu keburukan dipegang oleh para Kurawa yang jumlahnya 100. Pada saat perang Barathayudha melihat jumlah Kurawa yang jauh lebih banyak dari Pandhawa seharusnya kemenangan di pegang oleh pihak Kurawa. Namun kenapa kemenangan dipegang oleh pihak Pandhawa?
Karena kedua karakter tokoh pewayangan Pandhawa dan Kurawa sebagai gambaran dari sifat manusia. Pandhawa sebagai simbol karakter kebaikan, sedangkan Kurawa sebagai simbol karakter kejahatan. Sudah hukum alam, bahwa kejahatan atau angkara murka akan kalah dengan kebaikan. Oleh karena itu meskipun Pandhawa jumlahnnya jauh lebih sedikit mampu memegang panji kemenangan saat perang Barathayudha.
Oleh karena itu ,saat pagelaran wayang berlangsung dalang akan memerankan berbagai macam tokoh wayang dengan suara yang berbeda-beda. Suara yang berbeda-beda itu menandakan sifat dan tingkah laku setiap karakter wayang berbeda. Ketika pagelaran wayang dalang berperan sebagai Tuhan yang melakonkan tokoh wayang dan takdir masing-masing tokoh wayang.
Pada dasarnya manusia memiliki dua sifat dalam dirinya, yakni sifat baik dan sifat buruk. Keduanya pasti ada dalam diri manusia. Namun manusia lah yang akan menentukan mana yang dominan dalam dirinya. Karna sejatinya seperti yang diperankan dalam pewayangan kebaikan akan menumpas angkara murka.
