JAKARTA, Bernas.id – Sepuluh tahun terakhir, pasar saham menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah tumbuh empat kali lipat selama jangka waktu tersebut. Namun, Indonesia belum memiliki Analis Invesment Banker yang bersertifikat.
Mengatasi kondisi tersebut, TAP Kapital Indonesia menyelenggarakan Sertifikat Investment Banker yang terdiri dua level, yakni Registered Invesment Banker (RIB) dan Certified Investment Banker (CIB). Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan menyatakan belum adanya Analis Invesment Banker yang bersertifikat. Di sisi lain, kebutuhan transaksi investasi keuangan di pasar modal terus meningkat. Apalagi menyambut MEA. “Peserta kursus ini akan menjadi angkatan pertama yang memiliki sertifikat. Profesi ini sangat dibutuhkan pasar. Jumlah emitan terus bertambah tiap tahun, begitu juga aksi bisnis terus berkembang dari waktu ke waktu,” ujar Haryajid, kepada Bernas, di Jakarta, Jumat pekan kemarin (17/11/).
Baca juga: Inilah 7 Daftar Aplikasi Investasi Resmi Versi OJK
Haryajid menjelaskan kompetensi sertifikat diterbitkan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN). Sedangkan pihak penyelenggara ujian berasal dari Lembaga Sertifikasi Profesi Pasar Modal (LSP-PM). Haryajid yang juga pimpinan LSP-PM menyatakan, pihaknya sudah menyusun standar kompetensi Analis Investment Banker ini selama empat tahun terakhir, dan baru diimplementasikan pada tahun ini.
Nantinya, lulusan kursus Sertifikasi Analis Invesment Banker ini akan diharapkan me-arranger transaksi dari pembiayaan di perbankan ke pasar modal. Saat ini, aksi bisnis penerbitan surat utang, penerbitan Medium Term Notes (MTN), merger dan akuisisi terus berkembang. “Materi pelatihan ini sangat lengkap. Para peserta yang mayoritas adalah analis di perusahaan masing-masing akan mendapatkan materi tentang proses IPO, merger, akuisisi, penerbitan MTN, obligasi, global bond, skema tender offer (penawaran tender sukarela), fundraising (aksi penggalangan dana), due diligence dan lain-lain. Selain teori, mayoritas pelatihan adalah praktek. Sedangkan para pembicara adalah Agutini Hamid, Frederik Wattimena, Yohanis Hanskwee, Budi Muharsyah. Kemudian, Edwin J Sebayang, Teguh Budiyanto, Yuniar Restanto serta J Ferdinand H Pardede.
Salah satu peserta pelatihan, Rama Gautama, mengapresiasi Kursus/Pelatihan Analis Investment Banking yang diselenggarakan TAP Kapital Indonesia dengan lembaga penguji dari LSP-PM. Karena pelatihan ini memadukan kombinasi berbagai skill komplet yang dibutuhkan para analis, seperti valuasi, structuring, tax (pajak), akunting, finansial, legal, bisnis analis dan manajemen. “Sejauh ini, belum ada pelatihan yang hasilkan analis multi skill. Padahal, pasar modal sedang membutuhkan SDM seperti ini,” papar CEO at McMillan Woods Indonesia ini.
Baca juga: Inilah Jam Buka Bursa Saham di Indonesia 2021
Kelebihan Pelatihan Analis Investment Banking, menurutnya, ada dua aspek. Pertama, menghasilkan SDM siap pakai yang dibutuhkan emiten di pasar modal dan industri perbankan, karena multi skill. Kemampuan teknis yang memadai dari SDM dari pelatihan ini akan memandu, mengeksekusi hingga memonintor aksi bisnis perusahaan-perusahaan terbuka dan atau perusahaan perbankan yang berinteraksi dengan emiten.
Aspek kedua, lanjutnya, adalah terbentuknya koneksi atau sharing antar peserta dan pengajar. “Dengan adanya jejaring ini, analis akan mudah mencari solusi jika menangani aksi-aksi bisnis yang dianggap baru atau sulit. Sehingga dapat insight atau solusi (exit strategy) dan ini membantu klien dari masing-masing analis,” katanya.
