Bernas.id ? Pemerkosaan adalah hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang pria, terlebih jika yang melakukannya adalah tentara yang seharusnya bisa menjadi pelindung bagi negara dan rakyatnya. Namun di Myanmar, tentara Myanmar ternyata malah melakukan aksi pemerkosaan secara sengaja dan sistematis kepada warga etnis Rohingya.
F adalah contoh wanita Rohingya yang mengalami peristiwa mengenaskan tersebut. Awalnya sekelompok tentara mendatangi rumah F dan kemudian mengikat suaminya. Mereka lalu merobek baju F sebelum kemudian memperkosanya. F mencoba melawan, namun ia tak berdaya karena para tentara tadi memegangi dirinya sambil memukulinya dengan tongkat.
Suami F sempat berhasil membebaskan diri dan berlari keluar untuk mencari pertolongan. Namun perjuangannya berakhir naas karena ia kemudian ditembak dan digorok hingga tewas. Setelah para tentara tadi selesai memperkosa F, mereka kemudian membawa keluar F dan membakar rumah bambu yang ditempatinya.
Seolah penderitaannya masih belum cukup, F kembali mengalami pemerkosaan tiga bulan kemudian saat ia menumpang di rumah tetangganya. Kali ini wanita yang memberinya tumpangan tempat tinggal juga ikut menjadi korban pemerkosaan. Merasa kalau tinggal di Myanmar sudah tidak lagi memungkinkan, mereka memutuskan untuk mengungsi ke Bangladesh dengan hanya berjalan kaki.
F dan rekannya tersebut bukanlah satu-satunya wanita yang menjadi korban pemerkosaan tentara Myanmar. Wartawan Associated Press sempat melakukan wawancara dengan 29 wanita berbeda yang semuanya menjadi korban kekerasan seksual. Untuk menjaga keselamatan mereka beserta keluarganya, para wanita yang diwawancarai hanya memberikan inisial nama pertamanya.
Temuan serupa juga didapat oleh tenaga medis di Bangladesh. Menurut pengakuan tim dokter dari Medecins Sans Frontieres, mereka sudah merawat 113 korban pemerkosaan sejak bulan Agustus. Yang lebih memprihatinkan adalah sepertiga di antara mereka bahkan diketahui belum berusia 18 tahun.
Kasus pemerkosaan oleh militer Myanmar sendiri diketahui bukan merupakan hal yang baru dan nampaknya memang sengaja dilakukan untuk mengintimidasi warga lokal. Sebelum menjadi pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi mengklaim kalau militer Myanmar menggunakan pemerkosaan sebagai senjata untuk menakut-nakuti etnis minoritas.
Namun di saat dunia internasional tengah menyoroti kasus-kasus kejahatan kemanusiaan di negara bagian Rakhine, pemerintahan Suu Kyi justru enggan mengakui kalau pemerkosaan memang benar-benar terjadi. Menteri Perbatasan Rakhine Phone Tint balik menuding kalau pemerkosaan tidak mungkin terjadi karena wanita-wanita yang menjadi korban secara fisik tidak cukup memikat untuk diperkosa.
