Bernas.id – Jangan keliru dulu karena ritual yang dimaksud dalam tulisan ini bukanlah aktivitas ibadah melainkan kegiatan rutin yang seolah tabu untuk ditinggalkan. Tahu bukan? begitu banyak ritual tahunan yang tampak di depan mata kita mulai dari ritual kelahiran, kematian, pernikahan, kemerdekaan dan seabrek momen bersejarah bagi manusia kekinian.
Pada dasarnya merupakan fitrah manusia yang berakal untuk senantisa mengambil pelajaran dari peristiwa yang telah lalu, sehingga peristiwa bersejarah lazim bagi manusia untuk senantiasa mengenang hingga mengabadikannya dalam peringatan-peringatan tertentu. Pada saat yang sama, hadirnya agama sebagai pedoman hidup tentunya bukan menjadi perkara yang tidak saling beririsan dengan urusan kenang-mengenang dan peringatan tersebut.
Islam misalnya memberikan pedoman perihal perayaan yang diakuinya untuk diamalkan oleh umat Islam yaitu pada 3 hari; iedul adha, iedul fitri dan hari jum'at sebagai 'ied kecil' . Bagi seorang Muslim perayaan atau peringatan 3 hari tersebut ditandai dengan berkumpulnya umat di tempat lapang sembari menggelar salat berjamaah dengan seabrek sunnah-sunnah khusus di hari tersebut. Karenanya, selain dari 3 hari perayaan tersebut tidaklah diakui sebagai perayaan yang dianjurkan Islam.
Namun demikian bagi seorang Muslim tidaklah menjadi dosa sekiranya mengenang momen-momen bersejarah tertentu baik dalam kehidupan pribadinya maupun dalam konteks keumatan yang lebih luas lagi sepanjang dalam koridor introspeksi, refleksi untuk sebuah upaya konstruksi diri maupun masyarakat. Mengenang kelahiran misalnya menjadi perkara positif jika dijadikan sebagai momentum introspeksi diri sejauh apa perbaikan diri dan peningkatan kualitas diri? ketimbang melakukan ritual foya-foya berbalut kegembiraan. Momentun kelahiran seharusnya direfleksikan sebagai titik start baru berkurangnya jatah hidup dengan bertambahnya usia di dunia ini. Lebih luas dari momentum kelahiran, sebagaimana yang sedang dipersiapkan sejumlah besar masyarakat hari ini adalah menanti Tahun Baru.
Tak pandang bulu, tua, muda, instansi negeri maupun swasta punya seabrek ritual tahunan. Arus kekinian yang semestinya bisa di remake. Bergantinya tahun seharusnya menjadi momentum introspeksi berjamaah bagi bangsa ini. Pun sebagai momen refleksi bangsa untuk merealisasikan cita-cita bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Bagaimana upaya dan kesiapan bangsa ini, rakyat dan abdi negara kedepannya untuk menangkal berbagai upaya penjajahan terselubung melalui jebakan hutang dan investasi atas bangsa yang berlimpah kekayaan ini. Itulah sebuah konstruksi baru bangsa merdeka di awal tahun.
Indonesia, move up!
