Bernas.id ? Pernah menjadi korban penindasan tidak lantas bisa dijadikan pembenaran untuk menindas golongan lain. Sayangnya hal itulah yang terjadi pada kelompok Yazidi di Irak Utara. Organisasi kemanusiaan Human Right Watch (HRW) menyatakan kalau prajurit Yazidi melakukan penculikan dan pembunuhan kepada 52 orang warga sipil awal tahun ini.
Menurut kerabat korban, peristiwa tersebut terjadi saat mereka sedang mengungsi menghindari perang antara ISIS melawan kelompok paramiliter PMF di sebelah barat Mosul. Awalnya mereka sedang menaiki konvoi mobil milik PMF yang mengangkut warga sipil ke arah Tel Afar.
Namun di tengah-tengah perjalanan, beberapa buah mobil yang mengangkut 52 warga sipil keluar dari konvoinya dan pergi ke arah lain. Keberadaan mobil beserta para penumpangnya tersebut tidak diketahui lagi sejak itu.
Anggota PMF yang lain kemudian melakukan investigasi terpisah dengan dibantu oleh warga Yazidi lokal. Hasilnya ia menemukan empat buah kuburan massal. Menurut penasihat hukum untuk kelompok Yazidi yang tergabung dalam PMF, eksekusi massal tersebut dilakukan karena prajurit Yazidi merasa kalau korban adalah ?anjing yang pantas mati?.
?Di saat perang darat melawan ISIS mereda di Irak, aparat keamanan negara harus mengalihkan fokusnya untuk mencegah terjadinya aksi balas dendam dan menegakkan hukum. Kekejaman yang pernah menimpa Yazidi di masa silam tidak lantas menjadi pembenaran bagi angkatan bersenjatanya untuk melakukan kekejaman kepada kelompok lain,? kata Lama Fakih selaku direktur HRW untuk wilayah Timur Tengah.
PMF merupakan kelompok paramiliter yang beranggotakan mayoritas Syiah. Meskipun kelompok ini berada di luar kendali pemerintah Irak, pemerintah tetap mengakui kelompok ini sebagai kelompok yang terkait dengan pemerintah atas kontribusinya dalam perang melawan ISIS. Sejak awal tahun ini, penduduk Yazidi juga mendirikan kelompok bersenjatanya sendiri yang berada di bawah naungan PMF.
