Bernas.id – Di zaman millenial saat ini, remaja semakin memiliki dunianya sendiri. Mulai dari hangout dengan temannya, aplikasi gadget yang makin bikin anteng dengan dunia mayanya, sampai tempat hiburan yang menawarkan keasyikan tersendiri bagi remaja. Makin beragamnya hiburan remaja, memunculkan beragam masalah pula, terutama masalah sosialnya. Tidak sedikit remaja yang galau dikarenakan masalah dengan sahabat atau teman dekatnya, masalah dengan orang tuanya, dan masalah lainnya.
Itulah remaja dengan segudang kegalauannya yang tidak lain berstatus sebagai murid. Dengan munculnya remaja zaman now, bukan berarti seorang guru tidak bisa menjadi guru zaman now. Guru yang bisa menjadi orang tua kedua bagi muridnya di sekolah.
Lalu bagaimana caranya agar siswa kita tetap berprestasi dalam akademis, walaupun tantangan di luar jauh lebih berat. Memaknai dasar mengajar Ki Hajar Dewantora dengan asasnya Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Karso Mbangun Karso, dan Tut Wuri Handayani, kita akan mengangkat 3M, apakah itu? Cekidot!
1. Motivator
Jadilah guru yang selalu memberikan motivasi, spirit dalam hal apapun. Kondisi remaja yang labil, membuat semangatnya pun naik turun. Dalam hal ini, seseorang harus terus memberikan hal positif. Maka dari itu posisikan guru sebagai motivator. Sehingga murid selalu tumbuh dengan karya yang positif.
2. Menemani
Ingat, murid yang datang ke sekolah itu adalah seorang remaja yang membawa ?masalah?. Masalah di sini diartikan sebagai segala sesuatu yang mengganggu pikirannya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mulai dari masalah dengan orang tuanya, temannya, atau bisa jadi kesulitan dalam pelajaran.
Dalam situasi seperti itulah, dibutuhkan sosok orang dewasa yang menjadi problem solver. Maka sebagai seorang guru bisa memposisikan sebagai teman. Teman yang siap mendengarkan keluh kesahnya, teman yang siap ikut berbahagia, teman yang bisa memberikan solusi terbaik untuk setiap masalahnya. Gunakan bahasa ?teman? sebagai pendekatan untuk murid. Sehingga murid tidak merasa canggung meluapkan semua perasaannya.
3. Model
Model di sini bukan diartikan sebagai seseorang yang berjalan di atas catwalk. Model diartikan sebagai seseorang yang selalu memberikan contoh yang baik. Di posisi ini guru bisa ?memarahi? muridnya sebagai bentuk pelajaran. Dengan posisi ini juga, murid tetap memosisikan gurunya sebagai orang yang berwibawa di hadapannya.
Namun, sebagai seorang manusia, guru juga tidak terlepas dari masalah kehidupannya, meski begitu, kegalauan seorang guru tidak baik ditampakkan ke muridnya. Apa jadinya seorang murid yang melihat guru di depannya terlihat murung? Atau apa jadinya murid kita mengenal guru sebagai seseorang yang tidak taat aturan? Sebaik-baik model adalah seseorang yang selalu memberikan inspirasi dan contoh yang baik bagi orang lain.
.jpg)