Bernas.id – ?Yang utama bukanlah menikahi orang yang kau cintai, tapi berusahalah mencintai orang yang kau nikahi. Karena dialah pilihan Tuhan untukmu.?
Entah telah berapa kali ungkapan tersebut mampir ke telinga kita. Sekilas pandang memang kalimat itu benar. Sempurna, tak ada yang salah.
Tapi, bukankah mencintai adalah sebuah keputusan? Keputusan untuk menambatkan sepotong hati pada potongan hati yang lain. Dengan harapan sepotong hati itulah yang akan menutup berbagai macam kerombengan hati kita.
Mustahil kita memutuskan untuk bersikap sebelum ada rasa yang bersemi di hati. Sedangkan kita sama-sama tahu bahwa datangnya cinta tak bisa kita terka sama sekali. Ia akan datang tanpa permisi. Bahkan tidak mempedulikan segala kondisi. Sekuat apapun benteng yang kita bangun pasti akan roboh juga ketika Allah telah mengaruniakan sebuah rasa yang bernama cinta. Karena bagaimanapun, cinta adalah fitrah yang tak akan bisa dihalangi oleh apapun.
Buya Hamka mengatakan, ?Cinta laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih, dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlainan menerimanya.? Setiap hati tentu punya caranya sendiri. Beda cara mengekspresikan, maka akan beda pula dentaman rasanya.
Sebuah kesalahan besar yang harus diwaspadai adalah mencintai sebelum pada waktunya. Menurut ajaran Islam, hanya dalam bingkai pernikahan saja dua cinta boleh berpadu padan. Bahkan Allah menjanjikan sempurnanya separuh agama seseorang dengan pernikahan.
Ungkapan, ?Yang utama bukanlah menikahi orang yang kau cintai,? adalah konsekuensi dari sebuah kesalahan yang rawan terjadi. Memutuskan untuk mencintai seseorang sebelum ijab qabul diucapkan adalah akar permasalahannya.
Maka, menjaga hati adalah kunci utama agar terhindar dari urusan hati nan pelik. Benteng pertahanan yang roboh oleh terjangan rasa cinta jangan dibiarkan begitu saja. Jangan biarkan air bah membanjiri segala penjuru. Lakukan upaya untuk mencegah agar cinta tak merekah sebelum waktunya. Tak ada manusia yang sempurna, wajar saja jika benteng pertahanan pernah roboh dikarenakan oleh beberapa hal. Namun jangan pernah sia-siakan waktu, bersegeralah bangun kembali benteng itu secepat mungkin.
Cinta tak pernah salah, tapi sikap yang kita pilih bisa saja salah.
Memang Allah yang mengaruniakan rasa cinta di dalam hati manusia. Namun kita sendirilah yang harus menentukan sikap untuk menghadapinya. Memutuskan untuk mencintai saat itu juga tanpa mempedulikan dosa atau ikhlas melepas dengan mengharapkan pahala karena memang belum waktunya.
Bunga yang kuncup pasti akan mekar pada waktunya. Buah juga akan ranum dan berubah menjadi manis pada waktunya. Begitu pula cinta yang merupakan fitrah tentu juga punya waktu untuk merekah sebagai penyempurna rumah tangga.
Bunga yang diambil paksa sebelum waktunya mekar tentu mekarnya tak akan sesempurna yang mekar di pohon. Buah yang dipetik paksa sebelum ranum juga tak akan semanis buah yang masak di pohon. Cinta yang dipaksa merekah sebelum waktunya tentu rasanya juga tak pernah menjadi sempurna.
Maka menjaga hati sebelum terjadi ijab qabul adalah hal yang tak boleh disepelekan. Agar cinta hanya sempurna merekah ketika telah halal dengan dia yang Allah pilihkan.
