Bernas.id – Semangat mendesain ulang Indonesia harus melekat kuat dalam sanubari bangsa Indonesia. Desain ulang ini memerlukan pondasi yang kuat dan kekuatan pondasi ini harus dibangun dari desa. Ya, desain ulang Indonesia dari desa. Oleh karena itu, tidak ada salahnya bila kita buat manuver di desa. Bukan merombak tatanan yang sudah ada, bukan pula menyalahkan satu sama lain. Tapi, semangat perbaikan yang muncul guna memaksimalkan sumber daya yang ada di desa. Semua sumber daya alam, sumber daya manusia, dan segenap potensi yang ada di desa, sudah semestinya kita kelola semaksimal mungkin. Mari kita ciptakan desa-desa sebagai miniatur Indonesia lengkap dengan para ?menteri? dalam ?kabinet? desa.
Mari sederhanakan konsep dengan menggunakan istilah ?Ping! Pink! Punk!? dalam rangka melekatkan ide ke dalam otak kita. Berikut penjelasannya.
Ping!
Istilah ini adopsi dari sapaan khas BBM (Blackberry Messenger). Ada banyak pihak yang perlu di-?Ping!? dalam rangka menciptakan desa yang berkualitas.
Pink!
Ini adalah salah satu jenis warna yang berarti merah jambu. Kita perlu memberi warna dalam rangka pengembangan desa agar memiliki banyak varian produk dan jasa.
Punk!
Dalam kamus KBBI daring, punk memiliki arti pemuda yang ikut gerakan menentang masyarakat yang mapan, dengan menyatakannya lewat musik, gaya berpakaian, dan gaya rambut yang khas. Istilah ini untuk mengambil sisi positif filosofi anak-anak punk. Mereka terlihat penuh percaya diri, memiliki style nyentrik dan khas. Bukan berarti desa-desa harus meniru fisik anak-anak punk seperti itu. Ambil sisi positifnya! Jadikan desa-desa memiliki ciri khas yang nyentrik, unik, menarik, dan percaya diri.
Selama ini desa dibiarkan berkelana dengan rutinitas harian yang itu-itu saja. Antara lain, rekam data penduduk, pelayanan pembuatan KK, E-KTP, domisili, layanan pernikahan, pencatatan kelahiran dan kematian, serta surat-surat keterangan lainnya. Rutinitas lainnya adalah rapat-rapat atau pertemuan rutin mulai tingkat RT/RW, dusun, dan tingkat desa. Apabila ada bantuan dana dari APBD atau lainnya, barulah ada kegiatan ekstra kemasyarakatan. Walaupun kenyataannya ada beberapa kegiatan sosial seperti kerja bakti, gotong royong, yang menampakkan bahwa desa itu mulai menggeliat bangun.
Selaras dengan program membangun Indonesia dari desa, maka ada banyak pihak yang perlu di-?Ping!?. Warga desa yang dikenal sebagai tokoh masyarakat, Ping! Pemuda dan pemudi dan segenap pengurus karang taruna desa, Ping! Ibu-ibu PKK RT, RW, desa, Ping! Jajaran perangkat desa, Ping! Pasukan Hansip, Ping! Semua pengurus Rukun Tetangga, Rukun Warga dan Dasa Wisma, Ping! Anak-anak remaja, Ping! Pemilik usaha warung makan, industri rumah tangga, salon, warnet, ruko, kantor instansi pemerintah, pabrik dan lainnya, Ping! Ta?mir masjid dan mushola, Ping! Tanpa kecuali, Ping! Panggil semuanya! Teriakkan kepada mereka ?Ayo, mbangun deso!?
