Bernas.id – Produktivitas seseorang tentu meningkatkan kadar kebahagiaannya, namun menjadi manusia yang produktif bukan hal yang mudah, butuh usaha yang tekun. Menurut Reno Anugerah Pratama, seorang motivator muda bahwa pengertiannya memang sangat luas, banyak penafsiran. Berikut di antaranya:
Kerja keras adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, sekuat daya dan tenaga, penuh semangat, pantang menyerah, untuk mencapai hasil terbaik, terlalu fokus pada pekerjaan, hingga tak punya waktu dan energi lagi untuk melakukan kegiatan yang lain. Dan biasanya kerja keras ini hanya mengandalkan otot
Kerja cerdas adalah kerja yang tidak hanya mengandalkan otot, namun juga menggunakan otak, bisa berpikir kreatif dan inovatif, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan waktu yang efektif, sehingga masih memiliki waktu dan energi untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan yang lainnya. Dan biasanya kerja cerdas ini dimiliki oleh kaum intelektual atau ilmuwan. Jadi, bekerja cerdas yaitu pandai menangkap peluang, meminimalisir risiko dan lihai mencari solusi untuk penyelesaiannya.
Penting untuk memadukan keduanya agar efektif setiap waktu yang dimiliki dan kita bisa memanajemennya dengan baik sehingga produktivitas akan meningkat.
Begini tips agar dapat menyandingkan kerja keras dan kerja cerdas:
- Miliki dasar kenapa kita bekerja, lalu selalu evaluasi diri dalam berbagai aktivitas yang dilalui, bekerja penuh semangat, hindari aktivitas yang kurang penting dalam hidup.
- Niatkan kerja keras dan kerja cerdas karena Allah. Laksanakan tugas dengan baik, karena betapa besarnya pahala di dalamnya. Bila sedang lemah, bersemangatlah, bergaul dan meminta suntikan semangat dari orang-orang terdekat, menghadiri majelis ilmu dan perbanyaklah berdoa kepada Allah.
Lalu bagaimana seandainya kerja keras dan kerja cerdas belum dapat kita laksanakan? Maka lakukanlah perenungan atas kegiatan dan kehidupan kita selama ini. Bergurulah dengan ahlinya, banyak ikut ngaji, seminar, training, banyak membaca. Terutama bersemangat membaca Alquran dan terjemahannya, buku ilmu pengetahuan dan motivasi. Rutinkan hal ini meski pada awalnya mungkin akan terasa sulit dilaksanakan, karena motivator utama adalah diri sendiri.