Sejauh ini, menurut dia, analis yang memiliki multi skill adalah mereka yang dididik secara inhouse training oleh perusahaan di tempat analis tersebut bekerja. Seperti skill dasarnya adalah finance bergelar MBA, kemudian mendapat pendidikan berkala sehingga memiliki kemampuan komplet. “Ada pula analis dengan multi skill berasal dari pengalaman demi pengalaman ketika menangani sejumlah aksi-aksi bisnis/korporasi,” paparnya. Rama setuju bila TAP Kapital Indonesia memperbanyak agenda pelatihan ini di kemudian hari. Agar jumlah SDM analis Investment Banking semakin bertambah.
Apalagi, ke depan, aksi-aksi bisnis seperti proses IPO, merger, akuisisi, penerbitan MTN, obligasi, global bond, skema tender offer, fundraising, due diligence dan lain-lain, terus berkembang. Seperti tren disrupsi perusahaan lama yang berusia puluhan-ratusan tahun ketika hendak menggelar exit strategy agar tidak terlindas zaman. “Bisa jadi, perusahaan tersebut tidak rugi, malah revenue-nya bagus. Tapi, karena ikuti tren atau tidak diwariskan ke anaknya, dia lepas perusahaan dengan cara akuisisi, merger atau exit strategy yang lain,” beber Rama.
Baca juga: Mengenal IHSG, Cara Membaca, Jenis, Manfaat, dan Istilah Terkait
Salah satu pengajar Pelatihan Analis Investment Banker, Edwin Sebayang, memaparkan adanya skema bajak membajak analis dengan kemapuan multi skill. Hal ini dikarenakan peningkatan jumlah emiten, jumlah investor serta aksi bisnis di pasar modal. “Di sisi lain, kebutuhan analis dengan kompetensi lengkap masing sangat kurang,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Edwin Sebayang, Analis MNC Securities, memberikan materi A hingga Z seputar valuasi, structuring, tax (pajak), akunting, finansial, legal, bisnis analis dan manajemen. Dengan porporsi teori dan studi kasus yang pernah ditangani langsung atau tidak langsung oleh Edwin Sebayang. Dia juga memaparkan beragam pilihan exit strategy bagi perusahaan emiten seperti proses IPO, merger, akuisisi, penerbitan MTN, obligasi, global bond, skema tender offer, fundraising, due diligence dan lain-lain.
Pasar Modal Dukung Proyek Nasional
Saat ini, Pasar Modal Indonesia sudah menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik bagi para investor domestik maupun mancanegara (asing). Pasar Modal Indonesia juga sudah berkembang menjadi salah satu sumber pendanaan jangka panjang (source of longterm financing) yang penting bagi dunia usaha. Pemerintah juga memanfaatkan pembiayaan dari transaksi pasar modal untuk membiayai berbagai program pembangunan nasional (seperti proyek infrastruktur), karena saat bersamaan pembiayaan dari sektor perbankan cenderung berjangka pendek dan terbatas.
Ketika pasar modal yang memperjualbelikan efek terus berkembang, maka tak pelak berimbas positif pada industri perbankan. Sehingga bisa mendorong perusahaan efek memperluas jaringan penjualan dan pemasarannya agar bisa menjangkau lebih banyak daerah di Indonesia.
Sebagai salah satu institusi jasa keuangan dengan jaringan penjualan dan pemasaran yang sangat luas, kalangan industri perbankan diharapkan diminati para pemodal domestik perorangan (ritel) atau institusi (korporat). Sehingga peranan perbankan bukan hanya commercial banking, namun juga menjadi investment banking.
Kegiatan commercial banking adalah melayani masyarakat luas dalam menyimpan dana serta memberikan pinjaman. Aktivitas investment banking yaitu menawarkan jasa perdagangan dan penjaminan efek, manajer investasi serta jasa-jasa dibidang pasar modal. Dengan demikian nasabah bisa mendapatkan jasa keuangan dalam satu atap.
Baca juga: Begini 3 Cara Membeli Saham Bagi Pemula dengan Mudah
-1024x576.jpg)